Para dosen dan mahasiswa Telkom University berfoto bersama para ibu Kelurahan Manggahang usai pelatihan “Literasi Media Sosial dan Komunikasi Harmoni Keluarga”, menunjukkan semangat kebersamaan untuk membangun komunikasi keluarga yang lebih sehat dan saling memahami. (Foto: Ist)BANDUNG | TD — Di Kelurahan Manggahang, Baleendah, sebuah ruang sederhana pada Selasa pagi itu, 28 Oktober 2025, berubah menjadi tempat pulang bagi banyak hati yang lelah. Para ibu rumah tangga duduk berdampingan, sebagian membawa cerita, sebagian lagi membawa diam yang sudah terlalu lama menempel di rumah tangga mereka.
Mereka datang untuk mengikuti pelatihan “Literasi Media Sosial dan Komunikasi Harmoni Keluarga”—sebuah pengabdian masyarakat dari dosen dan mahasiswa Program Studi Digital Public Relations Telkom University. Di balik judul formal kegiatan ini, sebenarnya ada kerinduan yang sama: keinginan untuk kembali berbicara, kembali didengarkan, dan kembali memahami orang yang hidup satu rumah dengan mereka.
Dipimpin oleh Dr. Dedi Kurnia Syah Putra bersama Dr. Sri Wahyuning Astuti dan Bintar Mupiza, kegiatan ini membuka ruang aman bagi para ibu untuk sekadar bernapas lebih lega. Terutama ketika Dr. Sri mulai berbicara tentang makna komunikasi dalam sebuah pernikahan.
“Menikah itu 70 sampai 90 persen isinya komunikasi,” ujar Dr. Sri pelan, namun tegas. “Kalau ada yang mengganggu, jangan diam. Diam itu bisa membunuh hubungan pelan-pelan. Gunakan ‘aku’, bukan ‘kamu’. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hati.”
Ucapan itu seperti mengetuk sesuatu dalam diri para ibu. Beberapa tersenyum, beberapa menghela napas panjang, dan beberapa lainnya menahan air mata yang nyaris jatuh. Komunikasi, yang dulu begitu mudah dilakukan di awal pernikahan, kini terasa seperti tugas berat ketika rutinitas, masalah, dan kesibukan menumpuk tanpa kompromi.
Namun pagi itu, suasana berubah. Tawa kecil mulai terdengar. Cerita demi cerita muncul, satu per satu, seperti pintu yang akhirnya dibuka setelah lama tertutup.
Seorang ibu, dengan mata berbinar yang tak bisa menyembunyikan rasa bangganya, bercerita tentang suaminya. “Usia pernikahan saya sudah 20 tahun,” katanya. “Suami saya itu malaikat penolong. Sampai sekarang, dia masih ingat bagaimana dulu jatuh cinta sama saya. Saya bertahan karena saya juga cinta.”
Cerita sederhana itu membuat ruangan terasa hangat. Tapi tidak semua kisah membawa kehangatan yang sama. Seorang ibu lainnya berbicara dengan suara bergetar, membiarkan luka lamanya mengintip sebentar.
“Sudah lama peristiwa penghianatan itu… saya sudah mencoba hidup baru,” ujarnya. “Tapi kalau ingat, masih ada rasa sakit.”
Ruangan itu seketika menjadi hening. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, tetapi karena rasa saling memahami muncul begitu saja. Bahwa setiap rumah tangga membawa ceritanya sendiri—yang manis, yang pahit, dan yang belum selesai diperbaiki.
Dari semua cerita itu, satu pesan kembali ditegaskan oleh para dosen: komunikasi bukan sekadar bicara. Ia adalah cara menjaga masing-masing dari tenggelam dalam sunyi yang menyakitkan. Ia adalah langkah kecil untuk memeluk kembali orang yang pernah dipilih untuk menemani hidup.
Pelatihan hari itu ditutup dengan foto bersama. Namun yang lebih penting dari gambar yang diabadikan adalah harapan yang ikut lahir: harapan bahwa sepulang dari ruangan itu, para ibu membawa sedikit keberanian baru untuk membuka percakapan di rumah—meski sulit, meski pelan-pelan.
Karena keluarga yang harmonis tidak selalu berarti keluarga tanpa masalah. Ia berarti keluarga yang tetap mau berbicara, tetap mau mendengarkan, dan tetap ingin memperbaiki jalan pulang satu sama lain. (*)