Ketegangan India-Pakistan 2025 Kembali Memanas Usai Serangan Militan di Kashmir

waktu baca 3 minutes
Kamis, 19 Jun 2025 17:29 0 Patricia Pawestri

DUNIA | TD – Pada Mei 2025, konflik bersenjata kembali terjadi dalam ketegangan India-Pakistan setelah serangan teroris di wilayah Pahalgam, Kashmir, yang membunuh sedikitnya 27 orang.  Pemerintah India memulai serangan balasan militer besar-besaran setelah menuduh kelompok militan yang berbasis di Pakistan bertanggung jawab atas serangan tersebut.  Terjadi eskalasi konflik hingga bentrokan terbuka di sepanjang Garis Kontrol (LoC), perbatasan de facto yang memisahkan dua negara di wilayah Kashmir.

India memulai Operasi Sindoor melalui Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Tujuannya adalah menargetkan markas militan di Kashmir dan wilayah Pakistan yang dikuasai Pakistan.  Pakistan kemudian melakukan Operasi Bunyan-ul-Marsoos sebagai tanggapan, menyerang posisi India dengan rudal jarak menengah, drone, dan artileri berat.

Selain itu, kedua negara memanfaatkan sistem pertahanan udara canggih seperti S-400 (India) dan HQ-9 (Pakistan).  India menyebut kelompok militan seperti Lashkar-e-Taiba dan Jaish-e-Mohammed sebagai pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut, meskipun Pakistan membantah tuduhan tersebut.

Alur Konflik Antara India – Pakistan

Pada 22 April 2025, ketegangan India-Pakistan berawal dengan serangan teroris terjadi di Pahalgam.  Militer kedua negara memulai eskalasi pada 24 April dan mencapai puncaknya pada 7 Mei 2025 India meluncurkan Operasi Sindoor, menghancurkan kamp militan di Pakistan. Kemudian pada 10 Mei 2025 Pakistan membalas dengan Operasi Bunyan-ul-Marsoos, menyerang wilayah India di LoC., ketika mereka melancarkan serangan udara dan artileri satu sama lain. Pada 10 Mei 2025, komunikasi darurat tingkat tinggi antar militer kedua negara memungkinkan gencatan senjata baru.

Konflik terkonsentrasi di area Jammu dan Kashmir, terutama di sepanjang Line of Control (LoC). Pakistan menyerang distrik perbatasan Poonch, Rajouri, dan Baramulla. Di sisi lain, India menargetkan lokasi militan di wilayah Azad Kashmir, yang merupakan wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan.  Tembakan artileri dan serangan drone mengganggu beberapa wilayah sipil.

Pakistan meluncurkan rudal balistik Fateh dan menembaki titik-titik militer India di Gujarat, Punjab, Rajasthan, Jammu & Kashmir, sebagai respons terhadap serangan India. Kerusakan yang tercatat mencakup markas brigade, pos pengamatan dan fasilitas udara di lokasi seperti Uri dan Rajouri. Pakistan mengerahkan 300–400 drone bersenjata serta rudal Fateh dan rudal udara-ke-udara JF-17 untuk menyerang berbagai lokasi strategis di India, termasuk instalasi militer, bandara, dan sistem pertahanan S‑400 di Adampur serta pangkalan udara di Adampur, Udhampur, Pathankot, Suratgarh, Sirsa, Bathinda, Halwara, termasuk juga di wilayah Jammu dan Kashmir.

Saling Membalas Serangan, Sipil Menjadi Korban

Pakistan  menanggapi dengan serangan drone dan rudal balistik, serta serangan artileri ke wilayah India, setelah India melancarkan serangan presisi menggunakan jet Rafale dan rudal BrahMos.  Lebih dari 70 orang tewas dalam pertempuran ini, termasuk warga sipil.  Ribuan orang melarikan diri dari zona konflik.  Pada 10 Mei, setelah empat hari pertempuran sengit, kedua negara mencapai konsensus untuk gencatan senjata, dengan fasilitas dari jalur komunikasi militer langsung.  Konferensi diplomatik dan deeskalasi pun menjadi permintaan komunitas internasional, termasuk PBB, AS, dan China.

Perdamaian Asia Selatan masih sangat terancam oleh ketegangan India-Pakistan tahun 2025.  Meskipun gencatan senjata telah dicapai, ketegangan akan berlanjut selama masalah Kashmir belum diselesaikan dengan cara yang adil dan damai.  Untuk menghindari perang terbuka antara dua negara bersenjata nuklir ini, diplomasi dan tekanan internasional sangat penting.

Penulis: Andi Iksan, Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Editor: Patricia

 

LAINNYA