Mohamad Romli. (Foto: Dok.Pribadi)OPINI | TD — Ada satu kebohongan manis yang paling sering kita telan bulat-bulat:
“Jadilah dirimu sendiri.”
Kalimat itu terdengar indah, tetapi jarang benar-benar bekerja dalam kenyataan. Kita mengulangnya seperti mantra—bahkan memakainya sebagai caption Instagram—namun jarang bertanya: diri yang mana?
Diri yang dibentuk keluarga? Diri yang dibentuk trauma? Diri yang dibentuk media sosial? Diri yang terbentuk dari algoritma, promosi, tekanan ekonomi, dan tuntutan moral masyarakat?
Ironisnya, ketika kita merasa “otentik”, sering kali itu hanya karena kita sudah berhasil menginternalisasi konstruksi sosial yang sama dengan orang lain.
Mari bicara jujur:
identitas manusia bukan barang bawaan lahir, melainkan barang jadi hasil pabrik bernama masyarakat.
Kita suka membayangkan diri sebagai individu merdeka. Padahal sejak kecil kita sudah digiring mengikuti jalur nilai yang bahkan tidak kita pilih. Apa yang kita anggap benar atau salah, sopan atau tidak, wajar atau tabu — semua itu disuplai melalui pendidikan, keluarga, agama, negara, dan budaya.
Ini bukan teori rumit. Ini fakta sehari-hari:
Dan semua itu membangun identitas kita tanpa kita sadari. Kita pikir kita memilih, padahal pilihan kita sudah ditentukan dalam katalog sosial yang sangat sempit.
Dalam politik dan ekonomi, struktur ini bahkan lebih kuat.
Mau secerdas apa pun kita, pilihan hidup kita tetap ditentukan oleh akses, kelas sosial, dan peluang yang tidak merata. Sistem menentukan arah hidup lebih banyak dari tekad pribadi.
Di sinilah posisi saya tegas:
Manusia dibentuk, tetapi tidak dipasung.
Ada ruang dalam diri manusia yang tidak bisa dijangkau sistem sebesar apa pun: ruang refleksi. Ruang itu kecil, sunyi, dan kadang menyakitkan. Tetapi justru di sanalah manusia bisa mengambil jarak dari konstruksi luar.
Saat kita mempertanyakan nilai keluarga, kita sedang menggunakan ruang itu.
Saat kita menolak standar sukses versi masyarakat, kita sedang masuk ke ruang itu.
Saat kita diam dan merenung di tengah hiruk-pikuk, kita sedang merawat ruang independen yang membuat kita tetap manusia.
Ruang ini bukan ruang bebas mutlak — tetapi cukup untuk membuat kita bisa memilih arah, meski tidak bisa memilih semua jalan.
Kesadaran manusia bergerak bukan karena kita labil, tetapi karena kita terus bernegosiasi dengan dunia. Kita menafsir ulang masa lalu, belajar dari pengalaman, dan membentuk orientasi baru.
Kesadaran yang bergerak membuat kita tidak terjebak pada satu identitas statis yang dibekukan oleh masyarakat.
Inilah gerak yang sering tidak kita sadari:
Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas.
Tetapi tidak ada pula manusia yang sepenuhnya tunduk.
Kita hidup dalam tarikan permanen antara dunia luar dan dunia batin.
Di era digital, industri identitas bekerja lebih cepat dari sebelumnya. Algoritma memetakan selera kita sebelum kita memahami diri sendiri. Media sosial membentuk standar baru setiap minggu. Masyarakat menuntut kita untuk “jadi diri sendiri”, tetapi pada saat yang sama menjual seribu template diri yang harus kita pilih.
Dan yang paling ironis?
Kini bukan hanya negara atau budaya yang membentuk kita, tetapi gadget di tangan.
Jika kita tidak menyadari bagaimana struktur bekerja, identitas kita akan disetir oleh tren, ketakutan, dan keinginan yang bukan milik kita.
Menurut penulis, kemerdekaan manusia tidak dimulai dari teriakan “aku bebas”, tetapi dari pengakuan jujur:
bahwa kita dibentuk oleh dunia, tetapi kita punya jarak reflektif untuk memilih bagaimana merespons dunia itu.
Kesadaran yang bergerak adalah bentuk paling jujur dari kebebasan:
bukan kebebasan absolut, tetapi kebebasan untuk menavigasi hidup di tengah struktur yang terus menuntut, memaksa, dan mengarahkan.
Kita tidak pernah 100% menjadi diri sendiri — dan itu bukan masalah.
Yang penting adalah bagaimana kita menggerakkan kesadaran, bukan bagaimana kita mengklaim identitas.
Identitas bukan tujuan akhir.
Ia adalah negosiasi yang tidak pernah berhenti.
Dan di situlah letak kemanusiaan kita.
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur Tangerangdaily.id, penikmat teks filsafat dekonstruksi. (*)