Achmad Fatir Hasanudin. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | TD – Fenomena live streaming di Indonesia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, menjadi ruang interaksi sosial sekaligus sumber pendapatan bagi para streamer. Penulis mengamati bahwa empati—nilai dasar kemanusiaan—sering kali dijadikan alat untuk menarik donasi dari penonton. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah empati kini berubah menjadi komoditas digital yang bersifat transaksional?
Pada awalnya, live streaming berfungsi sebagai sarana berbagi cerita, hiburan, dan dukungan sukarela. Namun, seiring waktu, penulis menemukan tren manipulasi emosional yang semakin mengkhawatirkan, di mana kesedihan, penderitaan, atau perjuangan ditampilkan sebagai konten untuk menarik donasi. Nilai-nilai seperti empati, solidaritas, dan kepercayaan pun berpotensi dieksploitasi demi keuntungan finansial.
Fakta Kasus dan Realitas Manipulasi
Beberapa kasus yang muncul menunjukkan pola manipulasi yang terencana. Misalnya, seorang streamer tampak menggunakan kruk dan menampilkan disabilitas palsu untuk meraih donasi selama siaran langsung. Dalam kasus lain, seorang ibu dan anak kecil menangis di live streaming untuk meminta hadiah virtual, padahal keadaan sebenarnya direkayasa. Teknik dramatisasi seperti pencahayaan, caption emosional, dan latihan menangis digunakan untuk meningkatkan jumlah donasi.
Lebih jauh, terdapat indikasi kerja sama antara beberapa streamer dan manajemen bakat yang menyusun narasi tragedi secara strategis. Manipulasi ini tidak hanya mengeksploitasi rasa iba penonton, tetapi juga menyinggung nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi, termasuk kejujuran dan martabat manusia.
Analisis Moral, Etik, dan Perspektif Pancasila
Dari perspektif moral dan etik, praktik ini menandakan pergeseran nilai di masyarakat digital. Empati yang seharusnya muncul secara tulus menjadi instrumen pemasaran. Penulis menyoroti beberapa sila Pancasila yang relevan:
Fenomena ini menunjukkan bahwa kerusakan moral tidak muncul dari satu faktor, tetapi merupakan efek berantai antara teknologi, perilaku pengguna, dan lemahnya internalisasi nilai etika. Generasi muda, meski memahami Pancasila secara tekstual, sering kesulitan menerapkannya dalam praktik digital yang kompleks.
Rekomendasi Solusi Konkret
Penulis menekankan pentingnya pendekatan yang menyentuh perilaku nyata, bukan sekadar teori. Beberapa solusi yang dapat diterapkan antara lain:
Tujuan utama dari langkah-langkah ini adalah membangun kembali kepercayaan dan empati secara autentik dalam masyarakat digital.
Kesimpulan
Penulis menegaskan bahwa ancaman utama bukanlah teknologi atau platform streaming itu sendiri, melainkan normalisasi praktik manipulasi. Empati yang dijadikan alat perdagangan digital menandakan pergeseran nilai kemanusiaan, di mana kesedihan dan kebaikan dapat diperlakukan sebagai produk pasar.
Untuk menjaga integritas sosial dan moral, Pancasila harus diterapkan sebagai panduan hidup, bukan sekadar warisan yang dihafal atau pajangan simbolik. Penulis menekankan bahwa masyarakat perlu menentukan apakah ingin mempertahankan empati sebagai nilai sakral atau mengubahnya menjadi komoditas digital demi popularitas dan keuntungan sesaat.
Penulis: Achmad Fatir Hasanudin, Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa. (*)