Dari Meja Billiard Binong ke Panggung Nasional: Kisah Hadin Aulia Rahman yang Tak Mau Berhenti Bermimpi

waktu baca 4 minutes
Minggu, 2 Nov 2025 19:16 0 Nazwa

SOSOK | TD – Di sudut kawasan Binong, Kabupaten Tangerang, seorang pemuda berusia 22 tahun tengah menata langkah menuju mimpinya. Dialah Hadin Aulia Rahman, sosok sederhana yang kini dikenal di kalangan pecinta billiard lokal. Siapa sangka, perjalanan olahraganya berawal bukan dari ambisi besar, melainkan dari rasa penasaran saat bermain bersama teman-teman di usia 16 tahun.

Awalnya hanya coba-coba, kini menjadi panggilan hidup yang ia perjuangkan dengan penuh dedikasi.

Tumbuh dari Keluarga Sederhana yang Mengajarkan Nilai Besar

Lahir di Tangerang pada 22 April 2003, Hadin tumbuh dalam keluarga yang menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan pentingnya menghargai proses. Meski tak berasal dari keluarga atlet, dukungan keluarganya menjadi kekuatan utama di balik setiap langkahnya.

Sejak mulai serius berlatih pada usia 18 tahun, Hadin menyadari bahwa semangat dan restu orang tua adalah “bahan bakar” terkuat. Di saat fasilitas terbatas dan kompetisi ketat, keluarganya tetap menjadi tempatnya pulang dan sumber motivasi untuk terus berjuang.

Jatuh Cinta pada Ketenangan dan Strategi

Berbeda dari olahraga lain yang mengandalkan tenaga dan kecepatan, billiard menuntut ketenangan, fokus, dan kecerdasan strategi. Inilah yang membuat Hadin jatuh cinta pada olahraga ini.

“Billiard bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling tenang dan cermat mengambil keputusan,” ujarnya dilansir Minggu, 2 November 2025.

Karakternya yang kalem dan analitis membuatnya merasa cocok dengan dunia billiard. Titik balik datang saat ia meraih kemenangan pertama di sebuah turnamen lokal. Sejak itu, Hadin sadar bahwa bakatnya bukan kebetulan — ia punya peluang untuk berkembang lebih jauh.

Hadin Aulia Rahman saat meraih Juara 1 dalam turnamen Pentagon Billiard (Dok. Pribadi)

Kini, setelah empat tahun berlatih konsisten, ia sudah mengikuti berbagai turnamen di Tangerang, Jakarta, Bandung, Banten, hingga kawasan Jabodetabek. Kerap masuk babak semifinal dan final, namun baginya, prestasi sejati bukan sekadar trofi, melainkan konsistensi untuk terus berkembang.

Latihan Keras di Tengah Keterbatasan

Setiap hari, Hadin meluangkan 2 hingga 5 jam untuk berlatih — mulai dari teknik dasar, kontrol bola, hingga sparring dengan pemain lain. Ia biasa berlatih di beberapa billiard hall lokal di Binong, Curug, dan Tangerang.

Namun perjuangan menuju profesional tidaklah mudah. Fasilitas yang terbatas dan dukungan finansial yang minim sering menjadi tantangan besar. Untuk membiayai latihan, ia mengandalkan uang pribadi, bonus kemenangan, dan sesekali dukungan dari teman serta komunitas.

“Kalau ingin maju, harus pintar atur waktu dan tetap semangat walau sarana belum ideal,” tuturnya.

Hadin juga banyak belajar dari pemain senior dan mentor yang ditemuinya di lapangan. Tapi ia percaya, pengalaman adalah guru terbaik. Setiap pertandingan, baik menang atau kalah, memberinya pelajaran baru tentang ketahanan mental dan strategi permainan.

Mental Juara ala Generasi Z

Sebagai bagian dari generasi muda, Hadin punya cara tersendiri menjaga fokus dan mental bertanding. Ia mempraktikkan teknik pernapasan, visualisasi jalur bola, dan kontrol emosi setiap kali berada di meja permainan.

“Kalah itu bukan akhir. Itu sinyal kalau masih ada yang harus saya perbaiki,” ujarnya tegas.

Ia tak terlalu memusingkan komentar orang. Ada yang mendukung, ada yang meragukan. Tapi bagi Hadin, yang penting adalah terus melangkah.

Mimpi Besar untuk Binong dan Indonesia

Hadin punya visi lima tahun ke depan yang jelas: tampil di panggung nasional, mengikuti turnamen besar, dan mengharumkan nama Binong serta Kabupaten Tangerang di dunia billiard Indonesia.

Ia berharap pemerintah daerah bisa memberi perhatian lebih kepada atlet lokal, terutama dalam hal fasilitas dan pembinaan yang terstruktur. Dengan dukungan itu, menurutnya, akan lahir lebih banyak atlet potensial dari daerah.

“Saya ingin membuktikan bahwa anak Binong juga bisa bersinar di tingkat nasional. Semua bisa, asal punya tekad dan mau berproses.”

Pesan untuk Generasi Muda

Bagi anak muda yang ingin menapaki jalannya, Hadin berpesan: jangan takut memulai, fokus pada proses, dan jangan menyerah.

Filosofi hidupnya sederhana namun dalam:

“Cinta pada proses, karena sesuatu yang diperjuangkan tidak akan mengkhianati hasil.”

Dari meja billiard sederhana di Binong, Hadin Aulia Rahman membuktikan bahwa mimpi besar tidak mengenal batas geografis maupun ekonomi. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk memulai dan tekad untuk terus melangkah.

Ia percaya, jika terus berlatih dan berkembang, suatu hari nanti ia akan berdiri di panggung nasional — bukan hanya sebagai pemain, tapi juga inspirasi bagi generasi baru dari kampung halamannya.

Penulis: Anisma Putri Oktavianti Rahayu
Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)

LAINNYA