Dakwah di Televisi dalam Lanskap Pendidikan Era Generasi Z

waktu baca 4 menit
Minggu, 12 Apr 2026 21:18 103 Redaksi

OPINI | TD — Generasi Z hidup dalam dunia yang bergerak cepat, visual, dan nyaris tanpa jeda. Mereka tumbuh bersama layar—bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang belajar, ruang identitas, sekaligus ruang pencarian makna. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan penting muncul: masihkah dakwah menemukan tempatnya? Atau justru ia sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih halus, lebih tersembunyi, namun jauh lebih berpengaruh?

Perubahan diri pada Generasi Z tidak selalu dimulai dari ceramah panjang atau nasihat formal. Ia bisa hadir dari potongan adegan, dialog sederhana, atau karakter yang terasa dekat dengan kehidupan mereka. Di sinilah televisi—meskipun telah berbagi panggung dengan media sosial—tetap memainkan peran penting sebagai medium penyampai nilai. Dakwah tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang kaku, tetapi menyelinap dalam narasi, dalam konflik cerita, bahkan dalam ekspresi emosi para tokohnya.

Sabda Nabi untuk menyampaikan walau satu ayat menemukan momentumnya di era ini. Maknanya menjadi semakin luas: bahwa setiap orang memiliki peluang untuk berdakwah melalui apa pun yang ia tampilkan—perkataan, sikap, bahkan karya. Generasi Z tidak hanya mendengar, mereka mengamati dengan kritis. Mereka cepat menangkap kepalsuan, tetapi juga mudah tersentuh oleh keaslian. Karena itu, dakwah di era ini tidak cukup hanya benar secara isi, tetapi juga harus jujur dalam penyampaian.

Metode dakwah yang dicontohkan Nabi terasa semakin relevan: mengajak tanpa menghakimi, merangkul tanpa merendahkan, serta berdialog tanpa memaksakan. Generasi Z cenderung menolak pendekatan yang otoriter, tetapi terbuka terhadap pendekatan yang humanis. Mereka ingin dipahami, bukan dihakimi; diajak berpikir, bukan dipaksa menerima. Di titik inilah dakwah harus bertransformasi menjadi ruang dialog, bukan sekadar monolog.

Televisi, melalui tayangan seperti FTV atau drama keluarga, sering kali menghadirkan figur-figur yang diam-diam menjadi guru kehidupan. Sosok dosen yang tegas namun adil, orang tua yang bijak dalam menghadapi konflik, atau tokoh muda yang berjuang menemukan jati diri—semuanya menyimpan pesan moral yang kuat. Keteladanan yang ditampilkan secara natural seperti ini sering kali lebih efektif daripada nasihat yang disampaikan secara langsung. Ia tidak terasa menggurui, tetapi mengalir dan membekas.

Namun di balik itu, Generasi Z juga menghadapi tantangan besar: krisis identitas di tengah banjir informasi dan budaya instan. Ukuran keberhasilan kerap bergeser menjadi sesuatu yang superfisial—jumlah pengikut, popularitas, gaya hidup, atau latar belakang keluarga. Nilai-nilai kedalaman, proses, dan perjuangan perlahan terpinggirkan. Padahal, sejarah telah mengajarkan bahwa pemuda besar lahir dari keberanian membangun dirinya sendiri—bukan sekadar mewarisi nama besar.

Di sinilah dakwah memiliki peran strategis dalam pendidikan Generasi Z. Ia tidak boleh hanya hadir sebagai ritual, tetapi harus menjadi fondasi dalam membentuk cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Generasi ini perlu diisi dengan ilmu pengetahuan yang luas, diperkuat dengan nilai spiritual yang kokoh, serta ditumbuhkan empatinya terhadap realitas sosial. Dakwah harus hadir dalam bahasa mereka: sederhana, jujur, dan relevan.

Lebih jauh, Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kreatif dan multitalenta. Mereka tidak takut mencoba, bereksperimen, dan mengeksplorasi banyak peran. Di sinilah peluang besar terbuka: dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui karya. Film, tulisan, konten digital, hingga peran dalam dunia seni—semuanya bisa menjadi medium penyampai nilai. Ketika kebaikan dikemas dalam bentuk yang menarik, ia tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan.

Pengalaman personal juga menjadi guru yang tak tergantikan. Ketika seseorang berani terjun dalam berbagai peran, belajar dari kegagalan, dan terus memperbaiki diri, di situlah dakwah menemukan bentuk paling autentiknya. Ia tidak lagi sekadar ajakan, tetapi menjadi contoh nyata. Generasi Z membutuhkan lebih banyak figur seperti ini—yang tidak hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi hidup di dalamnya.

Pada akhirnya, dakwah di era Generasi Z adalah tentang kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan arah. Ia harus mampu hadir di layar televisi, di genggaman ponsel, dan dalam kehidupan sehari-hari—tanpa kehilangan esensi nilai yang dibawanya. Sebab di tengah kebisingan informasi, satu pesan yang tulus, satu keteladanan yang nyata, bisa menjadi titik balik bagi seseorang untuk menemukan makna hidupnya.

Dakwah bukan lagi sekadar seruan dari mimbar, tetapi perjalanan bersama untuk saling menguatkan. Dan di era Generasi Z, perjalanan itu dimulai dari hal-hal kecil—yang jika dilakukan dengan tulus, justru memiliki dampak yang besar.

Wallahu a’lam bishawab.

Penulis : Dr. Zulkifli, MA (*)

LAINNYA