Budaya Instan dan Judi Online: Mengapa Nilai Pancasila Penting bagi Generasi Z?

waktu baca 6 minutes
Kamis, 27 Nov 2025 22:37 0 Nazwa

OPINI | TD — Dalam dua tahun terakhir (2024–2025), Indonesia menghadapi fenomena sosial yang berkembang menjadi krisis moral generasional: maraknya judi online yang menjerat anak muda dan remaja. Pada awalnya, persoalan ini dipandang sebagai masalah kriminal dan ekonomi keluarga. Namun, seiring meluasnya kasus dan semakin dalamnya dampak psikologis, sosial, dan moral pada generasi muda, judi online kini dipahami sebagai gejala kegagalan sistemik dalam membangun ketahanan nilai di era digital.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 2,1 juta konten, situs, dan aplikasi penunjang judi online telah diblokir dalam satu tahun terakhir. Meski demikian, platform tersebut terus bermunculan kembali dalam bentuk baru: situs kloning, aplikasi bayangan, promosi melalui media sosial, hingga penyamaran dalam konten hiburan. Dengan kata lain, pemblokiran bersifat reaktif, sementara ekosistem digital terus memproduksi ruang-ruang baru bagi aktivitas ilegal tersebut.

Salah satu kasus yang menyita perhatian publik terjadi pada akhir 2024 ketika seorang remaja berusia 17 tahun di Jawa Tengah mencuri uang orang tuanya hingga puluhan juta rupiah untuk bermain judi online. Peristiwa ini menjadi viral dan memicu diskusi nasional mengenai kesehatan mental, kerentanan psikologis remaja, dan minimnya pendidikan moral digital di dalam keluarga maupun sekolah.

Fenomena ini menembus ruang privat masyarakat: grup WhatsApp keluarga, forum gim daring, hingga ruang obrolan kelas. Bahkan, sebagian pelajar SMP dan SMA menganggap judi online sebagai “game seru” atau “cara cepat mendapat cuan”, padahal banyak dari mereka akhirnya mengalami stres, depresi, kecanduan, friksi keluarga, hingga upaya bunuh diri. Di sinilah terlihat bahwa persoalan judi online tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan budaya instan yang berkembang dalam dunia digital.

Pertanyaannya: Mengapa bangsa yang didirikan di atas fondasi moral Pancasila dapat mengalami krisis nilai sebesar ini?

Budaya Instan dan Rapuhnya Moral Generasi Online

1. Mentalitas Jalan Pintas dalam Ekosistem Digital

Generasi online tumbuh dalam lingkungan yang ditandai oleh kecepatan dan kemudahan:

  • Informasi muncul dalam hitungan detik.
  • Hiburan tersedia tanpa batas.
  • Validasi sosial dihitung melalui “like”, “followers”, dan “share”.
  • Kesuksesan sering ditampilkan sebagai sesuatu yang instan dan bebas proses.

Judi online memperkuat mentalitas jalan pintas ini: kemenangan seolah bisa dicapai hanya dengan satu klik. Remaja yang sedang mengalami fase pencarian identitas menjadi sangat rentan terhadap narasi “jalan cepat menuju keberhasilan” yang ditawarkan melalui konten-konten manipulatif.

2. Normalisasi Perilaku Amoral di Media Sosial

Media sosial adalah lingkungan moral baru tempat nilai-nilai dinegosiasikan, disebarkan, dan dibentuk. Ketika influencer memperlihatkan gaya hidup mewah tanpa konteks perjuangan, penonton muda mudah menganggap bahwa hasil lebih penting daripada proses.

Promotor judi online memperkuat pandangan ini dengan strategi digital seperti:

  • Penyisipan link di live streaming game,
  • Meme komedi yang meremehkan risiko,
  • Testimoni kemenangan fiktif,
  • Promosi berupa giveaway palsu.

Ketika perilaku destruktif dikemas sebagai hiburan atau candaan, batas antara moral dan amoral menjadi kabur. Pada titik ini, persoalan generasi muda bukan lagi ketidaktahuan, melainkan terbiasa melihat kejahatan sebagai hal biasa—sebuah “banalitas kejahatan digital”.

3. Lemahnya Internalisasi Nilai Pancasila

Di sekolah, Pancasila sering diajarkan secara kognitif: menghafal sila, menjawab ujian, mengikuti upacara. Namun, nilai tidak tertanam dalam kesadaran moral generasi muda. Akibatnya, ketika berhadapan dengan godaan dunia digital yang agresif, nilai Pancasila tidak dapat berfungsi sebagai benteng moral.

Beberapa sila yang paling absen dalam kasus judi online antara lain:

a. Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Judi online mengeksploitasi kelemahan psikologis, memicu kerugian keluarga, dan menghancurkan martabat pribadi. Nilai empati dan keberadaban terkikis oleh budaya instan.

b. Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Setiap keputusan digital adalah tindakan moral. Namun banyak remaja bertindak impulsif tanpa pertimbangan bijaksana.

c. Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Judi online memperlebar ketimpangan sosial. Kelompok tertentu meraup keuntungan dari kehancuran banyak orang, menciptakan ketidakadilan struktural.

Krisis Identitas dan Kekosongan Moral

Generasi muda saat ini tidak hanya menghadapi tekanan akademik, tetapi juga tekanan digital. Banyak di antara mereka mengalami:

  • Kesepian,
  • Kebutuhan akan validasi sosial,
  • Rentan terhadap misinformasi,
  • Minimnya role model moral di dunia digital.

Dalam kondisi seperti ini, Pancasila seharusnya hadir sebagai jangkar moral. Namun ketika pendidikan nilai tidak relevan dengan konteks digital, generasi muda berjalan tanpa kompas.

Urgensi Mempelajari Pancasila Secara Substantif

1. Pendekatan Hukum Saja Tidak Cukup

Pemblokiran, patroli digital, dan penangkapan sindikat judi online memang perlu, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Generasi muda dapat dengan mudah mengakses:

  • Situs kloning,
  • Aplikasi mirror,
  • VPN,
  • Grup Telegram tertutup,
  • Penyedia deposit ilegal.

Masalah utamanya adalah ketidakmampuan mengelola emosi, tekanan sosial, rasa ingin cepat sukses, dan minimnya bekal etika digital. Tanpa transformasi moral, sulit menghentikan siklus ini.

2. Pancasila sebagai Etika Kebijaksanaan Digital

Pancasila dapat berfungsi sebagai kerangka etika untuk menghadapi dinamika dunia online.

a. Sila Pertama → Pengendalian Diri
Nilai religiusitas mengajarkan batasan, ketenangan batin, dan pengendalian diri terhadap godaan instan.

b. Sila Kedua → Empati Digital
Remaja belajar bahwa tindakan online berdampak nyata pada kehidupan sosial dan keluarga.

c. Sila Ketiga → Persatuan dalam Komunitas Digital
Menumbuhkan jaringan sosial sehat yang mencegah isolasi dan perilaku destruktif.

d. Sila Keempat → Kebijaksanaan dalam Mengambil Keputusan Digital
Setiap klik harus melalui proses refleksi moral.

e. Sila Kelima → Kesadaran terhadap Keadilan Sosial Digital
Remaja perlu memahami struktur eksploitasi dalam judi online.

3. Dari Hafalan ke Internalisasi Moral Digital

Pendidikan Pancasila perlu mencakup tiga dimensi:

– Kognitif: memahami isi sila.

– Afektif: memiliki ikatan emosional terhadap nilai.

– Praktis: menerapkan nilai dalam perilaku digital sehari-hari.

Rekomendasi Solusi: Menanamkan Pancasila dalam Budaya Digital

1. Gerakan “Pancasila Content Creator”

Gerakan kreator muda yang memproduksi:

  • Film pendek tentang dilema moral digital,
  • Video edukasi ringan mengenai manipulasi judi online,
  • Storytelling tentang keberanian menolak jalan pintas.

Nilai lebih mudah diterima melalui narasi, bukan ceramah.

2. Gamifikasi Moral dalam Aplikasi Edukasi

Aplikasi pembelajaran dapat menghadirkan:

  • Simulasi kasus (misalnya link judi, scam, promosi ilegal),
  • Poin untuk keputusan bijak,
  • Leaderboard, tantangan kelompok,
  • Reward virtual untuk perilaku moral.

Dengan demikian, Pancasila tidak hanya dipelajari, tetapi dialami.

3. Reformasi Kurikulum: Etika Digital Berbasis Pancasila

Pembelajaran Pancasila dapat diperkuat dengan:

  • Analisis kasus viral,
  • Diskusi tentang bahaya algoritma,
  • Proyek kampanye digital oleh siswa,
  • Studi etika digital dan literasi risiko.

Ini menjadikan Pancasila alat berpikir, bukan sekadar hafalan.

4. Peer Support: Komunitas Anti-Judi Online

Remaja lebih mendengarkan teman sebaya. Komunitas ini dapat:

  • Menyediakan konseling digital,
  • Membuat challenge kreatif anti-jalan pintas,
  • Menampilkan kisah nyata korban judi online.

5. Literasi Algoritma

Remaja perlu memahami:

  • Cara platform bekerja,
  • Bagaimana konten judi memancing impuls,
  • Bahwa testimoni kemenangan sering direkayasa,
  • Mekanisme adiksi digital.

Pemahaman ini meningkatkan daya kritis dan resistensi moral.

6. Kolaborasi dengan Industri Hiburan

Jika nilai Pancasila menjadi bagian dari budaya populer, internalisasi akan lebih efektif melalui:

  • Film,
  • Sinetron,
  • Musik,
  • Konten kreator besar.

Kesimpulan

Krisis judi online yang menjerat generasi muda bukan hanya persoalan kriminal atau teknologi, tetapi merupakan cerminan rapuhnya ketahanan nilai dalam budaya instan. Godaan untuk memilih jalan cepat telah menggerus nilai moral yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.

Pancasila, sebagai fondasi moral bangsa, justru semakin relevan di era digital. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebijaksanaan, dan keadilan dapat menjadi kompas moral bagi generasi muda dalam menghadapi dunia online yang penuh manipulasi.

Namun, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai teks simbolik. Ia harus hidup dalam keseharian digital generasi muda—dalam cara mereka memilih konten, berinteraksi di media sosial, mengambil keputusan, dan membangun identitas moral.

Jika bangsa ini mampu menanamkan Pancasila sebagai kecakapan hidup digital, maka generasi muda Indonesia akan memiliki benteng moral yang kokoh menghadapi budaya instan. Pada akhirnya, tantangan terbesar kita bukan memerangi judi online, tetapi mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan dalam ekosistem digital yang semakin tak berbatas.

Penulis: Hasna Zhafirah
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA