Bediding Melanda Indonesia, Ini Penyebab dan Perkiraannya Menurut BMKG

waktu baca 3 minutes
Jumat, 11 Jul 2025 15:24 0 Nazwa

FENOMENA ALAM | TD – Fenomena udara dingin yang menusuk hingga ke tulang belakangan ini dirasakan di berbagai daerah di Indonesia, terutama pada malam dan pagi hari. Di tengah musim kemarau yang biasanya identik dengan cuaca panas dan kering, kondisi ini cukup mengejutkan bagi sebagian masyarakat. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding.

Meskipun bukan hal baru, bediding sering menimbulkan pertanyaan karena datangnya yang tiba-tiba dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun memberikan penjelasan lengkap mengenai penyebab dan durasi fenomena ini.

Mengenal Istilah Bediding

Bediding berasal dari istilah lokal dalam bahasa Jawa, yaitu mbedhidhing, yang menggambarkan kondisi tubuh yang menggigil akibat udara yang sangat dingin. Bediding bukanlah sebuah penyakit, melainkan reaksi alami tubuh terhadap penurunan suhu lingkungan yang signifikan. Perbedaan antara rasa dingin biasa dan bediding terletak pada intensitasnya. Pada fenomena bediding, rasa dingin bisa sangat menusuk meskipun suhu tidak turun secara ekstrem di siang hari.

Penjelasan BMKG Terkait Fenomena Bediding

BMKG menjelaskan bahwa bediding merupakan fenomena yang umum terjadi pada puncak musim kemarau. Tahun ini, fenomena ini diperkuat oleh beberapa faktor atmosferik, antara lain:

  • Angin Monsun Australia yang bertiup dari selatan membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah Indonesia.
  • Langit yang cerah dan minim awan, yang menyebabkan pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer terjadi lebih cepat saat malam hari.
  • Kelembapan udara yang rendah, sehingga udara lebih mudah mendingin, terutama di daerah dataran tinggi atau pegunungan.

Prakirawan BMKG Juanda, Thariq Harun, menyatakan, “Fenomena suhu dingin atau bediding tahun ini diiringi oleh adanya kemarau basah, sehingga masih ada potensi hujan skala lokal. Saat ini, angin bertiup dari timur ke barat di mana aktifnya Monsun Australia,” Ungkapnya.

BMKG juga menegaskan bahwa bediding tidak berkaitan dengan fenomena aphelion, yaitu saat jarak bumi berada paling jauh dari matahari. Dalam keterangan resmi, BMKG menyebutkan bahwa aphelion tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap suhu di permukaan bumi.

Wilayah yang Terdampak

Fenomena bediding paling terasa di bagian selatan Indonesia, terutama di:

– Pulau Jawa (terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah)
– Bali
– Nusa Tenggara Barat (NTB)
– Nusa Tenggara Timur (NTT)

Beberapa daerah di dataran tinggi bahkan mengalami suhu antara 14–17°C saat dini hari. Perubahan suhu ini cukup mencolok jika dibandingkan dengan suhu siang hari yang tetap hangat, bahkan cenderung panas.

Dampak Terhadap Aktivitas Masyarakat

Penurunan suhu yang mendadak dapat berdampak pada aktivitas harian, terutama di pagi hari. Banyak masyarakat mengeluhkan rasa malas untuk beraktivitas, peningkatan rasa kantuk, serta kekhawatiran terhadap kesehatan anak-anak dan lansia.

Bagi kelompok rentan, seperti lansia, anak kecil, dan individu dengan daya tahan tubuh rendah, fenomena ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan penurunan imunitas. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penyesuaian gaya hidup selama periode ini.

Tips Menghadapi Fenomena Bediding

Agar tetap nyaman dan sehat selama fenomena bediding berlangsung, berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:

  1. Kenakan pakaian hangat, terutama saat malam dan pagi hari.
  2. Perbanyak konsumsi air hangat dan makanan bergizi.
  3. Hindari mandi terlalu pagi atau malam hari saat suhu udara rendah.
  4. Jaga imunitas tubuh dengan cukup istirahat dan mengonsumsi vitamin.
  5. Kurangi aktivitas di luar ruangan pada pagi atau malam hari jika tidak mendesak.

Kapan Bediding Akan Berakhir?

Menurut BMKG, fenomena bediding diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Agustus atau awal September 2025, seiring dengan puncak dan berakhirnya musim kemarau. Meskipun demikian, kondisi anomali iklim seperti kemarau basah tahun ini dapat memengaruhi durasi dan intensitas bediding di beberapa wilayah.

Penutup

Fenomena bediding yang melanda Indonesia merupakan kondisi alamiah yang terjadi setiap musim kemarau. Meskipun dapat menyebabkan ketidaknyamanan, bediding bukanlah hal yang berbahaya jika disikapi dengan bijak dan diantisipasi dengan cara yang tepat. Masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG serta menjaga kesehatan selama masa peralihan cuaca ini. (*)

LAINNYA