Aku Tahu Aku Tidak Tahu: Mengapa Warisan Socrates Masih Relevan untuk Kita

waktu baca 4 minutes
Rabu, 19 Nov 2025 08:47 0 Nazwa

OPINI | TD — Di tengah dunia yang penuh klaim, opini, dan “kebenaran instan”, ada satu kalimat sederhana yang justru terasa semakin penting: Aku tahu bahwa aku tidak tahu. Kalimat ini—yang dinisbatkan pada Socrates—bukan sekadar ungkapan kerendahan hati, melainkan fondasi dari cara berpikir kritis yang telah membentuk tradisi filsafat Barat selama berabad-abad.

Namun, memahami cara kerja pikiran Socrates bukan perkara mudah. Ia tidak menulis buku, tidak meninggalkan teori baru, tidak pula menciptakan sistem filsafat. Yang ia wariskan hanyalah pertanyaan—bertubi-tubi, melelahkan, kadang membuat orang jengkel—tapi justru di sanalah kekuatan utamanya.

Mengapa Socrates Terobsesi Bertanya?

Bertanya adalah reaksi alami ketika kita menghadapi sesuatu yang membingungkan. Tapi bagi Socrates, bertanya bukan sekadar mencari informasi. Pertanyaan bagi Socrates adalah alat untuk membongkar kepalsuan, menyingkap ilusi pengetahuan, dan memaksa seseorang melihat keterbatasan dirinya sendiri.

Ia bertanya bukan karena ingin menang, tetapi karena ingin menemukan apa yang benar-benar kita ketahui—atau sebenarnya tidak kita ketahui.

“Apakah itu benar? Apa buktinya? Mengapa aku harus mempercayainya jika kamu sendiri ragu?”

Pertanyaan seperti itu memang mengusik. Tapi justru itulah yang membuatnya bertahan sepanjang sejarah.

Socrates dan Masa Mudanya yang Penuh Pertanyaan

Socrates lahir dari keluarga kelas menengah Athena. Ayahnya pemahat, ibunya bidan. Ia tidak dibesarkan dalam kemewahan, tetapi dalam keterbukaan: karya seni ayahnya dan profesi ibunya membuatnya dekat dengan dunia manusia—dunia kelahiran, kehidupan, dan pencarian jati diri.

Sejak kecil, ia selalu bertanya. Tentang langit, bintang, cinta, keberanian, hingga tentang “bagaimana kita tahu sesuatu itu benar”. Rasa ingin tahunya melampaui penjelasan apa pun yang diberikan orang dewasa di sekitarnya. Dari sanalah benih kegelisahan intelektualnya tumbuh.

Ketika Pengetahuan Tidak Lagi Cukup

Setelah belajar dari berbagai guru dan membaca banyak karya, Socrates justru merasa semakin haus. Pengetahuan tidak membuatnya tenang—justru membuatnya semakin berpikir bahwa manusia tahu jauh lebih sedikit daripada yang mereka kira.

Ia pun memilih terjun ke tempat paling ramai dan paling jujur tentang manusia: pasar. Dengan pakaian lusuh, tak beralas kaki, ia berjalan mendekati siapa saja dan bertanya: penyair, tukang kayu, politikus, jenderal, orang kaya, orang biasa.

Dan jawaban mereka selalu mengungkapkan satu pola:
banyak orang yakin mereka tahu, padahal mereka tidak bisa menjelaskan apa pun secara mendalam.

Inilah yang kini kita kenal sebagai “ironi Socratic”.

Metode Socrates: Bukan Pengetahuan, Melainkan Cara Berpikir

Warisan Socrates bukan kumpulan teori, melainkan metode. Ia menguliti argumen lawan bicaranya dengan pertanyaan lanjutan, memaksa mereka berpikir jujur tentang apa yang mereka yakini. Metode ini membuat seseorang sadar bahwa pengetahuan yang ia banggakan sering kali tidak berdasar.

Inilah mengapa metode Socrates bertahan begitu lama:
karena ia tidak menawarkan jawaban, tetapi menawarkan kerangka untuk mendekati jawaban.

Di zaman ketika informasi melimpah dan kebenaran semakin kabur, metode ini terasa lebih penting daripada sebelumnya.

Ketika Pertanyaan Menjadi Ancaman Politik

Meski bertujuan mulia, cara Socrates bertanya membuat banyak pihak tidak nyaman. Para pemimpin Athena kesal karena ia mengungkap bahwa mereka tidak sepandai yang mereka klaim. Anak-anak muda mengidolakan Socrates dan mulai mempertanyakan otoritas. Pemerintah merasa kewibawaan mereka terguncang.

Akhirnya, Socrates dianggap berbahaya. Ia dituduh:

  • merusak moral pemuda
  • tidak mempercayai dewa-dewa negara

Pengadilannya berlangsung sepuluh jam. Di depan 500 juri, Socrates tidak memohon belas kasih. Ia malah memprovokasi, mengkritik, bahkan menyindir para juri. Ia menolak kabur, menolak kompromi, dan memilih mati daripada mengkhianati prinsipnya.

Pada tahun 399 SM, ia menenggak racun hemlock dengan tenang. Murid-muridnya menangis, tetapi ia tetap berdiskusi tentang jiwa hingga detik terakhir.

Ia mati, tetapi metodenya justru lahir dan bertahan selama 2.400 tahun.

Apakah Kita Sudah Belajar dari Socrates?

Hari ini, dunia dipenuhi orang yang yakin mereka tahu segalanya. Media sosial mengubah opini menjadi fakta, mempercepat distribusi klaim yang tidak diuji. Di tengah lautan kepastian palsu, sikap Socrates—yang berani mengatakan “aku tidak tahu”—menjadi keberanian intelektual yang langka.

Warisan Socrates mengingatkan kita:

  1. bahwa keraguan bukan kelemahan, tetapi langkah awal menuju kebenaran;
  2. bahwa berpikir kritis membutuhkan kejujuran, bukan sekadar kecerdasan;
  3. bahwa kebenaran bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi dicari melalui dialog dan penalaran.

Penutup: Mewarisi Keberanian untuk Meragukan

Socrates tidak meninggalkan buku, teori, atau sistem filsafat. Ia hanya meninggalkan cara bertanya yang membuat kita menyadari keterbatasan diri. Dan mungkin, di dunia yang semakin penuh kebisingan dan kepastian palsu, warisan itu justru lebih berharga.

Pada akhirnya, pertanyaan yang ia tinggalkan kepada kita masih sama:

Apa yang kita yakini sebagai kebenaran—benarkah itu benar?
Atau kita hanya belum cukup bertanya?

Penulis: AfnanMahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA