AI Dorong Pertumbuhan Pendapatan Bisnis Indonesia, 90% Perusahaan Alami Peningkatan

waktu baca 3 minutes
Jumat, 20 Jun 2025 13:14 0 Nazwa

EKBIS | TD – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) semakin menunjukkan perannya dalam mendorong pertumbuhan sektor bisnis, termasuk di Indonesia. Laporan terbaru dari Twilio dalam State of Customer Engagement Report 2025 mengungkapkan bahwa sebagian besar perusahaan di Indonesia telah merasakan dampak positif dari integrasi AI ke dalam sistem bisnis mereka. Temuan ini menjadi bukti bahwa transformasi digital yang tepat dapat menghasilkan keuntungan nyata, baik dari segi pendapatan maupun keterlibatan pelanggan.

90% Bisnis Catat Kenaikan Pendapatan Berkat AI
Laporan Twilio, yang disusun berdasarkan survei terhadap 7.600 konsumen dan 600 pemimpin bisnis dari 18 negara, termasuk Indonesia, menemukan bahwa sembilan dari sepuluh perusahaan di Tanah Air mengalami peningkatan pendapatan setelah mengadopsi AI. Hal ini mencerminkan tren global di mana AI tidak hanya digunakan untuk efisiensi operasional, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan penjualan dan memperkuat hubungan dengan pelanggan.

Pemanfaatan AI untuk Personalisasi dan Pelayanan
Sebagian besar bisnis di Indonesia memanfaatkan AI dalam berbagai aspek operasional. Berikut adalah beberapa bentuk implementasi AI yang umum digunakan:

  • 100% perusahaan responden di Indonesia memanfaatkan AI untuk analisis data pelanggan.
  • 94% perusahaan menggunakan chatbot dan sistem yang merekam riwayat interaksi untuk meningkatkan kualitas rekomendasi produk dan layanan.
  • AI juga diintegrasikan dalam sistem pemasaran digital dan komunikasi pelanggan secara real-time.

Langkah-langkah ini memungkinkan perusahaan untuk memberikan layanan yang lebih cepat, efisien, dan sesuai dengan preferensi pelanggan.

Jurang Antara Persepsi Brand dan Harapan Konsumen
Meskipun perusahaan merasa bahwa personalisasi yang mereka tawarkan sudah optimal, survei Twilio mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan antara persepsi brand dan pengalaman konsumen. Sebanyak 94% brand menyatakan telah menyediakan pengalaman yang dipersonalisasi, namun hanya 72% konsumen yang merasa puas. Bahkan, hanya 10% konsumen yang merasa bahwa interaksi dengan brand benar-benar terasa pribadi dan konsisten.

Twilio juga mencatat bahwa 87% konsumen berpotensi membatalkan transaksi jika mereka merasa pengalaman digital yang mereka terima tidak relevan dengan kebutuhan pribadi mereka.

Tantangan Baru: Sentuhan Manusia dan Transparansi
Meningkatnya penggunaan AI ternyata juga memunculkan kelelahan digital di kalangan konsumen. Survei mencatat bahwa:

  • 39% konsumen merasa bosan berinteraksi dengan AI.
  • 64% konsumen ingin diberi tahu secara terbuka saat mereka sedang berinteraksi dengan sistem AI.
  • 67% konsumen menyatakan ingin langsung dialihkan ke agen manusia bila AI tidak mampu menyelesaikan permasalahan mereka.
  • 88% konsumen mengharapkan pengalaman AI yang lebih “manusiawi” dan tidak terasa kaku atau otomatis sepenuhnya.
  • 86% konsumen juga menginginkan kebebasan dalam memilih kanal komunikasi yang mereka sukai.

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak hanya bergantung pada teknologi itu sendiri, melainkan juga pada kemampuan perusahaan untuk menghadirkan sentuhan empati dan transparansi dalam setiap interaksi.

Survei Twilio 2025 menegaskan bahwa AI telah memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan bisnis di Indonesia, khususnya dalam hal peningkatan pendapatan dan efisiensi pelayanan. Namun, AI bukan satu-satunya solusi. Konsumen masa kini menginginkan hubungan yang lebih manusiawi, transparan, dan relevan.

Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun strategi komunikasi yang menggabungkan kekuatan AI dengan pendekatan personal yang tulus. Dengan demikian, kepercayaan dan loyalitas pelanggan dapat terjaga di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat. (*)

LAINNYA