Agama dan Globalisasi: Pergulatan Identitas dan Nilai dalam Era Tanpa Batas

waktu baca 5 minutes
Jumat, 6 Des 2024 19:29 0 Redaksi

OPINI | TD — Globalisasi, sebagai proses yang menghancurkan batas-batas geografis dan budaya, telah menciptakan dunia yang saling terhubung secara tak terduga. Dampaknya terhadap agama, sebagai sistem kepercayaan dan praktik yang telah membentuk peradaban selama ribuan tahun, sangat kompleks dan multifaset.

Alih-alih menjadi narasi sederhana tentang dampak positif dan negatif, hubungan agama dan globalisasi lebih tepat digambarkan sebagai pergulatan yang dinamis antara pelestarian identitas dan adaptasi terhadap perubahan yang cepat.

Artikel ini akan menelaah lebih dalam dinamika tersebut, dengan fokus pada tantangan dan peluang yang dihadapi agama dalam era globalisasi yang semakin kompleks.

Argumen bahwa globalisasi meningkatkan akses terhadap informasi keagamaan melalui internet dan media sosial memang benar. Namun, klaim ini tentunya masih sangat perlu dikaji lebih dalam. Akses yang mudah tersebut juga berarti tersebarnya informasi yang tidak terverifikasi, bahkan menyesatkan, yang dapat mengaburkan pemahaman agama yang sebenarnya.

Fenomena ini diperparah dengan proliferasi interpretasi agama yang ekstrem dan sempit, yang seringkali disalahgunakan untuk tujuan politik atau ideologis. Contohnya, munculnya kelompok-kelompok radikal yang memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru.

Kemudahan terhadap akses informasi juga menciptakan tantangan dalam membedakan antara sumber informasi yang kredibel dan yang tidak (hoaks). Bagi individu yang kurang memiliki literasi digital dan pemahaman agama yang kuat, risiko terpapar informasi yang salah sangat tinggi. Hal ini dapat memicu kesalahpahaman, intoleransi, bahkan konflik antar agama.

Oleh karena itu, akses informasi yang mudah bukan jaminan untuk pemahaman agama yang akurat dan komprehensif. Sebaliknya, ia menjadi pedang bermata dua yang dapat digunakan untuk tujuan yang baik maupun buruk.

Penyebaran Agama: Lebih dari Sekadar Pengayaan Budaya

Klaim bahwa globalisasi memperluas jangkauan agama juga perlu dipertimbangkan secara kritis. Memang, migrasi internasional telah memperkenalkan berbagai agama ke berbagai komunitas. Namun, perlu diingat bahwa penyebaran agama seringkali terjadi dalam konteks ketidaksetaraan ekonomi dan sosial, di mana kelompok minoritas agama rentan terhadap diskriminasi dan marginalitas. Proses ini terkadang jauh dari pengayaan budaya, dan lebih tepat disebut sebagai pergeseran kekuasaan yang asimilatif.

Dalam banyak kasus, penyebaran agama di era globalisasi disertai dengan proses penjajahan budaya dan ekonomi. Kelompok-kelompok misionaris, misalnya, seringkali memanfaatkan kekuasaan politik dan ekonomi untuk menyebarkan ajaran mereka, terkadang dengan cara yang tidak menghormati budaya lokal.

Akibatnya, proses tersebut dapat menimbulkan konflik dan ketegangan antara kelompok mayoritas dan minoritas agama. Oleh karena itu, perlu ada pemahaman yang lebih nuanced tentang proses penyebaran agama dalam konteks globalisasi, yang mempertimbangkan aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi.

Sekularisasi dan Krisis Identitas

Dampak negatif globalisasi terhadap agama lebih terlihat nyata. Sekularisasi yang semakin meluas, dipengaruhi oleh budaya konsumerisme dan individualisme yang dipromosikan globalisasi, menciptakan tantangan besar bagi institusi agama.

Generasi muda, yang lebih terpapar nilai-nilai sekuler, seringkali mempertanyakan relevansi agama dalam kehidupan modern. Hal ini bukan sekadar penurunan minat, melainkan juga krisis identitas di mana nilai-nilai tradisional agama berbenturan dengan norma-norma sosial yang baru.

Krisis identitas ini diperparah oleh percepatan perubahan sosial dan teknologi. Nilai-nilai tradisional yang dipegang teguh oleh agama seringkali terkesan usang dan tidak relevan dengan kehidupan modern. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana agama dapat mempertahankan relevansinya di tengah perubahan yang begitu cepat. Agama membutuhkan adaptasi, terutama dalam cara penyampaian pesan dan nilai-nilainya.

Konflik Antaragama: Interpretasi yang Kaku dan Eksklusif

Lebih jauh lagi, globalisasi menciptakan ruang yang subur bagi konflik antaragama. Persaingan untuk mendapatkan pengikut, ditambah dengan interpretasi agama yang kaku dan eksklusif, dapat memicu kekerasan dan intoleransi.

Konflik-konflik ini tidak hanya terjadi antar agama yang berbeda, tetapi juga di dalam agama itu sendiri, antara kelompok-kelompok yang memiliki pemahaman berbeda tentang doktrin dan praktik keagamaan.

Globalisasi mempermudah penyebaran ideologi ekstrem, yang seringkali memanfaatkan sentimen agama untuk tujuan politik. Kelompok-kelompok ekstremis memanfaatkan media digital untuk menyebarkan ideologi, menarik anggota baru, dan melaksanakan tindakan kekerasan.

Konflik antaragama ini diperparah oleh kurangnya pemahaman dan toleransi antar agama, serta peran media yang seringkali memperburuk situasi dengan pemberitaan yang bias dan provokatif.

Mempertahankan Identitas: Adaptasi Tanpa Pengorbanan

Tantangan mempertahankan identitas agama di era globalisasi juga semakin kompleks. Agama tidak hanya berhadapan dengan sekularisasi, tetapi juga dengan kebangkitan berbagai aliran baru, baik yang merupakan interpretasi ulang dari agama-agama tradisional maupun agama-agama baru yang muncul.

Di tengah arus ini, agama perlu beradaptasi tanpa mengorbankan esensi ajaran fundamentalnya. Pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah bagaimana agama dapat memberikan relevansi dan makna bagi kehidupan manusia modern tanpa kehilangan akar dan identitasnya.

Agama perlu menemukan cara baru untuk berkomunikasi dengan jemaahnya, terutama generasi muda. Bahasa yang digunakan harus relevan dan mudah dipahami, dan pesan agama perlu dikaitkan dengan isu-isu kontemporer.

Selain itu, agama juga perlu memberikan ruang bagi interpretasi yang beragam, selama tetap berada dalam koridor ajaran fundamental. Inklusivitas dan toleransi menjadi kunci dalam mempertahankan identitas agama di era globalisasi.

Kesimpulan: Dialog, Edukasi, dan Pemahaman

Globalisasi bukan sekadar proses homogenisasi, melainkan juga proses yang kompleks dan multi-dimensional. Dampaknya terhadap agama tidak dapat dilihat secara hitam putih. Agama perlu mampu beradaptasi dan berinovasi dalam menyampaikan pesan-pesannya di era globalisasi, namun tetap teguh pada prinsip-prinsip fundamentalnya.

Tantangan yang dihadapi membutuhkan strategi yang komprehensif, yang melibatkan dialog antaragama, edukasi publik yang kritis, dan pemahaman yang mendalam tentang dinamika sosial budaya global.

Hanya dengan demikian, agama dapat mempertahankan perannya sebagai sumber nilai dan moralitas di dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi. Pergulatan antara agama dan globalisasi akan terus berlanjut, dan bagaimana agama merespon tantangan ini akan menentukan masa depannya.

Penulis: Wijdan Fawwaz Muyassar, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. (*)

LAINNYA