
Ilustrasi pelari pagi sebagai metafora perjalanan mengenali diri, mengolah ego, dan merawat keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan spiritualitas. Gambar dibuat menggunakan akal imitasi (AI) sebagai ilustrasi pendamping opini Mohamad Romli tentang lari pagi dan ziarah diri.
OPINI | TD — Pagi selalu menawarkan kesempatan untuk memulai kembali. Ketika jalanan belum sepenuhnya ramai, udara masih menyisakan kesejukan, dan dunia belum sibuk menuntut banyak hal, saya memilih berlari.
Bagi sebagian orang, lari pagi mungkin sekadar olahraga untuk menjaga kebugaran. Bagi saya, aktivitas ini juga dapat menjadi ruang refleksi—tempat tubuh bergerak, pikiran berdialog, dan ego perlahan-lahan diperiksa.
Ada sesuatu yang menarik ketika seseorang berlari sendirian. Tidak selalu ada tepuk tangan, tidak selalu ada orang yang menyaksikan, dan tidak selalu ada pencapaian yang layak dipamerkan. Yang ada hanyalah langkah demi langkah, napas yang mengikuti irama tubuh, serta kesadaran bahwa perjalanan ini harus dijalani oleh diri sendiri.
Di situlah saya menemukan hubungan antara lari pagi dan gagasan ziarah diri: sebuah perjalanan untuk tetap menjadi diri sendiri tanpa terjebak dalam pemujaan terhadap diri sendiri.
Kita hidup dalam dunia yang gemar membandingkan. Kecepatan, jarak, pencapaian, popularitas, bahkan proses pengembangan diri dapat berubah menjadi perlombaan untuk memperoleh pengakuan.
Lari pagi pun tidak luput dari kemungkinan itu. Angka pada jam olahraga, jarak yang ditempuh, dan catatan waktu dapat menjadi motivasi. Namun, semua itu juga bisa berubah menjadi ukuran yang membuat kita terus-menerus merasa harus melampaui orang lain. Padahal, setiap pelari memiliki kondisi, pengalaman, dan tujuan yang berbeda.
Ada yang berlari untuk meningkatkan kebugaran, ada yang ingin memperbaiki catatan waktu, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati pagi sambil merawat kesehatan. Tidak semua perjalanan harus memiliki ukuran keberhasilan yang sama.
Saya teringat pada pergulatan filosofis yang menemani perjalanan intelektual saya selama bertahun-tahun. Dari Nietzsche, saya mengenal pertanyaan tentang nilai dan keberanian menghadapi kehidupan. Dari Muhammad Iqbal, saya memperoleh perspektif tentang diri yang terus bertumbuh. Dari Derrida, saya belajar memeriksa kemapanan makna.
Ketiganya, melalui jalur pemikiran yang berbeda, memberi saya bahan untuk mempertanyakan kembali ukuran-ukuran yang sering kita terima begitu saja.
Dalam konteks lari pagi, pertanyaannya sederhana: apakah saya berlari karena ingin merawat diri, atau karena ingin membuktikan bahwa saya lebih baik daripada orang lain?
Tidak ada yang salah dengan target dan pencapaian. Namun, ketika seluruh perjalanan hanya diarahkan untuk mendapatkan pengakuan, kita berisiko kehilangan makna dari aktivitas yang sebenarnya kita pilih untuk diri sendiri.
Tidak setiap langkah harus disaksikan. Tidak setiap kemajuan harus diumumkan. Ada proses yang cukup kita jalani dengan kesadaran, tanpa harus selalu meminta dunia mengakuinya.
Ketika berlari, kita tidak selalu berada dalam kondisi terbaik. Ada pagi ketika langkah terasa ringan, tetapi ada pula saat tubuh terasa berat dan ritme yang direncanakan sulit dipertahankan.
Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai kehendak. Kita dapat menyusun rencana, menetapkan tujuan, dan membangun harapan, tetapi kenyataan tetap menghadirkan ketidakpastian.
Pemikiran Nietzsche pernah membawa saya berhadapan dengan pertanyaan mendasar tentang makna hidup. Ketika nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan mulai dipertanyakan, manusia harus menghadapi kemungkinan kehilangan arah.
Dalam lari pagi, pengalaman semacam itu memperoleh metafora yang sederhana. Kita mungkin memulai dengan tujuan yang jelas, tetapi di tengah perjalanan perlu menyesuaikan ritme, mengenali batas, dan menerima bahwa tidak semua hari akan memberikan pengalaman yang sama.
Bagi saya, pelajarannya bukan memaksakan diri untuk selalu kuat. Justru, keberanian juga berarti mengenali keadaan diri secara jujur.
Ada kalanya kita perlu melanjutkan langkah. Ada kalanya kita perlu memperlambat ritme. Dan ada kalanya tubuh membutuhkan istirahat.
Kita tidak harus menyangkal keterbatasan untuk membuktikan keberanian. Kita hanya perlu belajar menghadapi kenyataan tanpa kehilangan keinginan untuk bertumbuh.
Dalam pemikiran Muhammad Iqbal, konsep khudi menempatkan diri sebagai sesuatu yang perlu dikembangkan melalui tindakan, tanggung jawab, dan hubungan spiritual dengan Tuhan. Gagasan ini menarik ketika saya membawanya ke pengalaman lari pagi.
Diri tidak bertumbuh hanya dengan memikirkan perubahan. Ia membutuhkan tindakan yang dijalani secara konsisten. Niat untuk hidup lebih sehat tidak akan berarti banyak tanpa langkah nyata. Keinginan menjadi manusia yang lebih disiplin juga memerlukan latihan dalam keseharian.
Namun, pertumbuhan bukan sekadar penambahan kemampuan atau pencapaian angka.
Dalam perjalanan lari, kita belajar mengenali kemampuan, mengatur usaha, dan menghormati proses. Kita tidak bisa memaksa hasil datang hanya karena menginginkannya. Ada proses adaptasi yang memerlukan waktu dan kesabaran.
Demikian pula dalam kehidupan intelektual dan spiritual. Membaca banyak buku tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Memahami banyak teori tidak otomatis menjadikannya rendah hati. Mengetahui jalan menuju kebaikan juga tidak berarti kita selalu berhasil menjalaninya.
Pertumbuhan membutuhkan kesediaan untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan dan menjadikan pengalaman sebagai bahan pembelajaran.
Bagi saya, berlari menjadi pengingat bahwa diri bukan sesuatu yang selesai dibentuk. Ia terus berada dalam proses menjadi.
Dalam dunia lari, kemenangan sering dikaitkan dengan kecepatan, jarak, atau catatan waktu. Ukuran tersebut berguna, tetapi bukan satu-satunya cara memahami makna berlari.
Di sinilah saya teringat pada dekonstruksi Jacques Derrida: keberanian memeriksa kembali makna yang tampak mapan dan mempertanyakan anggapan bahwa sesuatu hanya dapat dipahami melalui satu ukuran.
Jika kemenangan selalu berarti mengalahkan orang lain, bagaimana kita memahami seseorang yang berlari perlahan tetapi berhasil membangun kebiasaan sehat? Jika kemajuan selalu berarti menjadi lebih cepat, bagaimana kita menilai seseorang yang belajar mengenali batas tubuhnya dan berlari dengan lebih bijaksana?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menolak ukuran objektif. Catatan waktu tetaplah catatan waktu. Jarak tetap dapat diukur. Namun, makna personal dari sebuah perjalanan tidak selalu habis dijelaskan oleh angka.
Saya juga perlu menerapkan kritik itu kepada diri sendiri. Jangan-jangan, ketika merasa telah memahami sesuatu, saya justru sedang menciptakan ukuran baru untuk menilai orang lain.
Jangan-jangan, ketika berbicara tentang kebebasan berpikir, saya masih ingin gagasan saya menjadi yang paling unggul.
Maka, lari pagi dapat menjadi latihan untuk membongkar ego: berani memiliki target tanpa menjadikan pencapaian sebagai identitas, berani berkembang tanpa merendahkan orang lain, dan berani menikmati proses tanpa harus mengubah setiap pengalaman menjadi perlombaan.
Perjalanan intelektual saya kemudian membawa saya menekuni tasawuf. Sejak 2023, perjumpaan dengan jalan spiritual ini memperluas pertanyaan saya tentang diri, terutama mengenai hubungan antara pengetahuan, kehendak, dan ego. Dalam pengalaman lari pagi, refleksi itu terasa dekat.
Tubuh bergerak, pikiran menghasilkan berbagai percakapan, dan keinginan untuk mencapai sesuatu muncul silih berganti. Ada ambisi yang sehat, tetapi ada pula kemungkinan bahwa ambisi tersebut perlahan berubah menjadi kebutuhan untuk merasa lebih unggul.
Tasawuf mengajak saya memeriksa apa yang tersembunyi di balik keinginan-keinginan itu.
Apakah saya melakukan sesuatu demi kebaikan yang ingin diwujudkan, atau semata-mata demi citra diri? Apakah pengetahuan membuat saya semakin rendah hati, atau justru semakin ingin dikagumi? Apakah pencapaian mendekatkan saya kepada kesadaran tentang keterbatasan, atau malah membuat saya merasa istimewa?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada pemahaman bahwa mengolah diri tidak cukup dilakukan melalui penambahan kemampuan. Ada ego yang perlu dikenali, ada kesombongan yang perlu dikoreksi, dan ada keinginan untuk diakui yang perlu ditempatkan secara proporsional.
Berlari bukan ibadah dengan sendirinya, dan pengalaman olahraga tidak otomatis menghasilkan kedalaman spiritual. Namun, aktivitas sederhana ini dapat menjadi kesempatan untuk melatih disiplin, kesabaran, rasa syukur, dan kesadaran terhadap keterbatasan diri.
Saya bisa berlari sambil mengingat bahwa tubuh bukan mesin yang harus selalu dipaksa memenuhi ambisi. Saya bisa menetapkan target sambil memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh angka pada layar. Saya juga bisa menikmati kesunyian pagi tanpa harus menjadikannya panggung untuk membangun citra tentang diri yang lebih baik daripada orang lain. Mungkin, di situlah latihan kecil melampaui ego bermula.
Ada paradoks yang terus menarik perhatian saya: kita membutuhkan diri untuk menjalani kehidupan, tetapi kita juga perlu belajar agar tidak diperbudak oleh keakuan.
Menjadi diri sendiri bukan berarti mempertahankan setiap pikiran, kebiasaan, dan keinginan tanpa perubahan. Diri juga bukan benda yang sekali ditemukan kemudian selesai dipahami.
Kita tumbuh melalui pengalaman, perjumpaan, bacaan, kegagalan, kritik, dan refleksi. Sesekali kita harus mempertahankan keyakinan. Pada kesempatan lain, kita perlu mengaku bahwa pemahaman kita belum memadai.
Lari pagi mengingatkan saya bahwa perjalanan tidak selalu harus diselesaikan dengan kecepatan yang sama. Kita perlu mengenali kondisi, menata ritme, dan memahami bahwa keberlanjutan lebih bermakna daripada memaksakan pencapaian sesaat. Demikian pula dalam kehidupan.
Saya tidak ingin berhenti berpikir, tetapi saya juga tidak ingin menjadikan nalar sebagai berhala. Saya ingin terus membaca, tetapi tidak menganggap pengetahuan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Saya ingin memperjuangkan gagasan, tetapi tetap bersedia mendengarkan kritik. Saya ingin menjadi diri sendiri, tetapi tidak ingin menjadikan ego sebagai penguasa atas diri itu sendiri.
Bagi saya, ziarah diri adalah perjalanan untuk menjaga keseimbangan tersebut: berani menentukan arah tanpa menutup diri terhadap koreksi, berani bermimpi tanpa kehilangan pijakan, dan berani berjalan tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.
Ketika berlari pagi, saya tidak harus mengalahkan semua pelari yang melintas. Saya juga tidak harus menjadikan setiap kilometer sebagai bukti bahwa saya lebih baik daripada diri saya yang kemarin.
Saya hanya perlu memahami tujuan, menghormati proses, dan merawat kesediaan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, mungkin hidup memang seperti sebuah perjalanan panjang. Kita tidak selalu mengetahui seluruh rute di depan. Kita akan bertemu persimpangan, mengalami perubahan ritme, dan sesekali perlu berhenti untuk mengevaluasi arah.
Yang penting bukan sekadar seberapa cepat kita sampai, melainkan apakah kita memahami alasan mengapa kita berangkat dan nilai apa yang ingin kita bawa sepanjang perjalanan.
Saya berlari bukan untuk melarikan diri dari pertanyaan tentang kehidupan. Saya berlari sambil membawa pertanyaan itu, membiarkannya menemani langkah, dan sesekali mengingatkan diri bahwa perjalanan terjauh bukanlah perjalanan menuju pengakuan orang lain, melainkan perjalanan memahami diri tanpa diperbudak oleh ego sendiri.
Pagi akan berlalu. Jalanan akan kembali ramai. Dan kehidupan akan kembali menghadirkan tuntutan serta penilaian. Namun, selama masih ada kesempatan untuk melangkah, saya ingin terus belajar: menjadi diri sendiri, membongkar diri sendiri, dan berjalan menuju pemahaman yang lebih dalam.
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily, pemahat kata, peziarah makna, mahasiswa Magister Komunikasi, Budi Luhur University. (*)