
Ilustrasi Friedrich Nietzsche dan Jacques Derrida dalam satu bingkai, menggambarkan perbedaan pemikiran tentang nilai, moralitas, bahasa, dan dekonstruksi. (Gambar dibuat menggunakan akal imitasi/AI).
OPINI | TD — Filsafat sering kali tampak serius karena ditulis dengan istilah yang tidak selalu akrab di telinga. Nietzsche berbicara tentang moralitas, genealogi, dan kehendak untuk berkuasa. Derrida datang dengan dekonstruksi, logosentrisme, penanda, dan persoalan makna. Kita membaca, mengangguk, lalu merasa telah memperoleh sesuatu yang penting. Tetapi, apakah gagasan-gagasan itu benar-benar mengubah cara kita melihat kenyataan, atau hanya menambah perbendaharaan istilah untuk memenangkan perdebatan?
Mari kita tinggalkan sebentar rak buku dan ruang kuliah. Tengok linimasa media sosial kita sendiri. Di sana, filsafat menemukan bahan yang jauh lebih berisik daripada halaman-halaman buku.
Seseorang mengkritik kebijakan pemerintah, lalu dituduh tidak cinta tanah air. Orang lain memamerkan mobil mewah dan menyimpulkan bahwa kemiskinan adalah akibat kurangnya kerja keras. Sebuah video berdurasi beberapa detik cukup untuk mengadili seseorang sebelum konteksnya diketahui. Klaim yang memperoleh ribuan tanda suka dianggap lebih benar daripada penjelasan yang disertai bukti. Sementara itu, dalam perdebatan, istilah filsafat kadang dilemparkan seperti batu: bukan untuk menerangi persoalan, melainkan untuk membuat lawan bicara terdiam.
Kita tentu tidak perlu buru-buru menyebut semua itu sebagai bukti kemerosotan nalar masyarakat. Media sosial terlalu rumit untuk dijelaskan dengan satu vonis. Namun, fenomena tersebut memperlihatkan sesuatu yang patut diperiksa: betapa mudahnya penilaian dibentuk, makna diarahkan, dan keyakinan memperoleh pembenaran melalui mekanisme yang jarang kita pertanyakan.
Di sinilah Nietzsche dan Derrida menjadi menarik, justru karena keduanya tidak menawarkan jalan yang sama.
Nietzsche akan mengajak kita mengusut nilai-nilai yang bekerja di balik penilaian tersebut. Mengapa kritik dianggap sebagai pengkhianatan? Mengapa kekayaan dijadikan ukuran keberhasilan manusia? Apa yang mendorong orang menikmati penghukuman terhadap sesamanya? Kita diajak menelusuri sejarah, motif, dan konsekuensi nilai yang selama ini diterima seolah-olah wajar.
Derrida membawa kita ke persoalan yang berbeda. Ia mengajak kita memeriksa bagaimana bahasa menyusun kenyataan menjadi kategori-kategori yang tampak meyakinkan. Bagaimana kritik dipisahkan dari patriotisme? Bagaimana kaya dipasangkan dengan sukses dan miskin dengan gagal? Bagaimana potongan video, judul, dan pilihan kata membuat sebuah penilaian terlihat utuh, padahal informasi yang tersedia mungkin belum lengkap?
Yang satu terutama mengusik nilai yang kita anut; yang lain membongkar struktur makna yang kita gunakan untuk memahami dunia. Keduanya bisa bertemu dalam satu persoalan, tetapi tidak harus menghasilkan pertanyaan atau kesimpulan yang identik.
Maka, mari kita uji perbedaan itu melalui lima kejadian yang akrab di linimasa: kritik terhadap pemerintah yang dicap tidak nasionalis, kekayaan yang diperlakukan sebagai ukuran kesuksesan, penghakiman massal berdasarkan potongan video, popularitas yang disamakan dengan kebenaran, dan istilah filsafat yang dipakai untuk memenangkan perdebatan.
Bukan untuk mencari tahu filsuf mana yang paling cocok dijadikan senjata dalam pertengkaran digital. Bukan pula untuk memaksa setiap persoalan masuk ke dalam teori mereka. Kita hanya ingin melihat apakah pemikiran yang lahir dari pergulatan filosofis yang serius masih mampu membantu kita membaca kebiasaan berpikir sehari-hari.
Sebab, persoalannya bukan apakah kita mengenal Nietzsche atau Derrida. Persoalannya adalah apakah setelah mengenal keduanya, kita menjadi lebih cermat dalam menilai orang lain, lebih teliti ketika menerima informasi, dan lebih berani memeriksa asumsi sendiri.
Kalau tidak, barangkali kita memang sedang main-main dengan filsafat. Kita sibuk membongkar pikiran orang lain, tetapi membiarkan pikiran sendiri berdiri tanpa pemeriksaan.
Penulis: Mohamad Romli
Redaktur TangerangDaily & Mahasiswa Magister Komunikasi Budi Luhur University, Penikmat Teks Filsafat dan Tasawuf. (*)