Dilema AI dalam Pendidikan Dasar; Antara Efisiensi dan “Stagflasi” Kognitif

waktu baca 4 menit
Sabtu, 17 Okt 2026 22:00 44 Redaksi

OPINI | TD — Kehadiran Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini merangsek masuk ke berbagai lini kehidupan, tidak terkecuali dunia pendidikan. Di perguruan tinggi, AI mungkin sudah lazim dimanfaatkan sebagai alat bantu analisis. Namun, ketika gelombang teknologi ini mulai menyentuh ruang kelas pendidikan dasar (sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI), kita dihadapkan pada sebuah dilema mendasar yang jarang dibicarakan secara jujur. Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi dan personalisasi pembelajaran yang luar biasa. Namun di sisi lain, bagi anak-anak usia dasar yang sedang membangun fondasi kognitif dan karakternya, AI menyimpan ancaman laten: mengikis proses perjuangan berpikir (cognitive struggle) yang justru menjadi inti dari belajar itu sendiri.

Bayang-Bayang Krisis Literasi PISA

Dilema ini semakin krusial jika kita sandingkan dengan realitas mutu pendidikan nasional. Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) terbaru menelanjangi kenyataan pahit: skor literasi membaca, matematika, dan sains peserta didik Indonesia masih jauh di bawah rata-rata global. Mayoritas anak-anak kita masih berada pada tingkat kecakapan minimum dalam mengolah teks bernalar dan memecahkan masalah mendasar.

Di tengah kerapuhan fondasi literasi inilah AI masuk. Jika tidak diawasi secara bijak, AI bukan membantu memulihkan ketertinggalan literasi, melainkan memberikan “obat penenang palsu”. Anak-anak tampak pintar karena sanggup menyajikan tulisan dan jawaban yang rapi di layar, padahal kemampuan bernalar dan logika mereka tidak pernah benar-benar dilatih. Kita terancam melahirkan generasi yang fasih menggunakan teknologi, tetapi “buta makna” ketika diminta berpikir secara mendalam.

Pendidikan dasar adalah fase di mana anak-anak belajar bergulat dengan masalah. Mereka belajar mengeja kata demi kata, menghitung angka, memecahkan soal cerita, dan merangkai kalimat dari pikiran mereka sendiri. Proses yang memerlukan ketekunan itulah yang melatih ketahanan mental dan kebiasaan menalar.

Ketika anak-anak terbiasa menyerahkan tugas-tugas tersebut kepada AI, kemandirian berpikir digantikan oleh instanisasi. Ketika tugas menulis karangan atau menyelesaikan soal matematika diselesaikan oleh bot dalam hitungan detik, anak tidak sedang belajar. Mereka sedang menyusutkan kapasitas otaknya untuk berpikir kritis.

Lebih jauh lagi, fenomena ini berpotensi melahirkan bentuk “kebohongan akademik baru” sejak usia dini. Jika sebelumnya manipulasi administrasi atau plagiasi copy-paste dilakukan oleh orang dewasa, kini anak-anak pun mulai terbiasa memamerkan karya yang bukan hasil dari keringat dan kejernihan akal mereka sendiri, melainkan hasil “suapan” algoritma.

 Hilangnya Sentuhan Humanis dan Ruh Tarbiyah

Pendidikan dasar bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan proses pembentukan jiwa (tarbiyah). Guru di ruang kelas SD tidak hanya mengajarkan rumus atau isi buku teks; mereka membaca ekspresi kebingungan seorang anak, menenangkan keraguan, merawat rasa percaya diri, dan memberikan teladan empati.

Dalam pandangan filosofis, AI dan teknologi pada hakikatnya bersifat netral—ia bebas nilai. Teknologi tidak memiliki moral, tidak tahu arah, dan tidak bisa menilai benar atau salah. Di sinilah pendidikan karakter menjadi sebuah keniscayaan yang mutlak. Tanpa fondasi karakter yang kuat, kenetralan teknologi justru bisa terseret ke arah penyalahgunaan, membuat anak-anak menjadi hamba dari kecanggihan alat tanpa memiliki kendali moral.

Algoritma secanggih apa pun tidak akan pernah memiliki kepekaan rasa. Ketika interaksi belajar direduksi menjadi layar pintar dan jawaban instan tanpa filter nilai, sekolah kehilangan ruh humanisnya. Anak-anak mungkin dididik menjadi cepat secara teknis, tetapi miskin secara nurani. Oleh karena itu, pengenalan teknologi di usia dasar harus senantiasa dibingkai oleh bimbingan moral, agar anak memahami bahwa tidak semua hal yang bisa dilakukan oleh mesin layak untuk ditiru oleh manusia.

 Mengembalikan AI pada Tempatnya

Lalu, haruskah kita menolak AI? Tentu saja tidak. Teknologi tidak untuk dilawan, melainkan dikelola dengan kearifan pedagogis. AI dapat dimanfaatkan oleh guru—bukan oleh siswa SD—sebagai alat bantu merancang media pembelajaran yang kreatif, memperkaya referensi mengajar, atau menyusun strategi pembelajaran adaptif.

Namun, untuk peserta didik di tingkat dasar, batasan yang tegas harus diletakkan. Kecepatan bukanlah segalanya dalam dunia anak. Manusia tidak diciptakan untuk berpikir instan seperti mesin, melainkan untuk merenung, mencoba, gagal, dan bangkit kembali melalui proses yang autentik.

Sebab, kemajuan pendidikan dasar tidak diukur dari seberapa cepat jawaban tersaji di layar gawai, melainkan dari seberapa jujur dan tangguh proses berpikir yang terbangun di dalam diri anak-anak kita. Sebelum kita terlalu kagum pada kecanggihan teknologi, mari pastikan bahwa ia tidak merusak esensi paling berharga dari mendidik: memanusiakan manusia sejak usianya yang dini.

Penulis: Dr. Nana Suryana, M.Pd, Dosen IAILM Suryalaya dan Pemerhati Pendidikan Dasar. (*)

LAINNYA