Selamat! UMT Jadi PTS Pertama di Banten Buka Pendidikan Kedokteran

waktu baca 4 menit
Selasa, 6 Okt 2026 14:38 42 Redaksi

TANGERANG | TD — Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) resmi membuka babak baru dalam pengembangan pendidikan kedokteran di Banten setelah memperoleh izin penyelenggaraan Program Studi Kedokteran Program Sarjana dan Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Program Profesi.

Izin tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1140/B/O/2026. Penyerahan keputusan berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026, di Kampus UMT, Jalan Perintis Kemerdekaan II, Cikokol, Kota Tangerang.

Dengan terbitnya izin tersebut, UMT menjadi perguruan tinggi swasta (PTS) di Banten yang membuka pendidikan kedokteran, melengkapi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sebagai perguruan tinggi negeri yang telah lebih dahulu menyelenggarakan pendidikan kedokteran di provinsi tersebut.

Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., mengatakan pembukaan pendidikan kedokteran bukan proses yang sederhana. UMT, kata dia, membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk memenuhi berbagai persyaratan.

“Pendirian kedokteran ini tidak mudah dan tidak murah,” ujar Lukman dalam acara penyerahan SK.

Menurutnya, perguruan tinggi yang hendak membuka pendidikan kedokteran harus memenuhi sejumlah persyaratan, antara lain memiliki tata kelola yang unggul, memiliki program studi di bidang kesehatan, menyiapkan 26 dosen, 11 laboratorium, rumah sakit pendidikan, serta fakultas pembina.

Lukman mengatakan, setelah izin diterbitkan, tantangan UMT belum selesai. Pada tahap awal, UMT hanya diperbolehkan menerima maksimal 50 mahasiswa. Jumlah tersebut dapat meningkat hingga 250 mahasiswa setelah program studi memperoleh akreditasi unggul.

Pembatasan kuota, menurut Lukman, berkaitan langsung dengan upaya menjaga mutu pendidikan kedokteran.

“Kenapa dibatasi 50? Untuk menjaga kualitas,” katanya.

Ia menjelaskan, UMT telah menyiapkan 26 dosen untuk mendampingi maksimal 50 mahasiswa. Rasio tersebut dinilai penting karena pendidikan kedokteran berkaitan langsung dengan keselamatan dan kualitas pelayanan manusia.

“Karena kedokteran ini terkait dengan nyawa,” ujar Lukman.

Persaingan Ketat

Lukman juga mengungkapkan ketatnya proses pembukaan program studi kedokteran di Indonesia. Dari lebih dari 500 perguruan tinggi yang mengusulkan pembukaan pendidikan kedokteran, sekitar 150 di antaranya telah memperoleh SK operasional.

Di Banten, menurut dia, baru terdapat dua perguruan tinggi yang telah memperoleh izin tersebut, yakni Untirta dan UMT.

Ia berharap keberadaan pendidikan kedokteran di UMT dapat dipertahankan sekaligus memberikan ruang lebih besar bagi putra-putri daerah Banten. Ia juga membuka peluang dukungan beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu melalui skema yang disediakan pemerintah.

UMT Siapkan Laboratorium dan Cadaver

Rektor UMT Assoc. Prof. Dr. Warsito, M.Si., mengatakan kampus telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan kedokteran.

Di antaranya laboratorium anatomi di area basement yang dilengkapi cadaver serta teknologi anatomi digital tiga dimensi. UMT juga memiliki 12 laboratorium standar, atau satu laboratorium lebih banyak dari kebutuhan yang disebutkan dalam persyaratan.

“Di situ termasuk ada cadaver, terus termasuk ada anatomi yang sifatnya digital, yang tiga dimensi,” kata Warsito.

UMT juga telah menyiapkan dua cadaver untuk mendukung pembelajaran anatomi mahasiswa kedokteran.

Dari sisi waktu penyelenggaraan, Warsito mengatakan kegiatan akademik pendidikan kedokteran ditargetkan mulai pada akhir Oktober. Penerimaan mahasiswa baru masih berlangsung hingga batas waktu yang diperbolehkan sesuai ketentuan.

Untuk tahap awal, UMT menargetkan penerimaan maksimal 50 mahasiswa, sesuai ketentuan bagi fakultas kedokteran yang baru dibuka.

UMT juga menyiapkan jejaring rumah sakit untuk mendukung pendidikan klinis, di antaranya RS Sitanala, RSUD Tangerang, RSUD Kota Tangerang, RSIA PKU Muhammadiyah Cipondoh.

Tak Hanya Kompeten, tetapi Berintegritas

Warsito menegaskan, pendidikan kedokteran UMT tidak semata diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang menguasai kompetensi medis.

Lulusan juga diharapkan memiliki karakter keislaman, integritas, dan kemampuan sosial yang kuat.

“Dia punya kemampuan profesional sebagai dokter, tapi dia juga memiliki karakter Islamnya yang baik, kemudian integritas yang baik, kemampuan sosialnya yang baik,” ujar Warsito.

Dalam lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), UMT disebut menjadi perguruan tinggi ke-24 yang memiliki fakultas kedokteran.

Akademik Dimulai Akhir Oktober

Warsito mengatakan kegiatan akademik pendidikan kedokteran UMT direncanakan mulai akhir Oktober 2026.

Pada masa penerimaan tersebut, UMT masih membuka calon mahasiswa sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk tahap awal, jumlah mahasiswa baru ditargetkan maksimal 50 orang.

“Kalau targetnya 50, sesuai dengan aturan pemerintah, kan untuk fakultas kedokteran baru maksimal 50,” ujarnya.

BPH: Hasil Ikhtiar Bersama

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMT Dr. H. Saiman Sholeh, S.Ag., M.Pd., menyambut terbitnya izin pendidikan kedokteran sebagai sebuah anugerah sekaligus hasil dari proses panjang dan ikhtiar bersama.

Saiman mengaitkan kehadiran pendidikan kedokteran dengan ikhtiar Muhammadiyah dalam merespons persoalan kesehatan masyarakat, khususnya dalam mengatasi persoalan kesehatan fisik.

Ia juga menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT serta apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses persiapan hingga terbitnya izin penyelenggaraan pendidikan kedokteran.

Bagi UMT, terbitnya izin tersebut bukan menjadi garis akhir. Keputusan menteri justru menandai dimulainya tahap baru untuk membuktikan kesiapan sumber daya manusia, fasilitas pendidikan, rumah sakit pendidikan, serta mutu akademik dalam melahirkan dokter yang kompeten, berintegritas, dan memiliki karakter keislaman. (*)

LAINNYA