Jangan Biarkan Sorak Piala Dunia Menenggelamkan Jeritan Palestina

waktu baca 5 menit
Selasa, 30 Jun 2026 10:43 59 Redaksi

OPINI | TD — Ketika jutaan pasang mata terpaku pada sebuah bola yang bergulir di lapangan hijau, dunia seolah berhenti sejenak untuk merayakan sepak bola. Stadion bergemuruh, kafe dipenuhi penonton, ruang keluarga berubah menjadi tribun kecil, dan media sosial dibanjiri perbincangan tentang gol, strategi, serta peluang juara.

Piala Dunia telah melampaui statusnya sebagai sekadar turnamen olahraga. Ia menjadi fenomena global yang menyatukan manusia lintas bangsa, bahasa, budaya, dan agama dalam satu euforia bersama.

Namun, di saat yang sama, ada sebuah negeri yang tidak pernah benar-benar ikut bersorak. Di Palestina, kehidupan tetap berjalan di bawah bayang-bayang perang, kehilangan, dan krisis kemanusiaan. Ketika dunia bersuka cita menyambut sebuah gol, banyak keluarga Palestina masih berjuang mempertahankan hidup di tengah keterbatasan makanan, air bersih, obat-obatan, dan layanan kesehatan.

Kontras inilah yang seharusnya menggugah nurani kita. Mengapa perhatian dunia dapat begitu mudah tersedot oleh hiburan, sementara penderitaan kemanusiaan yang berlangsung bertahun-tahun perlahan tersingkir dari kesadaran publik?

Palestina menjadi salah satu cermin paling nyata tentang ketimpangan perhatian global. Informasi mengenai hasil pertandingan menyebar dalam hitungan detik, sementara kabar tentang korban sipil sering kali berlalu tanpa mendapat kepedulian yang sepadan.

Tentu tidak ada yang salah dengan menikmati sepak bola. Islam tidak pernah memusuhi hiburan. Sebaliknya, Islam adalah agama yang realistis (din waqi’iy), yang memahami kebutuhan manusia akan rekreasi, keindahan, dan ketenangan selama semuanya diperoleh dengan cara yang halal dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah SWT.

Karena itu, persoalannya bukan terletak pada hiburan, melainkan ketika hiburan mengikis empati, mengubah skala prioritas, dan membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sesamanya.

Jangan Sampai Hiburan Mengalahkan Kepedulian

Islam memperbolehkan hiburan selama tidak mengandung unsur maksiat, perjudian, kedzaliman, membuka aurat, atau hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Namun, Islam juga mengingatkan bahwa setiap waktu, perhatian, dan harta yang dimiliki manusia adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Dalam konteks modern, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola. Ia telah berkembang menjadi industri global yang melibatkan perputaran ekonomi dalam jumlah sangat besar.

Pada setiap penyelenggaraannya, jutaan orang melakukan perjalanan lintas negara demi menyaksikan pertandingan secara langsung. Dalam salah satu diskursus publik di Arab Saudi bahkan muncul estimasi sekitar satu juta penggemar dari kawasan Arab akan berangkat ke Amerika Serikat untuk menyaksikan Piala Dunia. Walaupun angka tersebut bersifat perkiraan, ia tetap menggambarkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap ajang olahraga terbesar di dunia itu.

Apabila satu orang menghabiskan biaya perjalanan sekitar Rp200 juta yang mencakup tiket pesawat, akomodasi, konsumsi, transportasi, dan tiket pertandingan, maka secara akumulatif nilainya dapat mencapai sekitar Rp200 triliun.

Angka tersebut tentu bukan untuk menghakimi siapa pun yang menikmati olahraga. Namun, besarnya sumber daya yang dihabiskan untuk hiburan mengajak kita merenung: seandainya sebagian kecil saja dari perhatian, energi, dan kemampuan finansial itu diarahkan untuk membantu krisis kemanusiaan, berapa banyak kehidupan yang dapat diselamatkan?

Pada titik inilah pertanyaan moral layak diajukan. Ke mana sesungguhnya arah perhatian manusia modern? Mengapa dunia begitu cepat merespons hasil pertandingan, tetapi sering kali tidak memiliki kecepatan yang sama dalam merespons tragedi kemanusiaan?

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din mengingatkan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu dan hartanya. Sementara itu, Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa menjelaskan bahwa sesuatu yang melalaikan manusia dari kewajiban kepada Allah dan tanggung jawab sosial dapat menjadi bentuk penyimpangan prioritas meskipun secara lahiriah tidak selalu tergolong haram.

Islam mengajarkan keseimbangan. Dunia boleh dinikmati, tetapi jangan sampai mengalahkan akhirat. Hiburan boleh disukai, tetapi jangan sampai mematikan empati terhadap mereka yang sedang menderita.

Jadwal Pertandingan Jangan Mengalahkan Ibadah

Di balik padatnya jadwal pertandingan, terdapat ujian lain yang sering tidak disadari. Banyak pertandingan berlangsung hingga larut malam bahkan menjelang dini hari. Tidak sedikit orang rela begadang demi menyaksikan setiap laga.

Ironisnya, semangat itu terkadang tidak diiringi kesungguhan untuk bangun menunaikan qiyamul lail ataupun shalat Subuh berjamaah. Padahal, kemenangan terbesar seorang mukmin bukanlah menyaksikan tim favoritnya mengangkat trofi, melainkan menjaga hubungan dengan Allah SWT di tengah derasnya arus hiburan dunia.

Shalat bukan sekadar ritual. Ia adalah fondasi kehidupan seorang Muslim dan penentu arah hidupnya. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menjelaskan bahwa qiyamul lail merupakan salah satu bentuk kedekatan paling istimewa antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Karena itu, jika seseorang sanggup bertahan berjam-jam menyaksikan pertandingan, hendaknya ia juga berusaha menjaga shalat Subuh, qiyamul lail, dan kewajiban-kewajiban lainnya. Di situlah letak ujian sesungguhnya: apakah hiburan memperkuat syukur kepada Allah atau justru melalaikan seorang hamba dari Tuhannya.

Piala Dunia Sebagai Sarana Dakwah

Di sisi lain, Piala Dunia juga dapat menjadi ruang dakwah yang sangat luas apabila dimanfaatkan dengan baik.

Penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi contoh menarik. Untuk pertama kalinya turnamen terbesar dunia berlangsung di negara mayoritas Muslim. Nilai-nilai Islam tampil lebih terbuka di ruang publik internasional melalui penyediaan fasilitas ibadah, pengenalan budaya Islam, hingga distribusi Al-Qur’an kepada para pengunjung.

Dalam berbagai pertandingan internasional, kita juga menyaksikan para pemain Muslim tetap menjaga identitas keagamaannya dengan berdoa sebelum bertanding, bersujud syukur setelah mencetak gol, atau menunjukkan akhlak yang baik di tengah kerasnya kompetisi.

Lebih dari itu, beberapa momen turnamen internasional juga menjadi ruang lahirnya solidaritas terhadap Palestina. Pengibaran bendera Palestina, dukungan dari para pemain maupun suporter, serta pesan-pesan kemanusiaan tersebar luas melalui media sosial dan menjadi pengingat bahwa penderitaan rakyat Palestina tidak boleh dilupakan.

Karena itu, menonton Piala Dunia tidak harus berhenti pada level hiburan semata. Ia dapat menjadi momentum memperkuat ukhuwah, menumbuhkan empati, serta mengingatkan dunia bahwa masih ada saudara-saudara kita yang hidup di bawah penderitaan panjang.

Piala Dunia akan selesai. Juara akan berganti. Sorak-sorai stadion perlahan akan menghilang, dan dunia akan kembali pada rutinitasnya.

Namun, penderitaan Palestina belum tentu berakhir ketika peluit final dibunyikan.

Karena itu, nikmatilah sepak bola sebagai hiburan yang dibolehkan. Bersoraklah ketika tim favorit mencetak gol. Tetapi jangan biarkan sorak-sorai itu menenggelamkan jeritan Palestina, melemahkan ibadah, atau mematikan kepedulian kepada sesama.

Sebab, pada akhirnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah bukanlah berapa banyak pertandingan yang kita saksikan, melainkan apa yang telah kita lakukan ketika menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita.

Penulis: Imaam Yakhsyallah Mansur, Pembina Jaringan Ponpes Al-Fatah se-Indonesia. (*)

LAINNYA