Wawasan Nusantara sebagai Kompas Kebangkitan Nasional di Era Digital

waktu baca 4 menit
Selasa, 16 Jun 2026 17:37 44 Nazwa

OPINI | TD — Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum lahirnya kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan dan persatuan bangsa. Dahulu, para pendahulu bangsa rela mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi membebaskan Indonesia dari penjajahan. Namun, tantangan yang kita hadapi hari ini tentu berbeda.

Jika dulu perjuangan dilakukan di medan perang dengan senjata dan strategi militer, kini ancaman hadir melalui layar gawai yang kita gunakan setiap hari. Ruang digital telah menjadi arena baru yang memengaruhi cara berpikir, berinteraksi, hingga menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, semangat kebangkitan nasional perlu dimaknai kembali sesuai dengan konteks zaman.

Perkembangan teknologi digital memang membawa banyak kemudahan. Namun di balik manfaat tersebut, terdapat berbagai ancaman yang tidak bisa dianggap sepele. Maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, perjudian online, pencurian data pribadi, hingga manipulasi opini publik menjadi bukti bahwa ruang digital dapat menjadi ancaman serius bagi persatuan bangsa.

Data dan informasi kini menjadi sumber daya strategis yang tidak kalah penting dibandingkan wilayah darat, laut, maupun udara. Dalam situasi seperti ini, menjaga kedaulatan digital menjadi bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan negara. Ancaman terhadap ruang digital pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas sosial, ekonomi, bahkan politik nasional.

Di sinilah pentingnya mengontekstualisasikan Wawasan Nusantara. Selama ini, Wawasan Nusantara sering dipahami sebagai cara pandang bangsa Indonesia terhadap wilayah geografisnya yang luas dan beragam. Padahal, esensinya jauh lebih dalam, yakni bagaimana seluruh elemen bangsa memiliki kesadaran untuk menjaga persatuan dan keutuhan Indonesia di tengah berbagai tantangan yang terus berkembang.

Pada era digital, makna tersebut perlu diperluas. Ruang siber tidak lagi sekadar tempat mencari hiburan atau bertukar informasi, tetapi telah menjadi ruang kehidupan baru yang memengaruhi hampir seluruh aktivitas manusia. Di dalamnya berlangsung pertarungan gagasan, penyebaran nilai, kompetisi ekonomi, hingga perebutan pengaruh politik yang melampaui batas negara.

Tanpa pemahaman Wawasan Nusantara yang kuat, masyarakat mudah terjebak dalam polarisasi, konflik identitas, serta berbagai bentuk disinformasi yang mengancam kohesi sosial. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika literasi digital masyarakat, khususnya generasi muda, belum sepenuhnya mampu mengimbangi derasnya arus informasi yang beredar di internet.

Oleh karena itu, semangat Hari Kebangkitan Nasional di era digital tidak cukup diwujudkan melalui upacara dan seremoni semata. Kebangkitan masa kini menuntut kemampuan berpikir kritis, kesadaran etis dalam bermedia, serta tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan memiliki dampak yang dapat memperkuat atau justru melemahkan persatuan bangsa.

Generasi muda sebagai pengguna internet terbesar di Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga ruang digital yang sehat. Mereka tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga harus menjadi produsen gagasan, karya, dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Nasionalisme di era digital tidak selalu ditunjukkan melalui slogan atau simbol, melainkan melalui kontribusi nyata dalam menciptakan ekosistem digital yang produktif, aman, dan beradab.

Dengan menjadikan Wawasan Nusantara sebagai kompas moral dan teknologi sebagai sarana kemajuan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menghadapi tantangan abad ke-21. Kebangkitan nasional hari ini bukan sekadar mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga memastikan bahwa bangsa ini tetap berdaulat di tengah perubahan global yang semakin cepat.

Sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap individu, ada tiga hal yang patut dibiasakan. Pertama, menyaring informasi sebelum membagikannya untuk mencegah penyebaran hoaks. Kedua, memenuhi ruang digital dengan konten yang edukatif, kreatif, dan inspiratif. Ketiga, menjaga keamanan data pribadi agar tidak mudah disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pada akhirnya, merawat semangat Hari Kebangkitan Nasional di era digital berarti menjaga Indonesia bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang maya. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik dan sumber daya alam, melainkan juga oleh kemampuan masyarakatnya dalam mengelola informasi, teknologi, dan persatuan di tengah era digital yang terus berkembang.

Penulis: Dian Ayu Ramadhani
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang. (*)

LAINNYA