Dr. Zulkifli, M.A. (Foto: Dok. Pribadi) OPINI | TD — Sosok yang paling sering dicontoh dan ditiru anak dalam kehidupan adalah figur seorang ayah. Ayah merupakan guru sekaligus pendidik dalam kehidupan keluarga. Dalam Islam, sosok ayah adalah pemimpin keluarga yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai qawwam. Ayah bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga bertanggung jawab menjaga kesejahteraan fisik dan spiritual anggota keluarganya.
Saat ini, masyarakat dihadapkan pada fenomena yang banyak diperbincangkan, baik di televisi maupun media sosial, yaitu fatherless. Istilah fatherless berarti tidak hadirnya sosok ayah, baik secara fisik maupun emosional. Secara fisik, kondisi ini dapat terjadi karena kematian, perceraian, atau pekerjaan ayah yang membuatnya jauh dari keluarga sehingga komunikasi menjadi terbatas. Sementara secara emosional, fatherless berarti anak tidak memiliki kedekatan dengan ayah karena kurangnya perhatian, kasih sayang, dan keterlibatan dalam pola pengasuhan.
Dampak dari kondisi fatherless sangat besar bagi perkembangan anak, di antaranya munculnya masalah emosional, kecemasan, depresi, hingga rendahnya rasa percaya diri. Oleh sebab itu, Al-Qur’an memberikan gambaran tentang pentingnya peran ayah dalam mendampingi putra-putrinya, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam.
1. Ayah sebagai Pendidik dan Pengajar
Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah teladan ayah yang mendidik keluarganya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Beliau mengajarkan nilai ketakwaan serta mendekatkan keluarganya kepada Allah SWT. Pendidikan yang diberikan tidak hanya berupa nasihat, tetapi juga keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Membersamai Anak dalam Pertumbuhan dan Ketaatan
Kehadiran ayah sangat penting sejak anak usia dini sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya. Sosok ayah dibutuhkan sebagai pemimpin yang terlibat langsung dalam pembentukan karakter anak.
Kita dapat melihat bagaimana Nabi Ibrahim memanfaatkan waktu bersama putranya untuk menanamkan nilai ketaatan kepada Allah SWT melalui keteladanan. Hal ini tergambar dalam QS. Al-Baqarah ayat 127:
“Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’”
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim mengisi kebersamaan dengan anaknya melalui amal saleh dan ibadah kepada Allah SWT.

Dr. Zulkifli, M.A (tengah) bersama Pengurus Masjid Al Furqon Karawaci, Kota Tangerang. (Foto: Dok. Penulis)
3. Selalu Mendoakan Anak
Di mana pun berada, seorang ayah hendaknya selalu menyelipkan doa untuk anak-anaknya. Doa adalah bentuk kasih sayang dan perhatian yang tidak pernah terputus.
Nabi Ibrahim Alaihissalam memberikan teladan luar biasa ketika meninggalkan keluarganya di Makkah atas perintah Allah SWT. Meskipun terpisah jarak jauh, beliau tetap menjaga kedekatan emosional dengan doa.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan agar mereka bersyukur.”
Doa tersebut menunjukkan betapa besar perhatian Nabi Ibrahim terhadap keselamatan, ibadah, dan masa depan keluarganya.
4. Menjadi Pemberi Nasihat dan Petuah
Seorang ayah juga harus menjadi sahabat komunikasi bagi anak-anaknya. Nabi Ibrahim Alaihissalam senantiasa memberikan petuah dan nasihat agar keluarganya tetap berpegang teguh pada ajaran Islam serta taat kepada Allah SWT.
Nasihat yang disampaikan dengan kelembutan dan kasih sayang akan lebih mudah diterima dan membekas dalam hati anak.
5. Menjadi Pelindung dan Pengayom Keluarga
Al-Qur’an menegaskan bahwa seorang kepala keluarga wajib menjaga keluarganya dari api neraka. Hal itu dapat dilakukan dengan cara:
A. Melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT
B. Menjauhi perbuatan maksiat
C. Senantiasa berzikir dan mengingat Allah SWT
Pada akhirnya, menjadi seorang ayah adalah sebuah amanah besar. Menjadi ayah bukan berarti harus sempurna, tetapi yang paling dibutuhkan adalah kehadiran, perhatian, dan keteladanan.
Al-Qur’an telah memberikan gambaran tentang bagaimana peran seorang ayah dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya. Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam tetap relevan sepanjang zaman sebagai sosok ayah ideal yang mampu merangkul, mengajak, dan berkomunikasi dengan baik sehingga berhasil mendidik putranya menjadi nabi yang sabar dan saleh.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut dalam menjalankan amanah sebagai ayah yang baik, yang mampu mengantarkan keluarga menuju rida dan surga Allah SWT. Aamiin.
Penulis: Dr. Zulkifli, M.A. (*)