Kepala Dinas Kesehatan Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdaniar (Foto: Ist) KOTA TANGSEL | TD — Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat tren kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang awal 2026 menunjukkan kecenderungan menurun, meski kewaspadaan tetap harus dijaga.
Kepala Dinas Kesehatan Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, mengungkapkan bahwa berdasarkan tren mingguan, jumlah kasus sejak Januari hingga awal April terus mengalami penurunan.
“Secara tren per minggu, kasus kita cenderung turun. Total kasus dari Januari hingga minggu terakhir sekitar 128 kasus, dan yang penting tidak ada kematian,” ujar Allin, Senin, 6 April 2026.
Ia menjelaskan, pada periode 1 hingga 5 Maret 2026 tercatat akumulasi 128 kasus. Namun secara bulanan, terjadi penurunan signifikan dari Maret ke awal April.
“Di bulan Maret tercatat 37 kasus, sementara pada minggu pertama April hanya 15 kasus. Artinya, tren memang menurun. Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Maret 2025 tercatat 43 kasus, sedangkan Maret 2026 turun menjadi 37 kasus,” jelasnya.
Meski demikian, penyebaran kasus masih terkonsentrasi di sejumlah kecamatan. Berdasarkan data Dinkes, Kecamatan Serpong mencatat kasus tertinggi dengan 29 kasus.
“Serpong masih tertinggi, disusul Pamulang 24 kasus, Ciputat 23 kasus, dan Pondok Aren 22 kasus. Sementara Serpong Utara 14 kasus, Setu 13 kasus, dan Ciputat Timur 3 kasus,” paparnya.

Allin menilai, tren penurunan ini tidak lepas dari upaya masif pemerintah bersama masyarakat dalam melakukan pencegahan DBD.
Program “satu rumah satu jumantik” terus digencarkan, yakni mendorong setiap rumah memiliki juru pemantau jentik secara mandiri. Selain itu, kader kesehatan juga aktif turun ke lapangan untuk melakukan edukasi serta pemeriksaan jentik secara berkala.
“Kami juga melakukan silent survey serta mendorong sertifikasi RW bebas jentik. Dari situ, masyarakat didorong untuk mengubah perilaku agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Ia berharap berbagai upaya tersebut tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, melainkan mampu membentuk kebiasaan hingga menjadi budaya hidup sehat di tengah masyarakat.
“Harapannya ini menjadi gaya hidup, bahkan budaya. Masyarakat terbiasa menjaga lingkungan dan membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” tutupnya. (Idris Ibrahim/Red)