OPINI | TD — Pada era digital saat ini, penggunaan media sosial sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik dari kalangan muda maupun tua. Beragam aplikasi media sosial hadir dan digunakan secara aktif untuk berkomunikasi, berbagi informasi, hingga memperoleh berita terkini. Informasi yang sebelumnya hanya dapat diakses melalui televisi atau stasiun penyiaran tertentu, kini dapat dengan mudah diperoleh secara cepat melalui media sosial.
Peningkatan penggunaan internet di Indonesia memberikan dampak besar dalam berbagai aspek kehidupan. Adopsi teknologi internet yang semakin cepat dan meluas menjadi faktor utama pertumbuhan tersebut. Perluasan jaringan, kemudahan akses perangkat digital, serta meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat internet turut mendorong tingginya penggunaan media sosial.
Namun, pertumbuhan ini juga menghadirkan berbagai tantangan etika. Isu keamanan data pribadi, privasi, serta penyebaran konten negatif menjadi perhatian serius. Konten seperti hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan siber (cyberbullying) semakin marak terjadi. Pengguna media sosial yang tidak bijak kerap melontarkan kritik secara tidak sopan dan tidak beretika. Meskipun tidak menimbulkan luka fisik, cyberbullying dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental korban, seperti rasa cemas, tertekan, hingga gangguan psikologis. Di sisi lain, kritik yang disampaikan secara santun dan bertanggung jawab tetap diperlukan, terutama untuk menegur konten yang melanggar etika, norma, atau aturan yang berlaku.
Pendekatan holistik dengan melibatkan berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Bagi generasi Z, media sosial memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan pola perilaku. Konten yang dikonsumsi maupun dibagikan dapat memengaruhi cara berpikir dan bersikap. Oleh karena itu, pemahaman mengenai etika siber menjadi penting agar generasi Z mampu menghargai privasi, keadilan, serta tanggung jawab digital. Mahasiswa, khususnya, perlu memahami dampak dari setiap tindakan yang dilakukan di ruang digital serta berpikir kritis terhadap informasi yang beredar. Kemampuan membedakan informasi yang valid dan hoaks, menghindari konten merugikan, serta membangun lingkungan digital yang aman dan etis menjadi keterampilan yang sangat dibutuhkan.
Dalam penggunaan media sosial, selalu terdapat dampak positif maupun negatif. Dampak negatif yang sering muncul antara lain penyebaran misinformasi yang sangat cepat, meningkatnya risiko cyberbullying, kecanduan media sosial, serta menurunnya rentang perhatian. Hal ini dapat memengaruhi kepercayaan seseorang terhadap berita yang belum tentu benar atau tidak memiliki dasar yang jelas.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga turut memengaruhi penggunaan media sosial. AI memiliki kemampuan meniru fungsi kognitif manusia seperti belajar, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Teknologi ini sangat membantu dalam berbagai aktivitas, termasuk menyelesaikan tugas dan memperoleh informasi secara instan. Namun, ketergantungan berlebihan pada AI dapat membuat manusia menjadi kurang kritis dan malas mencari sumber yang kredibel. Selain itu, teknologi deepfake sebagai bagian dari AI berpotensi disalahgunakan. Deepfake mampu memanipulasi wajah, suara, dan ekspresi seseorang sehingga tampak nyata. Penyalahgunaannya dapat menimbulkan berbagai persoalan hukum, seperti penipuan, pencurian identitas, penyebaran hoaks, pelanggaran privasi, serta ancaman terhadap keamanan data pribadi (Hapiq et al., 2024).
Di sisi lain, media sosial juga memberikan banyak dampak positif. Media sosial meningkatkan konektivitas global dengan memungkinkan komunikasi lintas wilayah secara instan. Selain itu, media sosial memfasilitasi penyebaran informasi dan pengetahuan dengan cepat, mendukung kolaborasi serta interaksi kelompok, dan menyediakan akses real-time terhadap berita dan pembaruan terkini tanpa harus bergantung sepenuhnya pada media konvensional.
Agar media sosial dapat digunakan secara bijak, diperlukan edukasi mengenai etika dalam bermedia sosial. Pengguna juga perlu menyadari bahwa algoritma media sosial dibentuk berdasarkan aktivitas seperti like, komentar, share, dan repost. Oleh karena itu, penting untuk memilih dan mengonsumsi konten yang positif dan bermanfaat. Saat menemukan konten yang merugikan, pengguna sebaiknya menyampaikan kritik secara bijaksana, santun, dan tidak menyakiti pihak lain.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki kelebihan dan kekurangan. Media sosial memudahkan komunikasi jarak jauh serta memperluas akses terhadap informasi dan berita. Namun, tanpa sikap bijak dan etis, media sosial juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Oleh karena itu, kesadaran, tanggung jawab, dan etika dalam berkomunikasi online menjadi kunci utama dalam memanfaatkan media sosial secara positif dan bertanggung jawab.
Penulis: Keyla Veronika
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu sosial dan ilmu politik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)