Siti Salamah Ageung Pinatih. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | TD — Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir mendorong terjadinya perubahan signifikan dalam pola konsumsi informasi masyarakat. Salah satu fenomena paling menonjol adalah meningkatnya konsumsi konten berdurasi pendek (short-form content) pada platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Format konten yang singkat, cepat, dan mudah diakses ini telah menjadi konsumsi harian tidak hanya bagi remaja dan orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
Algoritma media sosial yang bekerja berdasarkan preferensi pengguna —misalnya fitur For Your Page (FYP) pada TikTok— membuat individu secara pasif menerima arus konten tanpa perlu melakukan proses pencarian informasi secara aktif. Ketika pengguna menonton suatu video hingga selesai, sistem akan menampilkan konten serupa secara berulang, menciptakan siklus konsumsi yang terus dipertahankan oleh platform.
Keberhasilan konten pendek, yang kemudian diikuti oleh hampir seluruh platform besar, tidak terlepas dari kemampuannya memberikan kepuasan instan bagi otak. Secara neurologis, konsumsi konten cepat memicu pelepasan dopamin, yaitu neurotransmitter yang berkaitan dengan motivasi dan dorongan untuk mengejar pengalaman menyenangkan.
Aktivitas seperti scrolling video singkat berulang kali membuat dopamin dilepas dalam interval cepat sehingga menciptakan kecenderungan adiktif. Kebiasaan ini secara perlahan menurunkan toleransi otak terhadap informasi yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, sehingga memengaruhi kemampuan fokus, ketahanan kognitif, serta kualitas berpikir jangka panjang.
Dalam konteks akademik, mahasiswa menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Mahasiswa dituntut untuk mampu berpikir kritis, yakni melakukan analisis, evaluasi, dan kurasi terhadap informasi yang diterima sebelum membentuk penalaran atau mengambil keputusan (Nariswari, 2024). Namun, paparan intensif terhadap konten serba cepat dapat melemahkan kemampuan tersebut. Gratifikasi instan dari konten pendek berpotensi mengurangi motivasi mahasiswa untuk membaca sumber panjang seperti jurnal ilmiah, buku, atau artikel analitis. Kondisi ini turut menurunkan ketajaman berpikir, daya fokus, serta keinginan menggali perspektif lebih dalam.
Salah satu dampak yang semakin mengemuka adalah kesulitan mahasiswa dalam membedakan informasi kredibel dari misinformasi maupun disinformasi. Algoritma media sosial yang mengutamakan engagement sering kali mendorong pengguna masuk ke dalam filter bubble dan echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang hanya terekspos pada sudut pandang atau informasi yang selaras dengan preferensinya (Noviani & Latipa, 2022). Ketika informasi datang secara seragam dan berulang, ruang untuk mengembangkan perspektif alternatif atau berpikir reflektif menjadi semakin sempit. Hal ini tidak hanya memengaruhi kemampuan analisis, tetapi juga dapat memicu polarisasi opini, terutama di kalangan mahasiswa yang masih berada pada fase pembentukan cara pandang kritis.
Di lingkungan akademik, dampak penurunan kedalaman berpikir ini dapat diamati melalui kecenderungan mahasiswa menyampaikan argumen yang dangkal pada diskusi kelas. Banyak opini dibangun hanya dari potongan informasi viral atau headline singkat, bukan dari pemahaman komprehensif. Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan menyebabkan masalah manajemen waktu, seperti penundaan pengerjaan tugas, kurangnya konsistensi belajar, dan ketergantungan pada distraksi digital. Keterlibatan berlebih dengan layar menyebabkan waktu produktif tergerus, sehingga menurunkan performa akademik secara keseluruhan.
Untuk memulihkan kualitas literasi, fokus, dan kemampuan berpikir kritis, diperlukan langkah-langkah strategis. Pertama, social media detox menjadi salah satu pendekatan efektif. Pembatasan sementara atau penghapusan aplikasi media sosial dapat mengurangi paparan konten instan dan memberi ruang bagi otak untuk memulihkan ritme kognitif yang lebih stabil. Kedua, pengalihan aktivitas ke kegiatan fisik seperti olahraga pagi dapat meningkatkan kejernihan mental, mengurangi stres, dan memperpanjang rentang perhatian. Ketiga, membangun kembali kebiasaan membaca melalui teks singkat merupakan tahapan penting sebelum kembali terbiasa membaca tulisan panjang. Membaca artikel pendek, berita harian, atau platform seperti Medium dan Quora dapat menjadi jembatan untuk mengembalikan ketahanan konsentrasi.
Dengan memahami dinamika yang terjadi, mahasiswa diharapkan mampu membangun kesadaran kritis dalam menggunakan teknologi. Media sosial bukan sekadar ruang hiburan, melainkan ruang yang dapat membentuk cara berpikir dan memengaruhi kualitas belajar. Upaya mengelola konsumsi digital secara bijak menjadi langkah penting agar mahasiswa tetap mampu mengasah kemampuan berpikir kritis, mempertahankan fokus, dan menjaga kualitas aktivitas akademik.
Referensi
Nariswari, N. R. (2024). Pengaruh media sosial terhadap kemampuan berpikir kritis dan daya fokus masyarakat Indonesia. VICIDI, 14(2), 134–144.
Latipa, & Noviani, D. (2025). Dinamika pola pikir dan gaya belajar Generasi Alpha dalam era TikTok. Jurnal Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran, 6(4), 96–113.
Penulis : Siti Salamah Ageung Pinatih
Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)