Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z

waktu baca 3 minutes
Rabu, 26 Nov 2025 23:15 0 Redaksi

OPINI | TD – Perkembangan teknologi komunikasi digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan. Belanja daring (online) menjadi fenomena yang tidak hanya mempermudah akses produk, tetapi juga membentuk budaya konsumsi baru. Dalam konteks ini, perilaku konsumtif—pembelian barang lebih didorong oleh keinginan daripada kebutuhan—menjadi hal yang semakin terlihat, terutama di kalangan Generasi Z.

Generasi Z, lahir dan tumbuh di era digital, menjadikan media sosial bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti TikTok tidak lagi sekadar media hiburan; melalui konten influencer, siaran langsung penjualan, dan tren viral, TikTok berperan sebagai ruang pemasaran yang sangat efektif. Paparan visual yang menarik, tekanan sosial, dan algoritma yang personalisasi menciptakan dorongan emosional untuk membeli, sehingga keputusan konsumsi sering kali bersifat impulsif.

Fenomena ini relevan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, khususnya Pasal 4 dan Pasal 9, yang menekankan hak konsumen untuk mendapatkan informasi yang jelas dan larangan iklan menyesatkan. Namun, banyak konten media sosial yang berlebihan atau tidak transparan sehingga berpotensi menyesatkan konsumen muda.

Konten TikTok Memicu Konsumsi Berbasis Emosi dan Visual
Generasi Z cenderung terpengaruh oleh rute periferal dalam proses persuasi, di mana keputusan membeli lebih dipandu oleh daya tarik visual dan tren populer dibanding analisis rasional. Konten yang menarik secara estetika atau emosional mampu membentuk persepsi kebutuhan, meski sebelumnya individu tidak berniat membeli. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki kekuatan persuasif yang memengaruhi perilaku konsumtif secara halus namun efektif.

Peran Influencer dalam Membentuk Identitas dan Keputusan Konsumsi
Influencer menjadi figur penting yang memengaruhi perilaku konsumtif. Terutama selama pandemi, TikTok berfungsi sebagai ruang hiburan sekaligus referensi gaya hidup. Influencer yang membagikan pengalaman pribadi dan konten yang relatable dipersepsikan seperti “teman sebaya”, sehingga saran mereka lebih mudah diterima. Kedekatan emosional ini membuat perilaku konsumtif bukan hanya soal membeli produk, tetapi juga mengikuti identitas sosial yang ditawarkan oleh influencer.

Normalisasi Belanja melalui Fitur TikTok Shop
Integrasi TikTok Shop ke dalam konten hiburan memungkinkan proses pembelian dilakukan dengan cepat dan mudah, bahkan tanpa analisis mendalam. Fitur ini meminimalkan hambatan kognitif dan mendorong pembelian impulsif. Dengan kata lain, media sosial tidak hanya memengaruhi keinginan untuk membeli, tetapi juga mempermudah tindakan konsumtif secara instan.

Konsumsi sebagai Representasi Diri
Bagi generasi Z, konsumsi memiliki nilai simbolik. Produk yang dibeli dan ditampilkan di media sosial menjadi alat untuk menegaskan identitas, status, dan afiliasi komunitas. Fenomena ini menandai pergeseran paradigma: konsumsi bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan, tetapi sarana untuk mendapatkan validasi sosial dan membangun citra diri di ruang digital.

Pengaruh Media Sosial terhadap Mahasiswa sebagai Konsumen Aktif
Mahasiswa sebagai digital native terlibat dalam ekosistem sosial TikTok yang mendorong mereka mengikuti tren, merekomendasikan produk, dan merasa tertinggal bila tidak membeli produk populer. Interaksi sosial ini memperkuat perilaku konsumtif, menjadikan media sosial sebagai ruang yang tidak hanya menghibur tetapi juga membentuk pola konsumsi kolektif.

Kesimpulan
Media sosial, khususnya TikTok, memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumtif Generasi Z melalui tiga aspek utama:

  • Visualisasi dan estetika konten: Menarik secara visual dan emosional, membentuk persepsi kebutuhan baru.
  • Peran influencer dan identitas sosial: Influencer membentuk referensi konsumsi sekaligus identitas sosial.
  • Fitur TikTok Shop: Mempermudah pembelian impulsif, menjadikan konsumsi bagian alami dari aktivitas sosial digital.

Dengan demikian, TikTok bukan hanya media hiburan, tetapi ruang sosial yang membentuk selera, keputusan, dan budaya konsumsi generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumtif tidak hanya dipicu oleh faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika psikologis dan sosial yang lahir dari interaksi digital.

Penulis: Nurlita, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA