3 Teknologi Perawatan Endometriosis Terbaru

waktu baca 2 minutes
Selasa, 6 Mei 2025 09:14 1 Patricia Pawestri

KESEHATAN | TD – Kebahagiaan hidup bagi setiap perempuan tentu tak lepas dari tubuh yang sehat. Prinsip inilah yang menjadikan perempuan wajib mengenali kesehatan dirinya. Di antaranya mengenai kesehatan sistem reproduksi, di mana persoalan tentang endometriosis penting diketahui.

Dalam artikel-artikel sebelumnya, penulis telah berusaha menuangkan pembahasan mengenai penyakit endometriosis. Bagaimana penyakit ini dapat membuat perempuan menjadi rentan, penyebabnya, dan tindakan medis yang dapat mengurangi gejalanya.

Sedangkan dalam artikel ini, penulis menuangkan beberapa teknologi perawatan terbaru yang dapat memudahkan diagnosis dan mengurangi gejala dari endometriosis. Berikut ini adalah 3 teknologi perawatan endometriosis terbaru yang telah ditemukan tersebut:

1. Deteksi Biomarker Endometriosis

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2022 mencatat keberhasilan metode pendeteksian adanya jaringan endometriosis dengan cara yang lebih mudah dan murah dari MRI dan laparoskopi. Yaitu dengan menemukan biomarker endometriosis di dalam sampel darah menstruasi.

Dari keberhasilan ini, didapatkan molekul pembawa informasi genetika (mRNA) dari Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α). Serta molekul penarik sel imun atau CXCL16 yang juga disebut kemokin. Peran TNF-α adalah memicu inflamasi atau peradangan. Sedangkan CXCL16 mempengaruhi migrasi sel imun serta memperparah peradangan.

2. Uji Mikrobiota

Jurnal BMC Womens Health pada tahun 2024 merilis penelitian yang mengungkapkan kecenderungan beberapa microbiota berada dalam saluran cerna penderita endometriosis. Bakteri-bakteri tersebut yaitu dari famili Prevotellaceae, ordo Bacillales, genus Oscillospira, Olsenella, dan Anaerotruncus. Sedangkan laman endometriosis-indonesia.id menyebutkan pusat penelitian mikrobioma di Australia menemukan bakteri Fusobacterium menjadi indikasi adanya endometriosis dalam tubuh seorang perempuan.

Meskipun penelitian hubungan antara microbiota usus dan endometriosis telah melampaui 2 dekade, tetapi kepastian mengenai keterkaitan keduanya masih terus diuji. Tetapi, di sisi perlu menjadi perhatian, bahwa microbiota usus yang tidak seimbang dapat memicu naiknya jumlah hormon estrogen dalam tubuh. Dan kenaikan inilah yang kemudian memungkinkan sel endometriosis berkembang.

3. Deteksi dengan Marasiklatid CT Scan

Metode deteksi CT scan ini menggunakan senyawa marasiklatid yang mengandung nuklir. Teknologi ini merupakan harapan untuk menganalisa keberadaan sel endometriosis dengan lebih efisien. Saat ini, metode tersebut tengah berada dalam tahap pengembangan dan pengujian dari Badan Pengawas Obat-obatan (FDA) Amerika Serikat.

Cara kerja alat tersebut memanfaatkan kemampuan marasiklatid untuk mengikat protein dari sel endometriosis yang sedang giat membentuk pembuluh darah. Adanya lesi dari sel tersebut kemudian divisualkan dengan alat pencitraan medis.

Demikianlah 3 teknologi terbaru yang memudahkan diagnosis endometriosis. (Pat)

LAINNYA