Dinkes: 9.028 Orang di Tangerang Diduga Tuberkulosis

Konferensi pers Komunitas Eliminasi Tuberkulosis Konsorsium Pena bulu STPI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang yang mengungkap tingginya kasus tuberkulosis di Kabupaten Tangerang, Kamis, 29 Desember 2022. (Foto : Idris Ibrahim/TangerangDaily)
Bagikan:

KABUPATEN TANGERANG | TD — Sebanyak 2.000 orang diduga terkonfirmasi tuberkulosis (Tb) hingga kini belum terdeteksi dan diduga berbaur dengan masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang menyebutkan, penularan penyakit Tuberkulosis (Tb) di masyarakat membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak. Pasalnya, Tb masuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian. Hingga kini sudah ada 119 orang yang meninggal akibat penyakit tersebut.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang P2P pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Sumihar Sihaloho, dalam acara Konferensi Pers Pernyataan Bersama Upaya Kolaborasi Penanggulangan Tuberkulosis di Kabupaten Tangerang, yang digelar SSR/IU Komunitas Eliminasi Tuberkulosis Konsorsium Penabulu STPI di RM Joglo, Tigaraksa, Kamis (29/12/2022).

“Prinsip penanggulangan penyakit menular, kita harus mencari sumber penularannya. Seperti kasus Tb. Jika masih berkeliaran di masyarakat, maka penanggulangan sebaik apapun tidak akan berhasil. Kami menduga masih ada 52 persen masyarakat yang diduga terkonfirmasi Tb dan berkeliaran. Ini berbahaya dapat menularkan ke yang lain melalui bakteri,” kata Sumihar.

Maka lanjut Sumihar, strategi di Kabupaten Tangerang dalam penanggulangan Tb targetnya mendeteksi 9.028 orang yang diduga terkonfirmasi Tb.

“Kami sudah dapat sekitar 7.634 orang. Sisanya sekitar 2.000an orang kami belum mendeteksi dan diduga kuat mereka berbaur di masyarakat. Secara target kasus Tb itu banyaknya di wilayah Pasar Kemis, tapi berdasarkan temuan kasus itu terbanyak di wilayah Cisoka,” terangnya.

Menurut Sumihar, masyarakat perlu memahami bahaya penyebaran penyakit Tb, karena Tb masuk dalam 10 besar penyakit yang menyebabkan kematian. “Data yang masuk dalam sistem penanganan Tb, sudah 119 orang meninggal akibat Tb. Kita harus bersinergi dan penguatan komitmen dengan beberapa unsur lembaga atau komunitas dalam penanggulagan Tb,” jelasnya.

Lanjut Sumihar, Pemkab Tangerang juga meningkatkan akses layanan berkualias dengan menambah alat pemeriksaan Tb untuk mendiagnosis apakah terinfeksi atau tidak. Serta penambahan 1 RS Rujukan Tb yakni RSUD Balaraja.

“Kami juga meningkatkan kompetensi tenaga medis di Puskesmas dan RS, serta upaya kerjasama dengan RS lainnya,” terangnya.

Koordinator Program TB Tangerang, Dedi irawan menambahkan, Untuk mendeteksi Tb di masyarakat, pihaknya menerjunkan Kader Tb dari Puskemas untuk melakukan pemeriksaan.

“Mereka akan memeriksa orang yang kontak dengan pasien Tb, seperti untuk keluarga itu lima orang dan tetangga itu 15 orang. Setelah selesai kami berikan Kader reward sebagai upaya dia melakukan penelusuran kasus Tb,” jelasnya.

Selain itu, kata Dedi, pihaknya juga sudah melakukan 500 kali kegiatan penyuluhan di sejumlah lokasi di Kabupaten Tangerang yang melibatkan Kader Tb.

“Kami edukasi warga untuk memahami pentingnya deteksi dini. Berharap masyarakat yang hidup Serumah dengan pasien Tb, atau kontak erat mau melakukan screening atau pemeriksaan mandiri. Memang saat ini masih rendah kesadaran masyarakat melakukan pemeriksaan diri ke Puskesmas atau RS,” terangnya.

Dedi juga berharap dukungan dari awak media dan stakeholder terkait lainnya demi memaksimalkan pemahaman Tb bagi masyarakat dan upaya pencegahannya.

“Perlu juga dukungan dari Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Peraturan Daerah (Perda) Penanggulangan Tb, kalaupun tidak ya minimal Perbup (Peraturan Bupati) terkait penanggulangan Tb,” pungkasnya. (Red)

Bagikan: