Monitoring Pertumbuhan Balita dan Zat Tambah Darah Sebagai Metode Pencegah Stunting

Kasus stunting di Kabupaten Tangerang pada tahun 2022 turun menjadi 3,7 persen dibandingkan pada tahun 2021 dengan persentase mencapai 7,6 persen. Hal tersebut diungkap Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, dr. Desiriana Dinardianti, MARS berdasarkan hasil pengukuran melalui aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat atau ePPGBM.
Ilustrasi stunting (Foto : TangerangDaily)
Bagikan:

KABUPATEN TANGERANG | TD — Kasus stunting di Kabupaten Tangerang pada tahun 2022 turun menjadi 3,7 persen dibandingkan pada tahun 2021 dengan persentase mencapai 7,6 persen. Hal tersebut diungkap Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, dr. Desiriana Dinardianti, MARS berdasarkan hasil pengukuran melalui aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat atau ePPGBM.

Meskipun turun dari tahun sebelumnya, Pemkab Tangerang terus berkomitmen mengentaskan kasus stunting hingga nol persen. Karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mengajak seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) untuk menekan angka kasus stunting hingga nol persen.

“Dalam mewujudkan upaya perbaikan gizi masyarakat, khususnya gizi pada balita, dibutuhkan koordinasi serta komitmen dari berbagai pihak serta adanya program multisektoral yang efektif dan berkelanjutan,” kata dr. Desiriana Dinardianti, dikutip Jumat 16 Desember 2022.

Menurut dia, untuk menjawab tantangan tersebut diperlukan kegiatan perbaikan gizi masyarakat yang dimonitor dan dievaluasi secara berkala melalui surveillance gizi yang meliputi indikator masalah gizi dan indikator kinerja program gizi.

“Pemantauan keadaan gizi balita juga terus dilakukan, melalui ePPGBM (Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) dimana pertumbuhan keadaan gizi balita di posyandu tercatat setiap bulannya,” katanya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinkes Kabupaten Tangerang, dr. Sri Indriyani mengatakan kegiatan ini merupakan upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang pada langkah ke-7 dalam aksi konvergensi stunting.

“Pada aksi ke-7 ini kami terus melakukan pemantauan dan juga melakukan upaya dengan intervensi spesifik yaitu intervensi untuk 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dengan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran panjang atau tinggi badan balita oleh petugas kesehatan di puskesmas atau posyandu,” kata Sri Indriyanti menjelaskan bagaimana stunting dicegah.

Hal lain yang dilakukan untuk mencegah stunting adalah dengan pemberian obat penambah darah untuk ibu hamil. Ini untuk mencegah anemia. Anemia adalah salah satu faktor penyebab stunting. (Pat/Rom)

Bagikan: