Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh penulis.OPINI | TD — Tiga tahun telah berlalu sejak tragedi kelam di Stadion Kanjuruhan, Malang, namun aroma gas air mata dan jeritan pilu malam itu masih terngiang di ingatan bangsa. Lebih dari sekadar duka bagi dunia sepak bola, peristiwa ini adalah cermin buram bagaimana euforia olahraga bisa berubah menjadi bencana kemanusiaan ketika emosi, kelalaian, dan kekuasaan berbaur tanpa kendali. Kini, setelah tiga tahun, pertanyaan itu kembali menggema: apakah Indonesia sudah benar-benar belajar dari Tragedi Kanjuruhan?
Tiga tahun telah berlalu sejak Tragedi Kanjuruhan Malang, 1 Oktober 2022. Namun, luka sosial dan moral akibat peristiwa kelam itu belum sepenuhnya sembuh. Ratusan nyawa melayang, ratusan lainnya luka-luka, dan jutaan masyarakat Indonesia menyaksikan bagaimana sepak bola—yang seharusnya menjadi ruang sukacita—berubah menjadi tempat duka dan kehilangan.
Tragedi Kanjuruhan bukan sekadar catatan hitam dalam sejarah olahraga nasional, tetapi juga cermin rapuhnya tata kelola keamanan, keadilan, dan empati sosial di negeri ini. Hingga kini, sebagian keluarga korban masih berjuang mencari keadilan, sementara publik terus mempertanyakan: apakah negara sudah benar-benar belajar dari tragedi itu?
Awal mula tragedi itu tampak sederhana: kekalahan Arema FC atas rival abadi, Persebaya Surabaya, dengan skor 2–3. Namun, luapan emosi Aremania malam itu menjadi bumerang. Ratusan suporter turun ke lapangan, dan aparat merespons dengan penembakan gas air mata, tindakan yang jelas melanggar regulasi FIFA Stadium Safety and Security Regulations yang melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion.
Gas air mata yang ditembakkan ke arah tribun menyebabkan kepanikan luar biasa. Banyak pintu stadion tertutup, penonton saling berdesakan, hingga akhirnya 135 nyawa melayang, sebagian besar karena sesak napas dan terinjak-injak. Dalam hitungan menit, stadion yang semula bergemuruh oleh semangat berubah menjadi lautan jerit dan tangis.
Tiga tahun berlalu, publik bertanya-tanya: apakah tragedi ini benar-benar membawa perubahan berarti?
Pemerintah dan PSSI memang telah berjanji melakukan reformasi total. Standar keamanan stadion diperbaiki, pelatihan aparat ditingkatkan, dan kerja sama dengan FIFA terus dilakukan. Beberapa stadion direnovasi dan sistem tiket elektronik mulai diterapkan untuk menghindari kelebihan kapasitas. Namun, banyak yang menilai perubahan itu masih bersifat kosmetik, belum menyentuh akar masalah sebenarnya—yakni budaya kekerasan dan lemahnya penegakan hukum.
Dari sisi hukum, hanya segelintir pihak yang dijatuhi hukuman, itupun dengan vonis ringan. Bagi keluarga korban, keadilan terasa jauh dari jangkauan. Rasa kehilangan tidak dapat diukur dengan nominal santunan Rp 50 juta, dan tanggung jawab moral negara belum sepenuhnya dirasakan.
Tragedi Kanjuruhan meninggalkan luka sosial yang dalam. Banyak keluarga korban mengalami trauma panjang, sebagian enggan lagi menonton pertandingan langsung di stadion. Rasa takut masih membayangi setiap kali sorak penonton membesar.
Lebih dari itu, tragedi ini menimbulkan krisis kepercayaan terhadap aparat dan penyelenggara sepak bola. Publik mulai menyadari bahwa masalah di sepak bola Indonesia bukan sekadar teknis pertandingan, tetapi juga struktural—melibatkan kekuasaan, bisnis, dan lemahnya akuntabilitas.
Refleksi tiga tahun pasca tragedi ini seharusnya menjadi momen evaluasi menyeluruh, bukan sekadar peringatan tahunan. Sepak bola Indonesia tidak boleh lagi diwarnai oleh kekerasan, intimidasi, dan kesalahan prosedural. Keamanan penonton harus menjadi prioritas utama, bukan efek samping dari euforia pertandingan.
Kita perlu menata ulang: mulai dari manajemen stadion, pendidikan suporter, hingga profesionalisme aparat. Pemerintah, PSSI, klub, dan masyarakat harus bersatu membangun budaya sepak bola yang beradab dan berempati.
Tragedi Kanjuruhan mengingatkan kita bahwa di balik setiap sorak kemenangan, ada tanggung jawab besar untuk menjaga nyawa manusia. Tiga tahun setelahnya, kita masih menunduk dalam duka dan bertanya: apakah sepak bola kita sudah benar-benar berubah?
Selama keadilan belum ditegakkan, dan keselamatan belum dijadikan nilai tertinggi, maka luka itu akan tetap menganga. Tragedi Kanjuruhan bukan sekadar kenangan pahit—ia adalah peringatan abadi agar kita tidak lagi menukar euforia olahraga dengan air mata kemanusiaan.
Penulis: Rasya Azalia Rizky, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). (*)