Rahasia di Balik Butir Nasi: Cepat atau Lambat Bikin Kenyang, Kenali Daya Cerna Pati Penting bagi Tubuh

waktu baca 4 minutes
Selasa, 11 Nov 2025 09:52 0 Nazwa

SAINS | TD — Setiap butir nasi yang tersaji di piring bukan sekadar sumber kenyang, melainkan cerminan sains dalam kehidupan sehari-hari. Di balik teksturnya yang lembut, tersimpan misteri tentang bagaimana tubuh manusia mencerna, menyerap, dan merasakan energi. Semua berawal dari satu hal kecil: daya cerna pati.

Butir Kecil yang Menyimpan Misteri

Setiap butir nasi yang kita santap setiap hari ternyata menyimpan rahasia besar tentang energi dan rasa kenyang. Dari meja sarapan hingga makan malam, nasi menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup masyarakat Indonesia. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa ada kalanya kita cepat lapar setelah makan nasi, sementara di waktu lain rasa kenyang bisa bertahan lebih lama?

Jawabannya ternyata ada pada daya cerna pati — faktor tersembunyi yang menentukan seberapa cepat tubuh mengubah nasi menjadi energi.

Daya Cerna Pati: Sumber Energi yang Tak Sederhana

Pati, atau starch, adalah karbohidrat kompleks utama dalam nasi. Ia terdiri dari dua komponen penting: amilosa dan amilopektin.
Menurut penelitian Wulandari dan Marsono (2021), nasi dengan kadar amilopektin tinggi cenderung memiliki daya cerna tinggi dan indeks glikemik (IG) yang besar. Artinya, nasi jenis ini cepat diubah menjadi glukosa sehingga cepat pula meningkatkan kadar gula darah.

Sebaliknya, nasi dengan kadar amilosa lebih tinggi memiliki daya cerna rendah dan IG rendah — cocok untuk mereka yang ingin menjaga berat badan atau mengontrol kadar gula, seperti penderita diabetes.

Dengan kata lain, tidak semua nasi diciptakan sama.
Butiran yang tampak sederhana di piring kita ternyata punya “karakter” berbeda dalam tubuh.

Rahasia di Dapur: Cara Masak yang Mengubah Segalanya

Ternyata, bukan hanya jenis beras yang menentukan daya cerna pati. Cara memasak dan menyajikan nasi juga memainkan peran besar.

Ketika nasi yang baru matang didinginkan selama beberapa jam — misalnya disimpan di lemari es — sebagian pati di dalamnya berubah menjadi pati resisten. Jenis pati ini tidak mudah dicerna tubuh dan bertindak layaknya serat pangan alami.

Fenomena inilah yang membuat nasi goreng atau nasi sisa semalam cenderung memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding nasi hangat yang baru saja diangkat dari penanak.
Unik, bukan? Dari dapur rumah, ternyata kita bisa mengubah nasi biasa menjadi lebih “bersahabat” bagi metabolisme tubuh.

Dampaknya bagi Tubuh dan Kesehatan

Mengatur asupan nasi bukan berarti harus berhenti makan nasi. Justru, dengan memahami daya cerna pati, kita bisa mengatur pola makan dengan lebih bijak.

Nasi dengan daya cerna rendah membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dan membuat kita kenyang lebih lama. Sementara pati resisten juga bermanfaat bagi kesehatan usus, karena menjadi “makanan” bagi bakteri baik yang menjaga keseimbangan pencernaan.

Sebaliknya, konsumsi nasi dengan daya cerna tinggi secara berlebihan dapat menyebabkan lonjakan gula darah dan berpotensi meningkatkan risiko resistensi insulin.

Bijak Memilih, Bijak Mengolah

Kita tidak perlu takut pada nasi. Kuncinya ada pada pemilihan jenis beras dan cara penyajiannya.
Beberapa tips sederhana:

  • Pilih beras dengan kadar amilosa tinggi, seperti beras merah atau beras basmati.
  • Dinginkan nasi sebelum dihangatkan kembali untuk meningkatkan kadar pati resisten.
  • Kombinasikan nasi dengan lauk berprotein, sayuran, dan sumber serat untuk menurunkan indeks glikemik.
  • Batasi konsumsi nasi berlebih, terutama menjelang malam.

Kesimpulan: Nasi, Antara Tradisi dan Ilmu

Nasi bukan sekadar simbol kenyang, melainkan bagian dari ilmu yang mengatur keseimbangan tubuh.
Dengan memahami daya cerna pati, kita bisa melihat nasi dari sudut pandang baru — bukan sekadar makanan pokok, tapi sumber energi yang harus dikelola dengan bijak.

Setiap suapan nasi sejatinya adalah pelajaran tentang bagaimana tubuh bekerja, bagaimana tradisi berpadu dengan sains, dan bagaimana kita bisa tetap sehat tanpa meninggalkan kebiasaan yang menjadi identitas bangsa.

Referensi:

Wulandari, D., & Marsono, Y. (2021). Hubungan Kandungan Amilosa dengan Daya Cerna Pati dan Indeks Glikemik Pada Berbagai Jenis Beras. Jurnal Gizi dan Pangan, 16(1), 13–22.

International Diabetes Federation. (2021). IDF Diabetes Atlas (10th ed.). Brussels: International Diabetes Federation.

Penulis: Desi Natasya Rahman
Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA