Qiraatul Kutub, Ikhtiar Warga Pedaleman Menjaga Warisan Kitab Kuning Syekh Nawawi

waktu baca 2 minutes
Selasa, 27 Jan 2026 13:02 0 Nazwa

SERANG | TD — Tradisi Qiraatul Kutub atau lomba membaca dan memahami kitab kuning terus dijaga oleh masyarakat Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, sebagai upaya melestarikan warisan keilmuan ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani. Tradisi ini telah berlangsung sejak 1991 dan menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Isra Mikraj di wilayah Tanara, tempat kelahiran Syekh Nawawi.

Kegiatan yang awalnya digagas oleh Yayasan Nawawi tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah, seperti Tangerang, Serang, hingga Pandeglang. Desa Pedaleman bahkan pernah dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan lomba, sebagai bentuk komitmen warga dalam menjaga eksistensi kitab kuning di tengah arus modernisasi.

Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini menghadapi tantangan serius. Berdasarkan hasil wawancara Kelompok 75 KKM Tematik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) dengan tokoh masyarakat setempat, minat generasi muda terhadap pengkajian kitab kuning mulai menurun sejak awal 2000-an.

“Dulu anak-anak sampai belajar kitab gundul. Sekarang sudah jarang. Harapan kami, minimal ada satu anak di setiap keluarga yang bisa jadi penerus agama,” ujar Ketua Dewan Kesejahteraan Masjid Al-Bantani Desa Pedaleman, Ustadz Wawang Alwan dilansir Selasa, 27 Januari 2026.

Ia menjelaskan, masifnya penggunaan smartphone, tekanan ekonomi keluarga, serta perubahan gaya hidup membuat banyak anak berhenti mengaji setelah menamatkan pendidikan formal. Kondisi tersebut berdampak langsung pada jumlah santri yang mendalami kitab klasik.

Saat ini, tercatat terdapat sekitar 30 santri di Desa Pedaleman. Namun, hanya 11 santri yang aktif mengikuti lomba Qiraatul Kutub. Dari jumlah tersebut, empat santri terbaik ditampilkan sebagai contoh dan motivasi bagi santri lainnya.

Menurut Ustadz Wawang, lomba kitab kuning juga menjadi sarana untuk menggugah kesadaran orang tua agar lebih mendukung pendidikan keagamaan anak-anak mereka. “Dengan adanya lomba, orang tua bisa melihat hasilnya. Anak-anak yang berprestasi bisa jadi teladan, sehingga keluarga lain ikut terdorong,” katanya.

Tak hanya mengasah kemampuan membaca dan memahami kitab kuning, kegiatan ini juga melatih mental santri agar berani tampil di depan umum dan siap terjun ke tengah masyarakat. Panitia berharap, penghargaan berupa piala dan piagam dapat menjadi pemicu semangat belajar para santri.

Meski jumlah peserta belum sebanyak masa lalu, masyarakat Tanara dan Desa Pedaleman tetap berkomitmen mempertahankan tradisi ini. “Kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tapi jangan sampai meninggalkan agama,” tegas Ustadz Wawang.

Tradisi Qiraatul Kutub di Tanara dan Desa Pedaleman bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan bentuk ikhtiar kolektif menjaga warisan keilmuan Syekh Nawawi agar tetap hidup. Melestarikan kitab kuning berarti merawat fondasi agama sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa di tengah perubahan zaman.

Penulis: Retno Asih Nurjannah,
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA