Di Balik Layar IPO Saham BRIS (BSI, Tbk.)

PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk menginjak usia setahun pasca merger yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 1 Februari 2021, bertepatan dengan 19 Jumadil Akhir 1442 Hijriyah.
Kantor Pusat Bank Syariah Indonesia (BSI) di Jl. Gatot Subroto Jakarta Selatan (Foto: Istimewa)
Bagikan:

PT Bank Syariah Indonesia (BSI) Tbk menginjak usia setahun pasca merger yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 1 Februari 2021, bertepatan dengan 19 Jumadil Akhir 1442 Hijriyah.

Dengan kata lain, awal Februari satu tahun yang lalu menjadi penanda sejarah bergabungnya Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah, dan BRI Syariah menjadi satu entitas yaitu Bank Syariah Indonesia (BSI).

Bacaan Lainnya

Penggabungan ketiga bank syariah tersebut merupakan ikhtiar untuk melahirkan bank syariah kebanggaan ummat yang diharapkan menjadi energi baru pembangunan ekonomi nasional serta berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat luas.

Tidak dapat dipungkiri, keberadaan Bank Syariah Indonesia juga menjadi cerminan wajah perbankan syariah di Indonesia yang modern, universal, dan memberikan kebaikan bagi segenap alam (Rahmatan Lil ‘Aalamiin).

“Hari ini, 1 Februari 2022, setahun kami berikhtiar, menjadi bank syariah yang inklusif dan modern, menopang pengembangan UMKM, menjaga amanah ummat, mendukung pengembangan ekosistem keuangan syariah dan industri halal nasional,” tulis Instagram resmi BSI, @banksyariahindonesia, Selasa (1/2/2022).

Bank Syariah Indonesia menargetkan dapat masuk dalam jajaran 10 bank syariah terbesar secara global atau Top 10 Global Islamic Bank. Peringkat 10 besar tersebut ditargetkan dapat dicapai pada 2025 atau dalam waktu tiga tahun mendatang.

Dalam kaitan itu, BSI mulai merealisasikan program BUMN Go Global yang dicanangkan Menteri BUMN Erick Thohir setelah diterimanya “Letter of incorporation” oleh bank syariah terbesar di Tanah Air tersebut dari Dubai International Financial Center (DIFC) pada 4 November 2021.

Langkah strategis BSI itu diharapkan pula dapat mempererat hubungan antara Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah, khususnya Uni Emirat Arab (UEA), terlebih UEA adalah salah satu pusat investasi global, dimana Dubai adalah pusat keuangan syariah global termasuk Sukuk.

Sejumlah analis saham memperkirakan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI dapat terdorong ke level 2.000 seiring dengan pencapaian kinerja perseroan sepanjang 2021.

Berdasarkan laporan keuangan BSI yang dirilis di Bursa Efek Indonesia, perseroan mampu membukukan laba bersih sebesar Rp3,03 triliun pada 2021. Raihan itu naik sekitar 38,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau secara tahunan (yoy).

Dari sisi pembiayaan, BSI mencatatkan pertumbuhan sekitar 9,32 persen yoy menjadi Rp171,29, sementara dalam penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tabungan wadiah mengalami peningkatan 15,30 persen yoy, yaitu mencapai Rp34,10 triliun.

Adapun nilai total tabungan mencapai Rp99,37 triliun atau naik sekitar 11,60 persen yoy. Perseroan juga mampu menekan biaya dana atau cost of fund menjadi 2,03 persen dari sebelumnya 2,68 persen.

Tim di belakang layar

Sebagaimana dijelaskan terdahulu, kode saham BSI Tbk adalah BRIS. BRIS itu sendiri merupakan “surviving entity” (bank survivor alias entitas bank yang berhak menerima penggabungan), yaitu penggabungan dari BSMS, BNIS, dan BRIS.

Penunjukan BRIS sebagai surviving entity itu tidak lepas dari status yang disandang perseroan, dimana BRIS merupakan satu-satunya bank syariah yang telah melantai di pasar bursa saham.

Namun tidak banyak yang mengingat kembali perjuangan tim utama yang melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering – IPO) sukuk mudharabah muthlaqah BRIS di tahun 2016 yang merupakan awal pembelajaran IPO saham BRIS pada 2018.

Tim inti internal IPO saham BRIS saat itu terdiri dari empat orang, yaitu Komut Hermanto Siregar, Dirut Moch. Hadi Santoso, Dirkeu Wildan, dan anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) Gunawan Yasni.

Gunawan Yasni sendiri adalah Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM) pertama di industri pasar modal terlisensi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang juga turut membidani sukuk mudharabah muthlaqah BRIS pada 2016.

Peraturan OJK menetapkan bahwa perusahaan yang melemparkan instrumen pasar modal syariah wajib memiliki opini syariah dari profesi penunjang di pasar modal yaitu ASPM.

ASPM membantu underwriter untuk menerbitkan sukuk atau investasi syariah lainnya. ASPM juga membantu strukturisasi atau endorsement penerbitan sukuk tersebut. Jadi, ASPM adalah profesi penunjang.

“Saya dan Ketua DPS BRI Syariah Didin Hafidhuddin turut membantu BRI Syariah sebagai bank pertama yang menerbitkan sukuk mudharabah mutlaqah,” kata Gunawan Yasni dalam perbincangan dengan wartawan di Jakarta belum lama berselang.

Tugas ASPM yang lain, menurut dia adalah membantu pada saat roadshow untuk mendapatkan investor, baik di dalam maupun di luar negeri, seperti ketika road show di Singapura. Tetapi ketika road show di Malaysia yang sudah familiar dengan sistem syariah, mereka hanya perlu tahu bahwa BRI Syariah telah memiliki ASPM.

Gunawan Yasni sendiri adalah anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dan anggota Dewan Pengawas/Penasehat Syariah di beberapa lembaga keuangan serta memiliki izin Bapepam sebagai Investment Manager, Underwriter and Broker-Dealer.

Ahli ekonomi syariah yang lahir pada 17 September 1969 itu sering menjadi narasumber di media nasional serta dikenal sebagai penulis untuk topik-topik berkaitan dengan ekonomi dan keuangan syariah. Dia juga memiliki sertifikasi sebagai “Certified Islamic Financial Analyst” dari Pasca Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia.

Pada bagian lain, ia menjelaskan, empat tahun berlalu, tidak banyak yang mengetahui dan memahami bagaimana detil perjuangan IPO saham BRIS sampai ke luar negeri yang melibatkan keempat orang Tim inti internal IPO saham BRIS itu.

Dengan keterlibatan tim inti dan tim pendukung internal dan external lain, IPO BRIS memiliki 60 persen ‘standby buyers lokal and international at any strike price’ (pembeli siaga lokal dan internasional dengan harga kesepakatan berapa pun) dalam waktu kurang dari dua bulan.

Dari rekapan ‘behind the scene’ (di belakang layar) IPO Saham BRIS sebagai kode bursa surviving entity BSI Tbk itu ada hal menarik yang bisa dicermati, yakni bahwa Gunawan Yasni selaku anggota DPS saat itu menjadi tokoh yang lumayan sentral dalam road show di dalam dan di luar negeri.

Tentu ini didukung dengan pengalaman yang relatif lama sebagai underwriter dan portfolio manager di industri pasar modal secara umum dari Gunawan Yasni sebelum dia fokus di urusan ekonomi syariah.

Tim pendukung internal dan external IPO Saham mengakui bahwa banyak pihak di dalam dan luar negeri yang mengira bahwa Gunawan Yasni ada di jajaran Komisaris atau Direksi BRIS saat itu.

Standby buyers merasa bahwa penyampaiannya yang luas dan dalam serta tidak melulu memberikan penjelasan tetang syariah jauh melebihi kapasitas gabungan Komisaris, Direksi dan DPS.

Beberapa pihak yang menyampaikan hal ini antara lain ‘key persons’ dari Saturna dan Prince Capital. Saturna Capital bekedudukan regional di Kuala lumpur Malaysia dan Prince Capital berkedudukan regional di Singapura. Keduanya adalah perusahaan asset management dari Amerika.

Kemudian, dalam perkembangannya, harga saham BRIS tidak pernah diperdagangkan di bawah harga perdana. Publik di Indonesia bahkan di luar negeri percaya dengan kredibilitas perusahaan dan keberadaan sahamnya di pasar modal.

Perkembangan sistem syariah di Indonesia itu tidak dialami Malaysia, karena pengembangan syariah di Malaysia bersifat “top down”. Ada unsur perintah Kerajaan terkait pengembangan sistem syariah dalam perbankan nasionalnya yang secara tidak langsung menjadi keharusan bagi masyarakat untuk memahami sistem ini sebagai bagian dari kehidupan sehariannya.

Sementara di Indonesia syariah berkembang karena keinginan masyarakat. Kalau permintaan masyarakat sudah menjadi sedemikian besar, maka perbankan syariah di Indonesia akan menjadi raksasa mengalahkan perbankan konvensional.

Gunawan Yasni lebih lanjut menyatakan, keyakinan dari para investor untuk memilih BRIS tak terlepas dari strategi reasoning (penjelasan dengan baik) dan convincing (meyakinkan dengan sungguh-sungguh) sebagai kata kunci untuk meraih investor secara signifikan.

“Pada saat BRI Syariah memberikan paparan di berbagai tempat, kami telah mengatur siapa yang akan memberikan penjelasan tentang bisnis, prospek, kondisi ekonomi, sistem syariah, dan berbagai penjelasan lainnya jika para investor bertanya lebih dalam mengenai BRI Syariah,” katanya.

Pertanyaan-pertanyaan mereka harus sedapat mungkin dijawab dengan baik. Tetapi tidak sekedar bisa menjawab, tim juga harus bisa meyakinkan dengan penjelasan dari sisi makro, kondisi market, dan lain-lain.

“Kalau cuma reasoning saja, tanpa convincing, jadinya lebih bersifat defensif. Pada titik itulah kami dengan segala upaya memberikan penjelasan lebih dalam untuk meyakinkan para investor,” demikian Gunawan Yasni

Penulis: Aat Surya Safaat*


*Penulis, Aat Surya Safaat, adalah Wartawan Senior dan Pengajar Komunikasi Bisnis di beberapa Perguruan Tinggi di Jakarta. Sejak dua tahun terakhir mantan Direktur Pemberitaan Kantor Berita ANTARA ini mendapat amanah sebagai Wakil Sekretaris Komisi Infokom MUI dan Ketua Bidang Luar Negeri Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).

Bagikan:

Pos terkait