Mengenal Sejarah Kota Tangerang Melalui Puisi Rini Intama

Kampung Sejarah Kalipasir (Foto: Ryandita Fadillah untuk TangerangDaily)
Bagikan:

KOTA TANGERANG | TD Salah satu fungsi sastra, dalam hal ini khususnya puisi, adalah merekam sejarah tentang kehidupan manusia.

Dalam puisi Rini Intama, terdapat banyak puisi yang merekam sejarah Banten.

Puisi, meskipun bentuknya kecil, tetapi ekspresif. Ungkapan di dalamnya adalah cermin kekayaan jiwa penulisnya.

Berikut adalah beberapa puisi Rini Intama. Di dalamnya terdapat bukan hanya kekayaan jiwa penulis, tetapi rekaman-rekaman atas kota sebagai tempat hidup.

1. Dari Benteng Speelwijk

1/
Dari sebelah barat laut keratin
Kulihat simbol kekuasaan colonial di abad-abad lalu
Di sinilah sinyo-sinyo Belanda memuja malam
Lampu-lampu kota tua mengirimkan cahaya

Telah disusun bertumpuk-tumpuk batu,
Bata merah dan karang-karang perekat
Jadi sebuah benteng tinggi penjaga maut
Doa-doa terus ditiupkan jadi pelita

Tembok Banten tua sepanjang pantai
Sebelum lumpur-lumpur mendangkalkan lautan
Dinding-dinding kota dengan empat tian bastion
Ada ruang jaga dan menara pengintai
Kapal-kapal musuh dari laut Jawa mendekati pantai

Angin lautan menumbuhkan buih gelombang kesedihan
Jendela-jendela meriam ingin berhenti berperang

Tangerang, Agustus 2017

2/
Kita yang berjarak
Ratusan tahun dari saat ini
Sejak Cakradana membangun benteng
Sejak hura-hara terjadi

Sultan terus menjaga petuah
Cardeel membuat batu-batu jadi megah
Dari kejauhan, gelombang laut berdebur
Tembok Banten tua pernah menulis janji
Benteng ini adalah bagian dari waktu
Biarlah kita berjalan ke masa silam
Dan mengabarkan keheningan

Februari 2018

2. Kisah Tanam Paksa

Perempuan bermata kabur
Bersimpuh di titik nadir seperti menebak takdir
Menyaksikan para lelaki dan bumi merana
Memanggang harapan di rimba yang kelu
Kisah ini tentang tanam paksa
Kebun-kebun subur, hak hdup terkubur
Perempuan bermata kabur, berkata dengan suara yang lembur
Bahwa perang belum lagi usai, ada duka yang tak selesai

Sedang seribu cerita, mengaliri sungai kepedihan
Lubang-lubang besar yang tergali penanda kematian
Untuk para hamba sahaya yang mati tanpa nisan
Karena hidup adalah keterpaksaan

Beberapa tahun setelah itu di sini
Sajadah melarung ayat-ayat Tuhan di jantung kota
Suara-suara tercekat, inilah kisah di penghujung taubat
Sebelum waktu mengikat bumi pada kematian

April 2017

3. Cut Nyak Dien

Jiwanya adalah api yang berkobar
Saat musim panas yang kering di Meulaboh
Sedang upacara tradisi kemarau terus melindap
Sejak kapal Belanda menembakkan meriam
Hatinya adalah batu yang dingin
Saat perang mengepung panas dan air mata
Dan perang terus bertanya soal kebebasan
Sedang lekuk tubuh rimba masih beku

Tubuhnya adalah air mata yang luluh
Saat tanah-tanah mengeja kata merdeka
Tangannya menggali lubang kematian bagi suaminya
Sedang cinta dan daun-daun melayang du atas pusara

Keinginannya adalah merdeka
Hingga ke tanag Sumedang tempatnya mengakhiri takdir
Ibu Suci menggantungkan rencong
Dan mengaji sepanjang malam

Sedang ribuan mawar menunggu di rumah Tuhan

Tangerang, Januari 2017 (Pat/Rom)

Bagikan: