PKBM Tan Malaka di Binong, Menimba Ilmu Tak Lekang Waktu

Suara Fery Wardhana memecah keheningan pada Sabtu sore 23 April 2022. Pria berkacamata itu membuka percakapan melalui zoom meeting pada sesi pelajaran kewirausahaan kelas Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tan Malaka di Kampung Babakan Kelurahan Binong, Curug Kabupaten Tangerang.
Kegiatan Asesmen Berbasis Nasional tahun 2021 lalu di PKBM Tan Malaka. (Foto : PKBM Tan Malaka)
Bagikan:

KABUPATEN TANGERANG | TD Suara Fery Wardhana memecah keheningan pada Sabtu sore 23 April 2022. Pria berkacamata itu membuka percakapan melalui Zoom Meeting pada sesi pelajaran kewirausahaan kelas Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tan Malaka di Kampung Babakan Kelurahan Binong, Curug Kabupaten Tangerang.

“Kalian akan mengerjakan tugas akhir praktikum membuat eco enzyme. Cairan multiguna itu sangat bermanfaat untuk kehidupan dan ramah lingkungan,” kata Fery yang akrab disapa Pei sumringah.

Eco enzyme merupakan salah satu alternatif pemanfaatan limbah organik menjadi suatu produk dengan nilai ekonomi dan nilai manfaat yang tinggi. Maka, kata Pei, pembuatan cairan multiguna itu menjadi salah satu ujian pratikum bagi para siswa kelas 12 PKBM Tan Malaka pada tahun ajaran 2021/2022.

Dari balik layar monitor Pei pun menjelaskan secara detail bagaimana meramu eco enzyme berbahan potongan buah-buahan dan gula merah itu.

Pengetahuan dan ketrampilan menjadi bekal peserta didik setelah lulus dari PKBM Tan Malaka. Mereka bisa memanfaatkan ketrampilan menjadi sebuah wirausaha disela kesibukan melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi.

Pembelajaran Jarak Jauh ditempuh PKBM Tan Malaka lantaran masih dalam situasi pandemi Covid-19. Selama dua tahun terakhir sejak 2020 pembelajaran tatap muka diganti dengan Zoom Meeting.

Founder PKBM Tan Malaka Fery Wardhana, atau yang biasa disapa Pei (mengenakan t-shirt hijau) saat berbincang-bincang dengan crew TangerangDaily di PKBM Tan Malaka,Sabtu, 23 April 2022. (Foto : Mohamad Romli/TangerangDaily)

Sebelum pandemi Covid-19 belajar tatap muka berlangsung di sekolah dengan suasana asri. PKBM Tan Malaka selain menerapkan belajar dalam ruangan kelas, juga menerapkan belajar di ruang terbuka.

Menyatu dengan alam, di bawah pepohonan rindang para murid berdiskusi santai bersama guru pembimbing. Semilir angin bertiup menerpa dedaunan pohon belimbing wuluh, pohon arbei, srikaya, rambutan, mangga dan tanaman hijau lainnya menjadikan tempat sekolah nyaman bagi para peserta didik.

“Kami undang animator, pemain teater, musisi, perupa dan berbagai ahli di bidangnya. Sebab murid kami dapat belajar langsung sesuai peminatan mereka,” kata Pei.

Maka tak kalah dengan lulusan pendidikan formal, para alumnus PKBM Tan Malaka ada yang diterima bekerja di sebuah bank swasta, ada yang mendapatkan beasiswa perguruan tinggi ternama di Jakarta, ada yang melanjutkan ke sekolah formal favorit, ada juga yang sukses membuka usaha mikro kelas menengah (UMKM).

“Kami tidak berkecil hati, malah bangga mengantarkan anak didik kami meraih cita-cita sesuai harapan mereka,” kata Pei.

Kegiatan literasi “Aku Suka Membaca” di PKBM Tan Malaka bekerjasama dengan Leadership Program, Asianworks Jakarta, sebelum pandemi Covid-19 melanda. (Foto : PKBM Tan Malaka)

Sebagai Founder, Pei optimis PKBM Tan Malaka kelak ke depan menjadi pilihan favorit sekolah non formal bertaraf internasional. Kurikulum yang disusun, pengajar yang mumpuni di bidangnya, para profesional yang membagi ilmu dan ketrampilan di sekolah Tan Malaka akan menjadikan para peserta didik tak kalah bersaing dengan lulusan sekolah formal.

PKBM Tan Malaka adalah sekolah non formal yang berdiri sejak 2007 dan telah Terakreditasi B (Ijin Operasional: 423.8/098/Dispendik/2012 – NPSN: P.9908760).

Sekolah ini mengambil bentuk pendidikan non formal karena penyelenggaraannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan warga dan lingkungannya.

Selain itu, bentuk pendidikan nonformal akan lebih akomodatif terhadap segala kendala yang dihadapi, termasuk perbedaan usia peserta didik, status sosial, kemampuan pembiayaan, dan penguasaan dasar yang dimiliki sebelum terlibat dalam proses pembelajaran.

Pendidikan non formal juga menyelenggarakan ujian-ujian yang diselenggarakan oleh Kementrian pendidikan kebudayaan (Kemdikbud) dengan status yang setara dengan pendidikan formal.

Dengan begitu Ijazah yang diterbitkan juga setara dengan pendidikan formal, sehingga para lulusannya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, seperti universitas negeri/swasta dan memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang sama dengan lulusan sekolah formal.

PKBM Tan Malaka menempati gedung milik sendiri dengan luas lahan 500 meter persegi dengan fasilitas memadai dan berkonsep ramah lingkungan.

Memiliki 12 orang tenaga pengajar, Staf administrasi dan Tenaga Kependidikan. Dari 2007 hingga saat ini telah membelajarkan dan melululuskan lebih dari 2.000 orang alumni.

Tampak depan gedung PKBM Tan Malaka di Kampung Babakan Kelurahan Binong, Curug Kabupaten Tangerang. (Foto : PKBM Tan Malaka)

Nama PKBM Tan Malaka terinspirasi dari seorang tokoh bernama Tan Malaka. Lahir pada tahun 1897. Tempat kelahiran Tan sekarang dikenal sebagai Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya bernama H.M. Rasad, seorang pegawai pertanian dan ibunya bernama Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desanya.

Tan Malaka adalah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia yang mencurahkan hidupnya untuk dunia pergerakan kemerdekaan dan pendidikan. Tan mendedikasikan hidupnya sebagai guru, salah seorang pencetus/penggagas Republik Indonesia itu mencurahkan sebagian besar hidupnya sebagai pendidik, baik saat aktif mengajar di Budi Oetomo, Sekolah Sarekat Islam, hingga dalam penyamarannya menyelenggarakan pendidikan non-formal bagi anak-anak para pekerja rodi/romusha di Bayah, Banten.

Merujuk itu Sumatera Barat merupakan daerah asal Fery, sang Founder PKBM Tan Malaka. Berlatar belakang pendidikan ekonomi Pei sebenarnya adalah pekerja seni yang peduli pendidikan. Dia prihatin di lingkungan tempatnya tinggal masih banyak orang putus sekolah.

Hatinya tergerak, singkat cerita dia membuka kelas bagi warga sekitar untuk belajar menuntaskan pendidikan yang tak didapat di sekolah formal. Seiring waktu legalitas sekolah non formal ini terakreditasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang dan menjadi pilihan bagi siapapun masyarakat untuk menempuh jenjang pendidikan paket A, B dan C di PKBM Tan Malaka.

Pei adalah salah seorang pendiri Agenkultur Foundation, sebuah lembaga independen yang bergerak di bidang sosial, budaya dan pendidikan. Tahun 2003, Agenkultur mendirikan PKBM Malacca di Jakarta. Di antara tumpukkan sampah di wilayah Kiapang, Palmerah, Jakarta Barat, divisi pendidikan publik Agenkultur merangkul anak-anak dan warga putus sekolah dengan pendidikan keterampilan.

“Saat itu, siswa yang kami rangkul dari berbagai macam latar belakang. Tak hanya baca dan tulis, mereka kami bekali pendidikan keterampilan seperti menjahit, merajut dan membuat kue bagi 50 ibu-ibu yang mayoritas perajin kantong kertas pembungkus makanan dan penjaja kue keliling,” terang Pei.

Seiring waktu, Agenkultur kemudian memperluas jangkauan ke wilayah Tangerang pada tahun 2007 dengan membuka PKBM Tan Malaka. Senafas dengan gerakan di Jakarta, PKBM Tan Malaka pun lahir dari keprihatinan Pei melihat realitas lingkungan di wilayah Kampung Babakan, Kelurahan Binong, Curug, yang saat itu tak sedikit anak-anak putus sekolah yang didominasi karena alasan kemampuan ekonomi.

Hingga kini, PKBM Tan Malaka konsisten bergerak sesuai misi Agenkultur yang bergerak di bidang sosial, yaitu merangkul dan membebaskan orang-orang tak berdaya secara ekonomi melalui pendidikan. Maka tak heran, siswa yang belajar di lembaga pendidikan ini, tak semuanya mampu membayar.

Bagi siswa dari keluarga kurang mampu, Pei berkomitmen membebaskan dari kewajiban iuran. Metode subisidi silang pun ditempuh agar operasional PKBM tersebut tetap dapat berjalan.

“Ada yang berbayar ada pula yang cuma-cuma bagi yang kurang mampu,” kata Pei. Uang gedung semata-mata untuk pembangunan dan ke berlangsungan PKBM Tan Malaka, termasuk menggaji para guru.

Maka jika ingin mewujudkan mimpi menjadi seorang musisi terkenal, programer, atlet, Masterchef atau desainer? Bingung memilih antara menekuni hobi/passionmu tanpa harus meninggalkan bangku sekolah? Atau kamu sudah bekerja namun tetap ingin melanjutkan pendidikan agar peluang karirmu semakin terbuka? Gimana mengatur waktunya ya?

Salah satu bangunan yang dijadikan ruang kelas di PKBM Tan Malaka. Pohon-pohon yang rimbun menjadikan suasana lingkungan PKBM Tan Malaka asri dan nyaman untuk belajar. (Foto : Mohamad Romli/TangerangDaily)

Nah, Pendidikan Non-Formal adalah solusinya! Kamu bisa mengoptimalkan minat dan bakatmu dengan mengambil kursus, pelatihan atau les privat sambil menyelesaikan sekolah dengan jadwal yang fleksibel.

Atau kamu bisa juga sekolah sambil bekerja, sehingga bisa membiayai sekolah tanpa kawatir jadwal sekolah akan berbenturan dengan jadwal bekerja.

Kamu bisa mengatur jadwal, menentukan metode dan cara belajarmu tanpa mengurangi kualitas belajar.

Bersekolah di PKBM Tan Malaka kamu dapat memilih Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara full online atau blended learning (gabungan online dan tatap muka).

Ingin melakukan homeschooling di rumah didampingi orang tua atau homeschooling mandiri juga bisa. Lalu ijazah dan lulusannya bagaimana? Apakah diakui dan bisa melanjutkan ke sekolah formal negeri/swasta, kuliah atau bekerja di perusahaan ternama?

Pendidikan Non Formal Setara dengan Pendidikan Formal

Melalui Pendidikan Non Formal di PKBM Tan Malaka kamu bebas melanjutkan pendidikan kemana pun yang kamu mau, baik negeri maupun swasta. Untuk peluang di dunia kerja juga sama dengan lulusan sekolah formal.

Apalagi status PKBM Tan Malaka sudah terakreditasi B (Silakan telusuri di Google mengenai PKBM Tan Malaka atau cek ke situs Kementerian Pendidikan ya).

Jadi lulusan PKBM Tan Malaka tidak hanya diakui namun sudah banyak yang berprestasi, di antaranya mendapatkan beasiswa dari universitas ternama. (Ra Hayyu/Rom)

Bagikan:

Pos terkait