Dr. Zulkifli, MA. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | TD — Keluarga adalah madrasah pertama bagi anak. Di sanalah nilai, adab, dan batasan hidup mulai dikenalkan sejak dini. Pola asuh orang tua, terutama dalam menanamkan batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, menjadi fondasi penting agar keluarga berjalan sesuai tuntunan agama.
Belakangan ini, berbagai kasus yang viral di media sosial membuat banyak orang tua merasa miris. Pergaulan bebas, penyimpangan moral, hingga tindak kekerasan yang merenggut nyawa menjadi alarm keras bagi kita semua. Kita bertanya-tanya: di mana letak kelalaian itu bermula? Sering kali, akar persoalan dapat ditelusuri dari lemahnya pendidikan dalam keluarga.
Dalam perspektif pendidikan Islam, anak perempuan dan anak laki-laki sama-sama amanah, namun memiliki titik penjagaan yang berbeda. Anak perempuan dijaga kehormatan dan kemuliaannya. Ia ibarat permata keluarga yang harus dilindungi dari segala bentuk gangguan, baik secara langsung maupun melalui dunia digital. Lingkungan akan sangat memengaruhi cara berpikir dan bertindaknya. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan setiap hari akan membentuk karakternya.
Sementara itu, anak laki-laki dipersiapkan sebagai calon pemimpin—nahkoda dalam rumah tangga dan masyarakat. Bahaya terbesar bagi laki-laki bukan semata pada fisiknya, tetapi pada cara berpikir dan pengambilan keputusannya. Jika pikirannya rusak, maka rusaklah arah hidupnya. Karena itu, Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an, Surah At-Tahrim ayat 6: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini bukan sekadar peringatan spiritual, tetapi panggilan tanggung jawab bagi setiap orang tua.
Di era modern, akses terhadap informasi begitu terbuka. Gawai berada dalam genggaman, dan berbagai konten—baik yang mendidik maupun yang merusak—dapat diakses tanpa batas. Jika tidak diawasi dan diarahkan, pikiran anak bisa dipenuhi “sampah digital”: kekerasan dalam permainan, pornografi, hingga pola pikir instan yang menjauhkan dari adab dan tanggung jawab. Ibarat kapal tanpa kompas, anak bisa tersesat di tengah derasnya arus zaman.
Akibatnya, jika tidak dibimbing, anak laki-laki bisa tumbuh dengan cara pandang yang keliru: memandang perempuan sebagai objek, menganggap tanggung jawab sebagai beban, atau melihat kekerasan sebagai solusi. Semua ini berawal dari lemahnya kontrol diri dan minimnya keteladanan.
Allah kembali mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 9 agar orang tua takut meninggalkan generasi yang lemah. Lemah bukan hanya secara fisik atau ekonomi, tetapi juga lemah iman, akhlak, dan prinsip hidup.
Di sinilah peran ayah menjadi sangat sentral. Ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi arsitek visi keluarga. Ia perlu “menginstal” tiga nilai utama dalam jiwa anak-anaknya.
Pertama, sikap tanggung jawab (responsibility). Ayah harus menanamkan bahwa setiap masalah memiliki solusi, bukan untuk dihindari. Keteladanan dalam menghadapi tantangan hidup akan membentuk anak yang tangguh dan optimis.
Kedua, kemampuan mengendalikan diri (self-control). Anak laki-laki harus diajarkan menahan pandangan, menjaga emosi, dan tidak mudah terbawa arus tren yang menyimpang. Kontrol diri adalah benteng utama dari kehancuran moral.
Ketiga, pola pikir pelindung (protector mindset). Kekuatan yang dimiliki laki-laki bukan untuk menindas, melainkan untuk melindungi. Ia harus menjadi penjaga bagi yang lemah, bukan sumber ketakutan.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak hanya dilihat dari prestasi publiknya, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya.
Akhirnya, membangun generasi emas tidak cukup dengan kecanggihan teknologi atau pendidikan formal semata. Ia dimulai dari rumah—dari doa, pengawasan, keteladanan, dan cinta yang terarah. Orang tua perlu hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan spiritual.
Mari berusaha mendidik anak-anak kita dengan nilai-nilai Islam, mengisi pikiran mereka dengan hal-hal positif, serta menjaga hati dan akalnya dari kerusakan zaman. Dengan ikhtiar dan doa, insya Allah keluarga, masyarakat, dan bangsa ini akan melahirkan generasi emas yang berakhlakul karimah. Aamiin.
Penulis: Dr. Zulkifli, MA. (*)