Menikah Semakin Langka, Ada Apa?

waktu baca 6 minutes
Minggu, 25 Jan 2026 14:32 0 Nazwa

OPINI | TD – Menikah adalah salah satu jalan untuk menuju kebahagiaan, beberapa orang sepakat mengatakan hal yang demikian. Memang benar adanya, sebagian orang akan menganggap pernikahan adalah gerbang kebahagiaan karena dapat hidup bersama dengan orang  yang dicintai. Dalam agama, sering kita dengar bahwa menikah adalah ibadah seumur hidup yang harus dijaga bersama, tidak hanya sebelah pihak saja. Dalam artian bukan hanya suami atau istri saja yang menjaga tapi kedua belah pihak mesti saling menguatkan dan mengeratkan satu sama lain dalam suka maupun duka karena ibadah ini tidak hanya memakan waktu satu-lima menit, bulan, atau tahun tapi seumur hidup. Maka tidak boleh dipisahkan oleh perceraian apapun yang terjadi.

Kata perceraian tidak bisa disamakan dengan “Putus” dalam kamus dua insan yang masih pacaran. Namun, yang terjadi tren perceraian semakin marak terjadi. Hal ini mengakibatkan banyak sekali janda dan duda di Indonesia dengan kategori umur terbilang muda, mulai dari 20-an hingga 30-an. Ini menjadikan satu fenomena yang mengancam keberlangsungan hubungan pasangan yang ingin segera menikah karena melihat banyak sekali perceraian yang terkadang tidak masuk akal. Hal ini mengakibatkan tingkat pernikahan semakin terjun bebas dan mungkin sebagian pasangan atau orang malas untuk menikah, melihat kenyataan yang amat pahit. Mereka khawatir kejadian yang sama akan menimpa hubungannya.

Dalam data grafik yang ditunjukkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tren pernikahan di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 1.479.533 yang artinya meningkat sedikit dari tahun lalu dan bukan berarti data ini adalah data rata-rata pernikahan dalam kurun waktu satu tahun. Jika ditarik kebelakang 10-11 tahun yang lalu, data pernikahan sangat tinggi grafiknya mencapai 2.110.770, yang artinya belum ada ketakutan, kekhawatiran, dan dinamika hubungan berumah tangga. Maka penulis dalam tulisan ini mencoba menggali beberapa poin yang kiranya memang menjadi poin utama dalam masyarakat dewasa ini yang menunda pernikahan atau mungkin memutuskan untuk tidak menikah sama sekali.

Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi bukan isapan jempol belaka karena yang menjadi beban utama ada di diri seorang laki-laki dewasa. Laki-laki harus mampu untuk menghidupi dirinya terlebih dahulu baru pasangan yang ia akan ajak hidup bersama hingga tua. Namun, kenyataannya lagu lama ini terus secara otomatis diputar di kepala laki-laki. Terlebih dengan janji manis 19 juta lapangan pekerjaan yang masih nihil dan tak kasat mat membuat laki-laki mungkin mengurungkan niatnya untuk menikah atau mungkin hanya menunda sesaat saja. Seolah begitu berat beban yang dipikul oleh laki-laki dewasa di dunia yang sudah tidak karuan ini. Seakan kualifikasi yang dipunyai seseorang tidak menjadi patokan utama dalam rekrutmen pencarian pekerja.

Belum lagi ada yang namanya “Ordal”, semakin sulit saja mencari pekerjaan. Sebenarnya “Ordal” bukan sebuah kesalahan atau bentuk tindakan dosa, melainkan karena ada kedekatan yang dibangun melalui hubungan yang harmonis pertemanan. Semakin banyak teman maka akan semakin banyak jalur yang dibangung untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Hal ini sudah menjadi rahasia umum yang tidak mungkin akan terpisahkan dari dunia pekerjaan di Indonesia. Kata dokter Tirta, maka perlu membangun jejaring dengan banyak orang, agar semakin luas terbukanya koneksi baru. Namun, itu bukan hal yang mudah tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perlu adanya kesadaran sejak awal bergaul dengan banyak teman.

Sebenarnya, tidak hanya laki-laki yang sengsara dengan tidak mendapatkan pekerjaan, wanita juga sama. Dibenak kebanyakan wanita, mereka ingin membantu pasangannya untuk hidup layak atau mungkin ingin menjadi wanita mandiri dengan penghasilan sendiri. Maka dari itu dilaporkan oleh detik.com bahwa 2,7 juta pencari kerja menyerah dan putus asa untuk melanjutkan pencarian kerja, yang termasuk didalamnya ada wanita. Ini menjadikan semakin tidak berminatnya banyak orang masuk ke jenjang pernikahan tanpa ekonomi yang memadai. Terlebih banyak pegawai atau karyawan yang di non aktifkan bahkan di pecat karena perusahaan gulung tikar seperti sritex dan tupperware.

Perselingkuhan Public Figure

Faktor lainnya adalah perselingkuhan, walaupun memang perselingkuhan di kalangan orang biasa banyak sekali tapi yang paling hits dan menjadi gunjingan sudah pasti para artis hingga selebgram. Jika seseorang melebeli dirinya adalah seorang figur publik, mereka harus menjadikan contoh diri mereka untuk khalayak ramai. Sebab, yang mereka lakukan akan dilihat bahkan dicontoh oleh banyak orang. Supaya tidak menciptakan rasa traumatis bagi orang yang melihatnya dan mencontohnya. Namun, perceraian di kalangan artis hingga selebgram menjadi tontonan yang menarik untuk disaksikan. Masyarakat memberikan banyak opininya terhadap masalah yang terjadi mengapa artis dan selebram memutuskan untuk bercerai.

Sepanjang tahun 2025 saja banyak artis, selebgram hingga pejabat publik sekalipun memutuskan untuk bercerai. Banyak faktor masalah yang menyebabkan perceraian terjadi, faktor utamanya yah perselingkuhan. Penulis tidak perlu menyebutkan nama artis atau pejabat yang melakukan peselingkuhan karena netizen yang budiman sudah pasti hatam nama-namanya. Hal ini sudah pasti memberikan contoh yang tidak baik, para artis dan selebgram mungkin tidak akan kekurangan yang namanya ekonomi tapi ada saja cobaan dalam bentuk perselingkuhan. Mayoritas masyrakat umum pasti berpikir hal yang sama ihwal para artis dan selebgram padahal enggak kekurangan duit tapi masih aja selingkuh.

Perlu kiranya menjadi contoh yang baik dan patut ditiru setiap langkah yang diambil oleh para figur publik, apalagi dalam hal pernikahan dan membangun sebuah pernikahan. Menikah tidak perlu mewah asal sah dan mengarungi pernikahan dengan lapang dada tanpa orang ketiga. Nah, ini yang perlu menempel pada figur publik yang selalu menampakkan kemewahan pernikahan dengan istilah wedding dream. Memang tidak salah menikah dengan tujuan untuk menghargai pernikahan itu sendiri tapi alangkah baiknya tunjukkan kepada masyarakat umum bahwa menikah biasa-biasa saja bisa dan romantisme pernikahan selalu dibangun dengan erat oleh kedua belah pihak bukan hanya satu pihak saja.

Sebagai penutup, itulah mengapa pernikahan semakin langka, faktor utamanya sudah pasti ekonomi dan pertujukkan perselingkuhan dikalangan figur publik. Menikah dalam kedaan miskin adalah sebuah tindakan kriminal, begitulah quote yang ada di media sosial. Menikah tanpa mental yang kuat maka perselingkuhan akan bisa terjadi kapan saja dan pada siapapun. Jadi, mental dan ekonomi harus kuat dan saling berkelindan. Pemerintah mesti terlibat didalamnya dengan mempermudah mencari kerja dan menyajikan pernikahan adalah bentuk ibadah yang menyenangkan bagi siapapun. Supaya tren menikah semakin melonjak tinggi pada tahun-tahun berikutnya. Sehingga para milenial yang diujung umur pernikahan (30-an) akan segera menikah karena dianggap sudah tua umur segitu belum menikah dan juga Gen-Z yang menata hubungan dan mungkin sudah bekerja atau sedang mencari pekerjaan menjadi tidak takut untuk memikirkan menikah suatu hari.

Penulis: Ibrahim Guntur Nuary, Kolumnis Media Nasional. (*)

LAINNYA