Literasi Digital: Jalan Sunyi yang Menentukan Arah Masa Depan Gen Z

waktu baca 6 minutes
Senin, 1 Des 2025 16:49 0 Nazwa

OPINI | TD — Di tengah derasnya arus informasi hari ini, kita sering merasa menjadi bagian dari generasi paling terhubung yang pernah ada. Hanya dengan satu sapuan jari, dunia terbentang di depan mata: berita politik, gosip selebritas, tips finansial, video edukasi, teori konspirasi, hingga keluhan orang asing di belahan dunia lain hadir dalam satu halaman yang kita sebut beranda. Semua menyatu, saling bertumpuk, dan bersaing memperebutkan perhatian kita.

Namun ironisnya, justru dalam kemudahan itu muncul paradoks besar: generasi paling terkoneksi belum tentu menjadi generasi paling tercerahkan. Terlebih bagi Gen Z, generasi yang sejak lahir telah hidup dalam ruang digital. Kemampuan untuk mengakses informasi ternyata tidak otomatis melahirkan kemampuan untuk memahami informasi. Ada jurang lebar antara menjadi pengguna aktif teknologi dan menjadi warga digital yang berpengetahuan.

Di sinilah urgensi literasi digital mendapatkan relevansi terbesarnya. Ia bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan fondasi untuk bertahan hidup dalam ekosistem informasi yang serba cepat, bising, dan penuh kepentingan.

Informasi Tidak Pernah Netral: Tantangan Generasi Digital-Native

Sering kita membayangkan internet sebagai perpustakaan raksasa yang menyimpan segala informasi. Namun sesungguhnya, internet bukan hanya tempat menyimpan fakta; ia adalah arena pertarungan kepentingan. Tidak ada konten yang lahir tanpa tujuan, baik itu kepentingan viral, komersial, ideologis, politik, atau sekadar mencari perhatian.

Generasi muda sering diberi label “paling paham teknologi”. Tetapi kemampuan mengedit video 15 detik atau membuat konten estetik bukanlah bukti kedewasaan digital. Kita terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat, namun sering lupa menelusuri motif di baliknya. Kita ahli membuat konten, tetapi tidak selalu mampu membaca framing media. Kita cepat bereaksi terhadap isu viral, tetapi jarang mengecek kebenaran sebelum berkomentar atau membagikan.

Pada titik inilah literasi digital menjadi filter penting. Ia mengajarkan bahwa di balik setiap konten, selalu ada kepentingan yang tidak selalu terlihat. Menyadari hal sederhana ini adalah langkah pertama menjadi pengguna digital yang matang—pengguna yang tidak mudah dipermainkan algoritma atau opini yang dikemas menarik.

Berpikir Kritis: Senjata Terkuat di Era Kebisingan Digital

Satu hal yang jarang diajarkan secara eksplisit—bahkan di bangku pendidikan—adalah kemampuan berpikir kritis. Padahal, di era informasi tanpa henti, kemampuan ini adalah mekanisme bertahan hidup. Masyarakat yang melek digital bukan hanya mereka yang mampu menggunakan platform, tetapi mereka yang mampu menimbang sebuah konten secara logis, etis, dan kontekstual.

Berpikir kritis membuat kita:

  • Tidak mudah terpancing judul bombastis,
  • Mampu melihat konteks di balik potongan video pendek,
  • Memahami perbedaan antara opini, fakta, dan manipulasi,
  • Berani berhenti sejenak sebelum ikut menyebarkan sesuatu yang meragukan.

Yang sering disalahpahami adalah: berpikir kritis dianggap sebagai sifat sinis atau anti-sosial. Padahal, berpikir kritis justru merupakan bentuk tanggung jawab moral kita sebagai warga digital. Kita tidak hanya memikirkan kebenaran bagi diri sendiri, tetapi juga keselamatan informasi bagi orang lain.

Ketika setiap orang bisa menjadi “media”, maka setiap keputusan klik menjadi keputusan etis.

Etika Digital: Generasi Kita Harus Menjadi Generasi yang Lebih Beradab

Jika hoaks adalah penyakit lama internet, maka etika digital adalah rumah sakit yang masih terus kekurangan dokter. Semakin ruang digital tumbuh, semakin jelas bahwa persoalan terbesar bukan hanya soal informasi palsu, tetapi cara kita memperlakukan sesama di dunia maya.

Budaya komentar negatif, hujatan personal, doxing, body shaming, hingga cyberbullying adalah gejala minimnya kedewasaan berinternet. Betapa ironisnya ketika seseorang yang di dunia nyata ramah dan sopan, tiba-tiba berubah menjadi pemarah begitu memasuki kolom komentar.

Padahal prinsipnya sederhana:

Jika kita mampu beradab di dunia nyata, mengapa tiba-tiba menjadi liar ketika berada di dunia digital?

Etika digital seharusnya menjadi identitas generasi yang mengaku paling modern. Tanpa etika, teknologi hanya melahirkan ruang yang bising, melelahkan, dan toxic. Dan yang perlu diingat adalah: jejak digital tidak pernah hilang. Apa yang kita ketik hari ini bisa muncul kembali bertahun-tahun kemudian, memengaruhi karier, relasi, bahkan reputasi profesional.

Gen Z harus menjadi generasi yang menegakkan standar etika baru, bukan karena tuntutan orang lain, tetapi karena masa depan mereka sendiri dipertaruhkan.

Peluang Digital: Ruang Besar yang Menunggu Generasi Cerdas

Namun di balik seluruh ancaman, dunia digital juga membuka peluang yang sebelumnya tidak terbayangkan. Generasi muda kini bisa membangun karier dari rumah, menciptakan brand personal, memulai bisnis kecil, membangun komunitas edukasi, atau menghasilkan konten yang memberi dampak positif.

Bagi mereka yang memiliki literasi digital kuat, ruang digital bukan ancaman, tetapi laboratorium masa depan. Kita bisa menjadi:

  • Kreator yang bertanggung jawab,
  • Suara positif yang didengar banyak orang,
  • Pembelajar mandiri yang tidak bergantung pada ruang kelas formal,
  • Warga digital yang mampu mendorong perubahan sosial.

Kuncinya bukan pada seberapa canggih perangkat yang kita miliki, tetapi seberapa cerdas kita menggunakannya. Literasi digital mengubah ponsel bukan hanya menjadi alat hiburan, tetapi menjadi instrumen produktivitas dan pemberdayaan.

Ketertinggalan Nasional: Indonesia Belum Siap, Tapi Kita Bisa Memulai

Jika kita menengok realitas, kemampuan literasi digital masyarakat Indonesia secara umum masih tertinggal. Banyak pengguna mengenal teknologi tanpa kesiapan mental, emosional, dan intelektual yang memadai. Di satu sisi, akses digital meningkat; di sisi lain, kualitas pemahaman tidak ikut tumbuh.

Di banyak daerah:

  • Anak-anak memegang gawai tanpa pendampingan,
  • Remaja larut dalam tren digital tanpa pemahaman etika,
  • Orang dewasa mudah terprovokasi oleh narasi provokatif,
  • Masyarakat menganggap viralitas lebih penting daripada kebenaran.

Fenomena ini bukan salah satu kelompok tertentu. Ia adalah tanda bahwa kita membutuhkan ekosistem literasi digital yang lebih kokoh:
keluarga yang memberi teladan, sekolah dan kampus yang menyisipkan literasi digital dalam kurikulum, pemerintah yang proaktif mengedukasi masyarakat, serta platform digital yang lebih bertanggung jawab terhadap konten.

Namun perubahan tidak harus menunggu sistem bekerja. Perubahan selalu dimulai dari generasi mudanya—generasi yang hari ini paling dekat dengan teknologi, paling adaptif, dan paling potensial untuk menggerakkan transformasi digital Indonesia.

Gen Z: Garda Terdepan Masa Depan Ruang Digital Indonesia

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat Gen Z memiliki tiga modal penting: kemampuan adaptasi, kreativitas tinggi, dan keberanian untuk bersuara. Namun kekuatan ini harus dibarengi dengan kemampuan menimbang. Tanpa literasi digital, modal tersebut justru berisiko menjadi bumerang.

Generasi kita tidak boleh hanya menjadi “pengguna terbesar internet”, tetapi harus menjadi pengarah peradaban digital.
Kontribusinya tidak harus besar. Mengoreksi teman yang salah informasi, menahan diri dari komentar toxic, memverifikasi sebelum membagikan, atau menyuarakan literasi digital lewat konten edukatif—itu semua adalah tindakan kecil yang menciptakan dampak besar.

Kita yang menentukan apakah ruang digital Indonesia menjadi ruang yang sehat dan produktif, atau menjadi ruang yang penuh konflik dan misinformasi.

Penutup: Melek Digital adalah Identitas Baru Generasi Berdaya

Pada akhirnya, teknologi bukan soal kecanggihan, tetapi soal kemanusiaan. Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat, tetapi tentang bagaimana kita memahami dunia. Ia menentukan apakah kita akan menjadi generasi yang mudah digiring opini, atau generasi yang mampu membaca arus informasi dengan kepala dingin dan hati yang jernih.

Saya percaya, literasi digital adalah identitas baru generasi berdaya. Ruang digital akan terus berubah dengan cepat, tetapi selama kita mampu mengelola informasi dengan cerdas dan beretika, kita tidak akan tenggelam—kita akan tumbuh.

Kita tidak selalu bisa memilih seperti apa dunia digital ke depan, tetapi kita selalu bisa memilih versi diri seperti apa yang hadir di dalamnya: apakah kita menjadi generasi yang reaktif, atau generasi yang reflektif? Saat informasi berlari, kita harus mampu berjalan dengan kesadaran. Saat tren mendorong kita ikut arus, kita harus cukup dewasa untuk menentukan arah.

Dan jika literasi digital adalah kunci, maka Gen Z harus menjadi pemegang kunci terbaik bagi masa depan ruang digital Indonesia.

Penulis: Arsudin, Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA