Ketergantungan Impor Beras Mengancam Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani Indonesia

waktu baca 5 minutes
Jumat, 7 Nov 2025 15:34 0 Nazwa

OPINI | TD — Indonesia sering disebut sebagai negara agraris. Namun ironisnya, di tengah luasnya lahan pertanian dan sejarah panjang sebagai penghasil beras, negeri ini masih harus bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan utama rakyatnya. Ketergantungan impor beras menjadi persoalan klasik yang terus berulang, mencerminkan rapuhnya fondasi ketahanan pangan nasional.

Ketergantungan Impor dan Akar Masalah Produksi

Secara logika, negara dengan basis pertanian kuat seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok secara mandiri. Sayangnya, kenyataan menunjukkan hal sebaliknya. Alih fungsi lahan, rendahnya adopsi teknologi modern, dan ketimpangan antara permintaan serta penawaran membuat produksi beras domestik kerap tidak mencukupi (Kusumastuti et al., 2024).

Pemerintah memang beralasan bahwa impor dilakukan untuk menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan stok nasional. Namun seperti diungkap Umar (2025), ketergantungan pada impor justru menciptakan masalah baru—ketergantungan jangka panjang terhadap pasar global. Kebijakan yang seharusnya menjadi solusi sementara malah memperlemah kemampuan Indonesia untuk berdiri di atas kekuatan sendiri.

Petani Jadi Korban Pertama dari Gelombang Impor

Ketika beras impor membanjiri pasar domestik, dampak paling nyata dirasakan oleh petani lokal. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, harga gabah lokal anjlok setelah masuknya beras impor (Aziza, 2024). Fenomena serupa terjadi di Subang, Jawa Barat, di mana harga gabah turun hingga 15% akibat peningkatan impor dari Thailand dan Vietnam (Juliashar et al., 2024).

Penelitian Habibah et al. (2024) mengungkapkan bahwa situasi ini membuat banyak petani kehilangan motivasi. Pendapatan mereka terus menurun, sementara biaya produksi tetap tinggi. Akibatnya, banyak petani beralih profesi atau meninggalkan lahan pertaniannya. Ketika petani—aktor utama dalam sistem pangan—merasa tidak sejahtera, maka fondasi ketahanan pangan otomatis goyah.

Ketahanan Pangan: Antara Stok dan Kemandirian

Ketahanan pangan bukan sekadar soal ketersediaan stok, tetapi juga soal kemandirian dan keadilan ekonomi. Pilar availability atau ketersediaan pangan menjadi aspek paling rentan ketika suatu negara terlalu bergantung pada impor (Maharani & Puspasari, 2023).

Memang, impor dapat menjadi solusi sementara saat stok beras dalam negeri tidak mencukupi. Namun ketergantungan berlebihan membuat Indonesia sangat mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga internasional atau kebijakan ekspor negara pemasok (Ramadhan & Faridatussalam, 2023). Dalam jangka panjang, ini bukan hanya ancaman terhadap stabilitas harga, tetapi juga terhadap kedaulatan pangan nasional.

Food Estate: Solusi atau Sekadar Proyek Gengsi?

Sebagai upaya keluar dari ketergantungan, pemerintah meluncurkan program food estate di sejumlah wilayah, seperti Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara. Secara konsep, program ini bertujuan memperluas lahan tanam dan meningkatkan produksi beras nasional (Fatahullah & Hilmi, 2024).

Namun, implementasinya jauh dari ideal. Penelitian Herawati et al. (2023) menemukan bahwa banyak proyek food estate mengalami kendala seperti lahan tidak cocok, infrastruktur minim, dan kurangnya keterlibatan masyarakat. Bahkan penelitian Rohmah & Syafruddin (2022) menunjukkan bahwa petani lokal di Kalimantan Tengah tidak merasakan peningkatan kesejahteraan dari proyek tersebut. Tanpa partisipasi petani dan distribusi keuntungan yang adil, food estate hanya akan memperbesar produksi tanpa memperbaiki kehidupan pelaku utamanya.

Menata Ulang Arah Kebijakan Pangan Nasional

Kebijakan impor beras memang mampu menjaga stabilitas harga dalam jangka pendek. Namun jika dijadikan strategi utama, kebijakan ini justru menimbulkan ketergantungan struktural yang membahayakan ekonomi nasional. Harga gabah yang tertekan, petani yang kehilangan semangat, dan kemandirian pangan yang melemah hanyalah sebagian dari dampak panjangnya.

Untuk membangun ketahanan pangan sejati, Indonesia perlu mengubah paradigma dari “mengimpor saat kekurangan” menjadi “memperkuat produksi dalam negeri”. Pemerintah harus berani berinvestasi lebih besar pada teknologi pertanian, perbaikan infrastruktur irigasi, serta kebijakan harga yang berpihak pada petani.

Kesejahteraan petani harus menjadi indikator utama keberhasilan kebijakan pangan. Sebab tanpa petani yang sejahtera, kemandirian pangan hanyalah slogan kosong. Ketahanan pangan bukan hanya soal tersedia atau tidaknya beras di pasar, tetapi juga soal apakah petani yang menanamnya dapat hidup layak dari hasil jerih payahnya.

Kesimpulan

Ketergantungan impor beras telah memperlihatkan dampak serius terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Indonesia. Selama kebijakan pangan masih berorientasi pada solusi instan seperti impor, maka ketahanan pangan sejati tidak akan tercapai. Saatnya Indonesia berdiri di atas kekuatan sendiri—menyuburkan tanah, memuliakan petani, dan menanam kemandirian demi masa depan pangan yang berdaulat dan berkelanjutan.

Daftar Pustaka

Aziza, L., Zidan, M., Oktavia, T., & Febriansyah, F. (2024). Dampak kebijakan impor beras terhadap petani lokal Jember. Arus Jurnal Sosial dan Humaniora, 4(1), 345–350.

Habibah, L., Futri, A., Khuzaeri, A. P., Shidqi, F., Winata, W. A., & Desmawan, D. (2024). Beras sebagai makanan pokok: Faktor penyebab ketergantungan dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Bursa: Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 3(2), 110–114.

Herawati, D., Risdhianto, S., & Saptono, B. (2023). Swasembada pangan sebagai pilar strategis ketahanan nasional di Indonesia dalam perspektif manajemen pertahanan. Jurnal Kreatif, 9(2), 112–123.

Hilmi, M. A. (2024). Food estate: Ancaman ataukah peluang bagi ketahanan pangan Indonesia? Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 8(4), 1313–1326.

Juliashar, F., Tatimah, K., Abiyyah, N. A. S., & Wikansari, R. (2024). Pengaruh impor beras asal Thailand dan Vietnam terhadap kestabilan harga beras di Indonesia. AGRORADIX: Jurnal Ilmu Pertanian, 7(2), 1–11.

Kusumastuti, A. I., Indriani, S. A., & Febriyani, T. (2024). Dampak maraknya impor beras di Indonesia dalam 5 tahun terakhir terhadap kesejahteraan petani padi. Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional (JINTAN), 4(1), 78–88.

Maharani, A., & Puspasari, E. (2024). Literatur review: Analisis pemantauan ketersediaan dan distribusi beras dalam upaya ketahanan pangan. Karimah Tauhid, 3(10), 10940–10949.

Ramadhan, F., & Faridatussalam, R. (2023). Determinasi rasio ketersediaan beras di Indonesia dalam perspektif ketahanan pangan nasional. Jurnal Ekonomi Riset, 6(3), 191–202.

Rohmah, N., & Syafruddin, A. (2022). Dampak program food estate terhadap kesejahteraan petani di Kalimantan Tengah. Jurnal Agriekonomika, 11(2), 201–210.

Umar, M. K. G. (2025). Dampak impor beras terhadap harga eceran tertinggi beras lokal Indonesia. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen, 3(2), 146–153.

Penulis: Dewi Ghina Apriani
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA