Pembunuhan di Pinggir Tol Karang Tengah Dipicu Motif Asmara

Polisi berhasil mengungkap motif pembunuhan terhadap BS, 19 tahun yang ditemukan tewas di pinggir jalan menuju Tol Jakarta-Tangerang, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang pada Rabu, 1 Juni 2022.
Rekonstruksi pembunuhan di pinggir Jalan Tol Tangerang - Merak, sekitar Green Lake, Karang Tengah, Kota Tangerang, Jumat 3 Juni 2022. (Foto : Eko Setiawan/TangerangDaily)
Bagikan:

KOTA TANGERANG | TD — Polisi berhasil mengungkap motif pembunuhan terhadap BS, 19 tahun yang ditemukan tewas di pinggir jalan menuju Tol Jakarta-Tangerang, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang pada Rabu, 1 Juni 2022.

Motif pembunuhan itu terungkap setelah personel Polda Metro Jaya berhasil menangkap dua tersangka yakni FR, laki-laki, 21 tahun dan DS, perempuan, tahun.

Bacaan Lainnya

Kanit 3 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, Komisaris Widi Irawan, mengungkapkan, motif pembunuhan BS lantaran dipicu sakit hati tersangka.

“Kalau untuk motifnya karena dendam. Ceweknya ini pernah berpacaran dengan korban. Setelah putus korban masih menghubungi dan mengganggu dan lain sebagainya, sehingga kedua kedua tersangka ini merencanakan untuk menghabisi korban,” ujarnya usai melakukan reka adegan, Jumat 3 Juni 2022.

Sebanyak 34 adegan diperagakan tersangka kedua tersangka. “Untuk kegiatan rekonstruksi pada hari ini itu ada 34 adegan. Jadi yang tadinya ada sekitar 22 adegan ternyata ada tambahan adegan 12 adegan lagi,” ujarnya.

Widi mengatakan, pada adegan 1 sampai 5, kedua tersangka merencanakan pembunuhan tersebut. Kemudian adegan 6 hingga 10 berada di wilayah RT 04/05 Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Adegan seterusnya berada di lokasi tempat kejadian perkara (TKP).

“Untuk hari ini di lapangan ada 2 TKP atau ada 2 lokasi. Satu di perumahan Fortune tempat korban bertemu dengan pelaku yang inisial DF. Terus di sini tempat TKP pembunuhan terjadi,” katanya.

Ia menjelaskan korban dipastikan meninggalkan pada saat adegan ke 21. Pada saat itu, oleh tersangka FR kepala korban dipukul menggunakan martil atau palu sebanyak 3 kali.

“Untuk kematian korban itu ada di adegan 21. Pada saat kepala itu menggunakan martil sebanyak 3 kali. Jadi, pada saat korban setelah dipukul itu diseret ke dalam dengan cara didorong,” jelasnya.

Berdasarkan hasil visum, kata Widi, kematian korban karena benturan di kepala. (Eko Setiawan/Rom)

Bagikan:

Pos terkait