Fenomena Global: Kesalahan Prediksi Mentor Kripto & Influencer

waktu baca 4 minutes
Sabtu, 10 Jan 2026 17:37 0 Nazwa

KRIPTO | TD — Fenomena mentor dan influencer kripto yang kerap keliru memprediksi pergerakan pasar hingga menyebabkan para pengikutnya mengalami kerugian berkepanjangan bukanlah persoalan lokal di Indonesia semata. Fenomena ini bersifat global dan telah menjadi masalah struktural dalam ekosistem kripto modern.

Di berbagai negara—mulai dari Amerika Serikat, Asia, Eropa, hingga Afrika—pola serupa terus berulang. Figur publik kripto tampil meyakinkan ketika harga sedang naik, mengajak pengikutnya masuk dan membeli aset koin tertentu. Namun, tak lama kemudian pasar berbalik arah, dan mayoritas pengikut justru terjebak dalam kondisi floating loss yang berkepanjangan.

Bukan Sekadar Salah Analisis, tetapi Salah Struktur

Banyak pihak mengira persoalan ini semata-mata disebabkan oleh ketidakmampuan membaca grafik harga. Padahal, masalah yang lebih mendasar terletak pada struktur dunia influencer kripto itu sendiri.

Sebagian mentor dan influencer kripto sejatinya bukan analis pasar profesional yang terbiasa bekerja dengan manajemen risiko serta pembacaan siklus jangka panjang. Mereka lebih mengandalkan narasi optimistis, pola candlestick visual, dan euforia pasar jangka pendek, tanpa kerangka probabilitas maupun titik invalidasi yang jelas.

Akibatnya, rekomendasi entry sering muncul bukan pada fase risiko rendah, melainkan ketika harga sudah berada di level tinggi dan potensi koreksi justru semakin besar.

Dugaan Praktik Tidak Etis: Akumulasi Diam-Diam hingga Rug Pull

Yang lebih mengkhawatirkan, persoalan ini tidak berhenti pada salah analisis semata. Dalam sejumlah kasus, muncul pula dugaan praktik tidak etis yang dilakukan oleh oknum mentor dan influencer kripto.

Pola yang kerap dilaporkan berulang adalah sebagai berikut: seorang influencer diduga melakukan akumulasi besar-besaran terhadap koin berkapitalisasi kecil (low market cap) secara diam-diam. Setelah posisi mereka aman, koin tersebut kemudian direkomendasikan kepada ribuan, bahkan puluhan ribu pengikut melalui media sosial, grup berbayar, atau komunitas tertutup.

Ketika para pengikut membeli secara serempak, harga koin melonjak tajam—bahkan dalam beberapa kasus mencapai kenaikan ratusan hingga ribuan persen dalam waktu singkat. Pada fase inilah, berdasarkan berbagai laporan komunitas kripto global, oknum tersebut diduga mulai melakukan penjualan besar-besaran dan meninggalkan pengikut yang masuk belakangan di harga puncak.

Fenomena ini dikenal luas di dunia kripto sebagai rug pull. Meski tidak semua influencer melakukan praktik tersebut, pola serupa telah cukup sering terjadi hingga menimbulkan keresahan luas di kalangan investor ritel.

Mengapa Banyak Pengikut Terjebak?

Ada beberapa faktor utama yang membuat praktik semacam ini terus berulang:

  • Ketimpangan informasi antara influencer dan pengikut.
  • Kepercayaan berlebih terhadap figur publik tanpa audit rekam jejak.
  • Minimnya edukasi manajemen risiko, terutama terkait kapan sebuah analisis dianggap salah.

Euforia massal, di mana lonjakan harga dianggap sebagai pembenaran analisis, bukan sebagai sinyal peringatan risiko.

Dalam kondisi seperti ini, pengikut sering kali tidak memiliki rencana keluar (exit plan), tidak memahami batas risiko, dan akhirnya hanya bisa menunggu harga kembali naik—yang dalam banyak kasus tidak pernah terjadi.

Fenomena Global, Bukan Kegagalan Investor Lokal

Penting ditegaskan bahwa fenomena ini bukan cerminan ketidakmampuan investor Indonesia. Kasus serupa banyak terjadi di negara-negara maju, bahkan telah memicu tindakan hukum dan pengawasan ketat terhadap influencer kripto di sejumlah yurisdiksi.

Artinya, persoalan ini bukan soal individu atau negara tertentu, melainkan konsekuensi dari ekosistem kripto yang sangat spekulatif, minim regulasi influencer, dan sarat konflik kepentingan.

Penutup: Literasi dan Skeptisisme sebagai Pertahanan Utama

Pasar kripto tidak bergerak berdasarkan popularitas atau jumlah pengikut, melainkan oleh siklus, likuiditas, dan dinamika modal besar. Dalam kondisi seperti ini, investor ritel dituntut untuk lebih kritis, skeptis, menghindari keputusan impulsif, serta tidak menyerahkan keputusan finansial sepenuhnya kepada figur publik.

Komunitas kripto yang sehat bukanlah komunitas yang selalu benar menebak arah harga, melainkan komunitas yang memahami risiko, memiliki rencana saat salah, dan tidak mudah terbawa narasi optimistis tanpa dasar struktural.

Pada akhirnya, pasar tidak pernah peduli siapa mentornya. Pasar hanya menghargai disiplin, kebijaksanaan, dan kesabaran.

Penulis: Sugeng Prasetyo, Pengamat & Analis Pasar Kripto.

Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki tingkat risiko yang tinggi. Artikel ini disusun semata-mata untuk tujuan edukasi dan tidak dimaksudkan sebagai dasar atau rekomendasi dalam pengambilan keputusan investasi. Penulis dan redaksi TangerangDaily.id tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan untuk melakukan riset secara mandiri serta berkonsultasi dengan penasihat keuangan profesional sebelum berinvestasi. (*)

LAINNYA