Junk food enak dan praktis, tetapi berisiko memicu obesitas dan penyakit serius. Mengurangi konsumsi dan memilih makanan sehat adalah kunci menjaga tubuh tetap kuat. (Foto: Freepik)KESEHATAN | TD — Junk food—makanan cepat saji yang tinggi kalori namun miskin zat gizi—telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Dari burger berminyak hingga minuman bersoda, banyak orang memilihnya karena rasa yang menggoda dan harga yang terjangkau. Namun di balik kenikmatannya, junk food menyimpan ancaman serius yang dapat menurunkan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Dampak paling nyata dari konsumsi junk food adalah meningkatnya risiko obesitas. Kandungan lemak jenuh, gula, dan garam yang tinggi menjadikannya berkalori besar tetapi rendah serat dan nutrisi esensial.
WHO mencatat bahwa pada 2016 terdapat 650 juta orang dewasa yang mengalami obesitas, menjadikannya epidemi global. Konsumsi junk food secara rutin menyebabkan penumpukan lemak berlebih yang memicu berbagai penyakit kronis dan menurunkan kualitas hidup.
Junk food biasanya mengandung lemak trans dan kolesterol tinggi yang merusak kesehatan jantung.
Penelitian American Heart Association (AHA) menunjukkan bahwa pola makan tinggi junk food meningkatkan kolesterol LDL dan trigliserida, memicu aterosklerosis—penumpukan plak pada pembuluh darah.
Akibatnya, risiko serangan jantung, stroke, dan hipertensi meningkat tajam. Banyak orang yang terlihat sehat di usia muda harus berjuang menghadapi penyakit jantung di kemudian hari karena pola makan buruk yang berlangsung lama.
Gula rafinasi dalam soda, permen, dan kudapan manis memicu lonjakan insulin yang drastis. Bila berlangsung terus-menerus, hal ini mengganggu regulasi gula darah dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
CDC mencatat bahwa diabetes mempengaruhi sekitar 10% populasi dunia, dan pola makan tidak sehat merupakan faktor penyebab yang dominan. Junk food ibarat “bom waktu metabolik” yang perlahan merusak kemampuan tubuh mengelola energi.
Meski mengenyangkan, junk food kekurangan vitamin, mineral, dan serat. Akibatnya, tubuh dapat mengalami malnutrisi terselubung—tampak sehat tetapi sebenarnya kekurangan nutrisi penting.
Rendahnya serat menyebabkan sembelit, gangguan usus, hingga risiko divertikulitis. Selain itu, pengawet dan aditif tertentu dapat mengiritasi saluran pencernaan dan menurut World Cancer Research Fund, meningkatkan risiko kanker usus besar.
Tubuh adalah mesin canggih; memasukkan “bahan bakar” yang salah membuatnya cepat rusak.
Junk food tidak hanya merusak fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental. Kadar gula yang tinggi menimbulkan lonjakan energi singkat yang diikuti rasa lelah, cemas, dan ketergantungan—mirip pola adiktif.
Studi di jurnal Nature menunjukkan bahwa konsumsi junk food yang berlebihan berhubungan dengan risiko lebih tinggi terhadap depresi dan gangguan kognitif. Beberapa riset bahkan menemukan bahwa kebiasaan makan tidak sehat dapat meningkatkan risiko kematian dini hingga 20%–30%.
Junk food memang enak, murah, dan praktis. Namun dampak buruknya—dari obesitas hingga penyakit kronis—tidak dapat diabaikan. Di era ketika informasi kesehatan mudah diakses, kita tidak punya alasan untuk menutup mata terhadap risikonya.
Menggantikan junk food dengan makanan alami seperti buah, sayur, dan biji-bijian adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja. Memasak di rumah, mengurangi konsumsi makanan olahan, atau memilih camilan sehat dapat membuat perbedaan besar bagi masa depan tubuh kita.
Kesehatan adalah investasi terbaik. Kenikmatan sesaat tidak sebanding dengan konsekuensi panjang yang mengancam kualitas hidup.
Penulis: Inaz Saharani
Mahasiswa Prodi Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)