BKKBN dan Ribka Tjiptaning Ajak Warga Tangsel Atasi Stunting

Sosialisasi Pencegahan Stunting Dari Hulu Bersama Mitra Kerja di Provinsi Banten yang dihelat BKKBN di salah satu rumah makan di Serpong, Tangsel, Minggu 3 Juli 2022. (Foto : Istimewa)
Bagikan:

KOTA TANGSEL | TD Indonesia harus segera terbebas dari persoalan stunting. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama mitra (DPR RI) terus gencar melakukan edukasi dan sosialisasi, salah satunya di Kota Tangsel.

Anggota Dewan DPR RI Komisi VII dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ribka Tjiptaning mengajak seluruh warga Tangsel untuk bergerak bersama pemerintah mengatasi stunting.

Bacaan Lainnya

“Hingga saat ini, angka stunting di Indonesia masih sebesar 24,4 persen. Angka tersebut masih terbilang tinggi. Kita harus bisa menurunkan hingga 14 persen, kemudian hingga tahun 2024 mudah-mudahan bisa mencapai 20 persen,” ujarnya saat menjadi narasumber acara Sosialisasi Pencegahan Stunting Dari Hulu Bersama Mitra Kerja di Provinsi Banten yang dihelat BKKBN di salah satu rumah makan di Serpong, Tangsel, Minggu 3 Juli 2022.

Ribka menekankan, persoalan stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi dapat berdampak serius pada masa depan generasi bangsa. Karenanya, perlu aksi serius yang melibatkan partisipasi aktif semua pihak, tak hanya pemerintah, melainkan juga masyarakat dan swasta.

“Jika tidak serius kita atasi, di masa depan bisa muncul berbagai masalah sosial, terlebih tantangan kita akan semakin kompleks,” tegasnya.

Dia pun mengajak peserta yang hadir untuk bahu membahu menyebarluaskan informasi seputar stunting, kemudian bergerak bersama. “Salah satunya dengan benar-benar memperhatikan asupan gizi anak sejak dalam kandungan, karena pemicu utama stunting adalah masalah kekurangan gizi,” terangnya.

Selain itu, menurut Ribka, pola hidup sehat pun harus terus diterapkan. Sebab, kasus stunting dapat muncul dari seorang ibu yang sakit-sakitan. Sehingga janin yang semestinya mendapatkan asupan gizi yang cukup, karena sang ibu dalam kondisi sakit, bisa berdampak pada kekurangan gizi. “Jaga kebersihan lingkungan serta keluarga. Jangan menganggap sepele soal kebersihan, karena bisa berdampak serius pada kesehatan,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, Pemerintah melalui BKKBN sedang bekerja serius untuk mengatasi stunting di Indonesia. Di Kota Tangsel, berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2022, angka stunting mengalami peningkatan yang cukup tinggi mencapai angka 19,9 persen.

“Faktor yang menyebabkan masih banyaknya kasus stunting di Tangsel karena dua hal, yakni meliputi kurangnya asupan gizi terutama protein dan pola asuh yang kurang tepat,” katanya.

Sementara dr. Riyo Kristian Utomo, staf ahli BKKBN mengatakan, sekitar 80 persen kasus stunting di Tangsel karena kurang asupan gizi. Tapi 20 persen soal pola asuh. “Melalui sosialisasi ini kami berharap kasus stunting di Tangsel bisa turun dengan peran aktif semua pihak,” katanya.

Riyo menambahkan, pola asuh yang salah bisa jadi karena sebagian besar dipengaruhi oleh kekeliruan soal asupan gizi. “Bisa jadi karena ibunya bekerja, kemudian anak atau bayi diasuh oleh orang lain. Sehingga anak yang semestinya mendapatkan asupan ASI eksklusif, diganti dengan susu formula. Nah, hal ini yang perlu benar-benar diperhatikan oleh ibu-ibu yang bekerja, sehingga tetap terjadi keseimbangan antara bekerja dan mengasuh anak,” katanya.

Dalam sosialisasi yang dihadiri peserta sebagian besar perempuan itu, hadir juga Wakil Ketua I DPRD Kota Tangerang Selatan Iwan Rahayu, Koordinator Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Perwakilan Provinsi Banten Dr Dian Rosyainingsih, Sekretaris Dinas DP3AP2KB Tangsel dr. Elen, serta Pembina Yayasan Alam Semesta Wanto Sugito. (Red)

Bagikan:

Pos terkait