Sejarah Perkembangan Kesadaran Perubahan Iklim (2)

Margaret Thatcher, PM Inggris, menggagas untuk diadakannya traktat internasional untuk mengatasi perubahan iklim. (Foto: instagram @margaret._.thatcher)
Bagikan:

TANGERANG | TD – Tercatat sejak tahun 1824, para ahli terus mengadakan percobaan ilmiah untuk mengetahui lebih banyak mengenai apa saja yang terjadi dalam perubahan iklim.

Percobaan tersebut terjadi di berbagai negara yang mempunyai teknologi memadai. Pada Sejarah Perkembangan Kesadaran Perubahan Iklim, Inggris dan Swedia memberikan kekayaan pengetahuan dalam teknologi itu.

Pada tahun 1955, Amerika Serikat juga memberikan andil dalam sejarah perkembangan kesadaran perubahan iklim. Penelitinya, Gilbert Plass, memanfaatkan peralatan generasi terbaru saat itu untuk menganalisa bagaimana sinar infra merah terserap ke dalam berbagai jenis gas.

Gilbert Plass menemukan bahwa kenaikan 2x lipat konsentrasi CO2 akan menaikkan suhu sekitar 3-4 derajat Celsius.

Roger Revelle, ahli kelautan Amerika Serikat, bekerja sama dengan ahli kimia Hans Suess untuk membuktikan bahwa air laut tidak menyerap semua CO2 yang ada di atmosfir. Pembuktian ini berhasil menggagalkan asumsi publik tentang laut yang menetralkan polusi pada tahun 1957.

Terhitung setelah 4 tahun sejak 1958, Charles David Keeling menggunakan peralatan buatannya sendiri untuk menghitung secara sistematis polusi CO2 di atmosfir. Ia mengadakan percobaan tersebut di Mauna Loa, Hawai, dan Antartika.

Penelitian di laboratorium Charles David Keeling dilakukan sampai sekarang dan merupakan bukti nyata peningkatan yang berbahaya dari keberadaan CO2 di atmosfer.

Konferensi Lingkungan PBB pertama di Stockholm pada tahun 1972 mulai membicarakan polusi kimia, disamping bom atom dan perburuan ikan paus. Sayangnya, perubahan iklim maupun pemanasan global belum menjadi wacana yang ditemukan dalam pertemuan internasional tersebut.

Pada tahun 1975, Wallace Broecker, seorang ilmuwan Amerika, memperkenalkan istilah ‘pemanasan global’ kepada publik melalui jurnal ilmiahnya.

Tahun 1987, Traktat Montreal disepakati oleh 11 negara untuk mengatasi kerusakan pada lapisan ozon karena beberapa zat kimia, seperti khlorin dan bromin.

Perjanjian ini mengalami revisi beberapa kali, termasuk untuk memasukkan beberapa bahan tambahan yang harus dimusnahkan. Salah satunya nitrogen oksida (N2O).

Traktat Montreal mengatakan bahwa lapisan ozon dapat pulih dengan kondisi ozon seperti pada tahun 1980, jika bahan-bahan berbahaya yang dapat menipiskan ozon dimusnahkan. Diperkirakan target tersebut dapat tercapai pada tahun 2050-2070.

Kini Traktat Montreal sudah diratifikasi hingga hampir 200 negara.

Pada tahun 1988 diadakan diskusi panel antara berbagai negara untuk bekerja sama mengkaji dan mengumpulkan bukti-bukti adanya perubahan iklim.

Margaret Thatcher, Perdana Menteri Inggris, pada tahun 1989 berpidato dalam pertemuan PBB. Beliau memperingatkan tingginya kenaikan karbondioksida di atmosfer. Margaret Thatcher mendorong diadakannya perjanjian internasional tentang perubahan iklim.

Hal yang tak disadari oleh banyak orang dari Margaret Thatcher adalah latar belakang pendidikannya sebagai sarjana kimia. Hal yang membuatnya terdorong secara kuat untuk menyuarakan apa yang terjadi dalam perubahan iklim.

Demikianlah sejarah perkembangan kesadaran perubahan iklim akhirnya menjadi pusat perhatian internasional sejak penelitian ahli tahun 1824 hingga 1989. ***

Bagikan: