FSPPI Apresiasi Kinerja dan Ekspansi GMF, Dorong Kesejahteraan Pekerja dan Prioritas Kader Internal

waktu baca 5 menit
Rabu, 21 Okt 2026 14:30 52 Redaksi

TANGERANG | TD — Federasi Serikat Pekerja Penerbangan Indonesia (FSPPI) mengapresiasi pertumbuhan kinerja dan ekspansi internasional PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF AeroAsia). Di tengah penguatan bisnis perusahaan, FSPPI mendorong peningkatan kesejahteraan pekerja dan pemberian prioritas kepada kader internal yang kompeten dalam proses suksesi kepemimpinan GMF.

Sekretaris Umum FSPPI, Budi Cahyono, mengatakan keberhasilan perusahaan tidak terlepas dari kontribusi para pekerja yang menjaga kualitas layanan, keselamatan penerbangan, dan kepercayaan pelanggan.

Menurut Budi, pencapaian bisnis harus berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap sumber daya manusia yang menjadi fondasi operasional perusahaan.

“FSPPI mengapresiasi kerja kolektif seluruh jajaran GMF. Penghargaan khusus kami sampaikan kepada para pekerja yang melalui kompetensi, kedisiplinan, dan profesionalismenya telah menjaga keselamatan, kualitas layanan, serta kepercayaan pelanggan. Mereka adalah fondasi utama keberhasilan perusahaan,” ujar Budi dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).

Pada semester I 2026, GMF membukukan pendapatan sebesar US$270,29 juta, tumbuh 51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga mencatat laba berjalan sebesar US$10,81 juta.

Capaian tersebut disertai sejumlah perkembangan operasional, termasuk modernisasi pesawat Hercules, pelayanan bagi pelanggan internasional, serta pengembangan kemitraan strategis.

Budi menilai kemampuan GMF menangani pekerjaan dengan kompleksitas tinggi dan memenuhi standar penerbangan internasional mencerminkan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan.

“Pencapaian tersebut menegaskan kualitas insan GMF yang berkelas dunia dan memperkuat posisi GMF sebagai MRO kebanggaan nasional yang kami tempatkan sebagai nomor satu di Indonesia,” katanya.

Ekspansi Oman Perlu Diikuti Penguatan SDM

Pengembangan pasar internasional menjadi salah satu langkah strategis GMF dalam memperluas jangkauan bisnisnya. Pada 5 Oktober 2026, GMF menandatangani perjanjian konsesi selama 20 tahun dengan Civil Aviation Authority (CAA) Oman untuk pengoperasian dan pengelolaan fasilitas perawatan pesawat di Bandara Internasional Muscat.

Pengembangan fasilitas tersebut dilakukan secara bertahap dan diharapkan membuka akses lebih luas bagi GMF ke pasar Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Selain itu, GMF menjalin kolaborasi dengan Mach Aerospace International untuk mendukung pengembangan kapabilitas dan sumber daya manusia di industri penerbangan.

Budi menilai kepercayaan internasional tersebut menjadi pengakuan atas pengalaman dan kemampuan teknis insan GMF.

“Kepercayaan untuk mengembangkan dan mengoperasikan fasilitas MRO di Oman menunjukkan bahwa kompetensi insan GMF memiliki nilai di pasar internasional. Ini menjadi kebanggaan bagi pekerja dan bangsa Indonesia, sekaligus membuka kesempatan lebih luas bagi pengembangan talenta perusahaan,” ujarnya.

Meski demikian, FSPPI mengingatkan agar ekspansi bisnis juga memberikan manfaat nyata bagi pekerja. Manfaat tersebut, menurut Budi, dapat diwujudkan melalui peningkatan kesejahteraan, pengembangan kompetensi, dan kesempatan karier yang adil serta transparan.

Ia menegaskan, penghargaan kepada pekerja tidak semata-mata berbentuk apresiasi atas pencapaian perusahaan, tetapi juga perlu tercermin dalam kebijakan pengembangan sumber daya manusia.

“Penghargaan kepada pekerja merupakan investasi bagi keberlanjutan perusahaan. GMF perlu terus memelihara keahlian, memperkuat regenerasi, dan memastikan insan yang berkontribusi terhadap kemajuannya memperoleh kesempatan untuk tumbuh bersama perusahaan,” kata Budi.

FSPPI Dorong Kader Internal dalam Suksesi Kepemimpinan

Selain menyoroti kinerja dan ekspansi perusahaan, FSPPI menyampaikan pandangannya mengenai proses suksesi kepemimpinan GMF. Organisasi tersebut menilai kader internal yang memiliki kompetensi, integritas, dan rekam jejak teruji layak mendapatkan prioritas dalam proses pemilihan pemimpin perusahaan.

Budi menjelaskan, industri maintenance, repair, and overhaul (MRO) atau perawatan, perbaikan, dan pemeriksaan pesawat membutuhkan penguasaan teknis, pemahaman regulasi, budaya keselamatan, serta kemampuan menjaga ketepatan penyelesaian pekerjaan dan keberlanjutan bisnis.

Menurutnya, kader internal memiliki keunggulan berupa pengalaman langsung dalam menghadapi tantangan operasional dan memahami budaya organisasi.

“Kader internal GMF memiliki pengalaman langsung menghadapi tuntutan tersebut. Mereka memahami proses bisnis, budaya keselamatan, karakter pelanggan, serta tantangan operasional perusahaan. Kader dengan kompetensi, integritas, dan rekam jejak kepemimpinan yang terbukti selayaknya memperoleh kesempatan utama untuk memimpin GMF ke depan,” tegasnya.

Meski mendorong prioritas bagi kader internal, FSPPI menyatakan tetap menghargai pengalaman profesional dari luar perusahaan. Organisasi tersebut menekankan bahwa proses penetapan pemimpin harus berlandaskan meritokrasi dan tata kelola perusahaan yang baik.

“Kami menghargai perspektif profesional dari luar GMF. Pada saat yang sama, kami meyakini perusahaan memiliki kader-kader terbaik yang sangat menguasai dunia MRO dan memahami kebutuhan GMF secara menyeluruh. Pengalaman serta kemampuan yang telah mereka buktikan patut menjadi pertimbangan utama dalam penetapan kepemimpinan,” lanjut Budi.

Ia menambahkan, kesinambungan kepemimpinan yang ditopang penguasaan industri dan pemahaman organisasi dapat membantu perusahaan menjaga kompetensi inti sekaligus mempercepat pengembangan bisnis.

“Ketika keahlian insan GMF dipercaya untuk mendukung pengembangan industri perawatan pesawat di negara lain, kader terbaiknya juga selayaknya memperoleh kepercayaan utama untuk memimpin perusahaan sendiri. Kepercayaan itu harus dibangun melalui penilaian yang objektif, transparan, dan berorientasi pada masa depan GMF,” ujarnya.

Perkuat Ekosistem Penerbangan Nasional

FSPPI merupakan federasi yang menghimpun serikat pekerja dan organisasi profesi dari berbagai sektor industri penerbangan, mulai dari bandar udara, navigasi penerbangan, pilot, perawatan pesawat, ground handling, hingga transportasi pendukung.

Organisasi tersebut saat ini beranggotakan enam serikat pekerja dan organisasi profesi, yakni SPINDO (Serikat Pegawai Angkasa Pura Indonesia), GEC (Serikat Pekerja GMF AeroAsia), SKYNAV (Serikat Karyawan AirNav Indonesia), APG (Asosiasi Pilot Garuda Indonesia), SIPERKAS (Serikat Pegawai Gapura Angkasa), dan SPASI (Serikat Pekerja Aerotrans Services Indonesia).

FSPPI berafiliasi dengan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di bawah kepemimpinan Moh Jumhur Hidayat.

Dengan keterwakilan lintas sektor tersebut, FSPPI menyatakan komitmennya untuk mendukung penguatan GMF sebagai bagian penting dari ekosistem penerbangan nasional yang aman, kompetitif, dan berkelanjutan.

Budi menegaskan, daya saing industri penerbangan nasional tidak hanya ditentukan oleh ekspansi bisnis dan penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia dan keberlanjutan regenerasi kepemimpinan.

“GMF yang semakin kuat merupakan kebanggaan industri penerbangan Indonesia. Kemajuan tersebut harus ditopang penghargaan kepada pekerja, pengembangan kompetensi secara berkelanjutan, serta kepercayaan kepada kader terbaik untuk membawa perusahaan melangkah lebih jauh,” tutupnya. (Rls/Red)

LAINNYA