Personel NRTG: Rofy, drum (kiri), Arsyad Mohamed, vokal/gitar (tengah), Rony Firdaus, bass (kanan). (Foto: Dok. NRTG untuk TangerangDaily) MUSIK | TD — Ada fase dalam hidup ketika semuanya terasa tidak pasti—mimpi terasa jauh, langkah terasa berat, dan kegagalan datang berulang. Di titik itulah, sebagian orang berhenti. Tapi sebagian lain memilih tetap berjalan, meski pelan.
Dari ruang-ruang sederhana di Solo, cerita seperti itu justru menjadi bahan bakar bagi NRTG.
Lewat single “Kita Lawan Dunia”, trio pop punk ini — Arsyad Mohamed (vokal/gitar), Rony Firdaus (bass), dan Rofy (drum) — tidak sekadar merilis lagu, tetapi membagikan potongan hidup yang mungkin terasa sangat dekat bagi banyak orang.
Berawal dari Kebersamaan yang Sederhana
Tidak ada rencana besar di awal. NRTG lahir dari kebersamaan—dari waktu-waktu yang dihabiskan untuk bermain musik, membawakan lagu-lagu pop punk, dan tertawa bersama.
“NRTG terbentuk pada tahun 2022 dari kebersamaan kami yang sering menghabiskan waktu untuk bermain musik, khususnya membawakan lagu-lagu pop punk. Dari situ kami merasa memiliki kecocokan yang kuat, hingga akhirnya memutuskan untuk mulai menciptakan karya orisinal sebagai identitas kami,” tutur Arsyad Mohamed kepada TangerangDaily, Jumat, 10 April 2026.
Dari yang awalnya hanya mengisi waktu, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih serius—dan lebih personal.
Nama NRTG sendiri terasa seperti pengakuan jujur anak muda hari ini: Not Ready Tapi Gas.
“Filosofinya adalah bagaimana kami tetap berani menghadapi segala situasi, bahkan ketika merasa belum sepenuhnya siap.”
Sebuah kalimat yang sederhana, tapi mungkin sangat relevan bagi siapa saja yang sedang mencoba bertahan.
Tidak Dibuat-Buat, Hanya Dijalani
Di tengah arus musik yang sering menuntut keunikan instan, NRTG justru memilih untuk tidak memaksakan diri.
Mereka tidak berusaha terdengar berbeda—mereka hanya berusaha jujur.
“Kami tidak secara khusus berusaha untuk tampil berbeda. Kami berfokus pada kejujuran dalam berkarya—musik kami berangkat dari pengalaman dan rasa yang nyata.”
Pilihan itu terasa dalam lirik-lirik mereka yang lugas, tanpa banyak metafora rumit.
“Kami percaya kesederhanaan dalam lirik justru membuat pesan lebih kuat dan mudah dipahami oleh pendengar.”
Dan mungkin di situlah letak kekuatannya—karena hidup sendiri seringkali tidak serumit kata-kata, tapi terasa dalam.
Lagu tentang Jatuh, Bangkit, dan Mengulang Lagi
“Kita Lawan Dunia” berangkat dari ide sederhana yang kemudian tumbuh bersama.
“Lagu ini saya tulis sebagai penggagas awal, lalu kami kembangkan bersama dari segi aransemen dan lirik hingga menjadi karya yang utuh,” jelas Arsyad.
Di balik nada-nada yang enerjik, lagu ini menyimpan cerita yang tidak asing: tentang gagal, mencoba lagi, dan tidak menyerah.
“Ini tentang seseorang yang terus berjuang meraih cita-citanya. Meskipun mengalami kegagalan berulang kali, semangat untuk bangkit tetap menjadi inti cerita yang ingin kami sampaikan.”
Proses kreatifnya pun mengikuti alur yang sama—tidak selalu rapi di awal.
“Kami biasanya memulai secara spontan, terutama dalam penulisan lirik, agar tetap menangkap rasa yang jujur. Setelah itu baru kami sempurnakan.”
Seolah mereka sendiri menjalani apa yang mereka tulis: mencoba, memperbaiki, dan terus bergerak.
Kota, Teman, dan Cerita-cerita Kecil
Bagi NRTG, musik tidak datang dari ruang hampa. Ia lahir dari obrolan, dari pengalaman sehari-hari, dari cerita orang-orang terdekat.
“Banyak inspirasi datang dari interaksi sehari-hari, baik dari pengalaman pribadi maupun cerita orang-orang di sekitar kami.”
Kota Solo, dengan ritmenya yang tenang, juga memberi warna tersendiri.
“Solo memiliki karakter yang tenang namun kaya cerita. Itu memengaruhi cara kami membangun suasana dan menyampaikan rasa.”
Perjalanan mereka pun tidak selalu mulus. Pergantian personel sempat terjadi—membawa dinamika yang tidak mudah.
“Itu menjadi bagian dari proses pendewasaan kami dan membantu memperjelas arah band.”
Seperti hidup, yang kadang perlu kehilangan untuk menemukan bentuk yang lebih utuh.
Memilih Jalan Sendiri
Di tengah banyaknya band yang mencari label, NRTG justru memilih berjalan independen.
“Kami ingin memiliki kebebasan penuh dalam berkarya dan menentukan arah musikal. Tantangannya ada, tapi ini pilihan yang kami yakini.”
Pilihan yang mungkin tidak mudah, tapi memberi mereka ruang untuk tetap menjadi diri sendiri.
Lagu yang Ingin Menemani, Bukan Sekadar Didengar
Bagi NRTG, “Kita Lawan Dunia” bukan hanya tentang didengar—tapi tentang menemani.
“Kami berharap lagu ini bisa menjadi teman perjalanan, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam masa perjuangan.”
Karena pada akhirnya, semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
Dan jika harus merangkum semuanya dalam satu kalimat, mungkin ini yang paling dekat:
“Kegagalan adalah pengalaman berharga yang membentuk langkah kita untuk masa depan yang lebih baik.”
Sebuah kalimat yang tidak mengubah keadaan secara instan, tapi cukup untuk membuat seseorang bertahan satu hari lagi.
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.
Karena kadang, melawan dunia tidak selalu berarti menang—
tapi memilih untuk tidak berhenti. (Red)