PRISMA | TD — Di sudut Kelurahan Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, terdapat sebuah lorong kecil bernama Gang Sarmili. Terletak di RT 06 RW 03, gang ini tampak seperti perkampungan sederhana pada umumnya: rumah-rumah berdempetan, suara anak-anak bermain menjelang sore, dan aroma masakan yang sesekali keluar dari dapur warga. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan kisah tentang toleransi, kebersamaan, dan harmoni yang jarang ditemukan di wilayah urban yang cenderung individualistis.
Gang Sarmili bukan sekadar gang sempit penghubung antarrumah. Gang ini menjadi gambaran nyata bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan fondasi untuk bersatu. Warga hidup berdampingan meski berbeda agama, ras, dan suku. Mayoritas penduduk beragama Islam, tetapi terdapat pula keluarga Kristen dan Buddha yang hidup nyaman tanpa merasa terpinggirkan.
Keberagaman ras dan warna kulit tampak jelas—dari kuning langsat, sawo matang, hingga hitam—semuanya menyatu dalam interaksi sehari-hari tanpa sekat. Dari sisi suku, warga berasal dari latar belakang Betawi, Jawa, Padang, Lampung, hingga Medan. Alih-alih menjadi jurang pemisah, perbedaan ini justru menjadi warna unik yang memperkaya kehidupan sosial.
Ritme Kebersamaan dalam Pengajian Mingguan
Kehangatan warga terlihat dalam kegiatan rutin. Dua kali seminggu, gang ini berubah menjadi ruang belajar dan ibadah.
Setiap malam Selasa, para bapak mengikuti pengajian yang berisi pembelajaran Al-Qur’an, fikih, tajwid, akidah, serta pembacaan maulid. Suasana akrab tercermin dari kebiasaan saling mengingatkan dan mendukung dalam proses belajar agama.

Pengajian rutin malam Selasa di Gang Sarmili, di mana para bapak berkumpul bersama untuk belajar dan memperdalam keimanan dalam suasana penuh kekeluargaan. (Foto: Dok. Penulis)
Sementara itu, setiap malam Jumat, para ibu mengadakan pengajian dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Yasin, tahlil, dan maulid. Selain menjadi ruang spiritual, kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi cerita, keluh kesah, dan solusi atas persoalan keluarga.
Agustus Meriah: Festival Kecil Penghidup Gang
Setiap bulan Agustus, gang ini semarak oleh perayaan Hari Kemerdekaan. Warga dari berbagai usia berpartisipasi dalam pawai, senam pagi, dan beragam lomba. Pada malam puncak, suasana dipenuhi tawa dan tepuk tangan saat warga menampilkan tarian daerah, tarian modern, serta drama musikal yang selalu dinanti.

Merayakan Hari Kemerdekaan RI di Gang Sarmili dengan semangat kebersamaan, gotong royong, dan rasa bangga terhadap bangsa Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia ke-78! (Foto: Dok. Pribadi)
Tahun Baru: Makan Bersama sebagai Simbol Persatuan
Saat malam tahun baru tiba, aroma ikan bakar, jagung, dan sate memenuhi gang. Warga bergotong royong menyiapkan makanan lalu menyantapnya bersama. Anak-anak berlarian menyalakan kembang api, sementara orang dewasa bercengkerama santai di pinggir jalan. Tradisi sederhana ini menjadi simbol bahwa kebersamaan di Gang Sarmili bukan sekadar formalitas, melainkan budaya yang diwariskan dari tahun ke tahun.

Makan-makan tahun baru bersama keluarga dan tetangga di Gang Sarmili, penuh kebersamaan dan kebahagiaan menyambut awal tahun yang baru. (Foto: Dok. Pribadi)
Sarmili Mengajarkan Arti Toleransi
Di tengah isu perbedaan yang kerap dibesar-besarkan di media sosial, Gang Sarmili memberi pelajaran berharga: kerukunan bukan hanya slogan, melainkan praktik sehari-hari. Dari lorong kecil ini, kita belajar bahwa toleransi adalah sikap yang dipilih secara sadar—untuk saling menghargai, mengasihi, dan membuka ruang bagi keberagaman.

Pengajian malam Jumat yang diikuti para ibu, sebagai momen berbagi cerita dan memperkuat tali silaturahmi dalam suasana penuh kehangatan dan kekompakan. (Foto: Dok. Pribadi)
Penulis: Amanda Nur Fadilah, Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Tangerang. (*)