Mahasiswa Kedokteran KKM 63 Untirta Gelar Edukasi Kesehatan Paru bagi Warga Desa Ukirsari

waktu baca 3 minutes
Jumat, 30 Jan 2026 17:06 0 Nazwa

SERANG | TD — Kelompok 63 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Tematik Reguler I Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Tahun 2026 menyelenggarakan kegiatan Edukasi Kesehatan Paru bagi masyarakat Desa Ukirsari, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, pada Senin (26/01/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan sistem pernapasan, khususnya di wilayah dengan tingkat paparan polusi yang relatif tinggi akibat aktivitas industri dan pertambangan.

Edukasi kesehatan paru disampaikan oleh Ezra Ahmad Zarqo, mahasiswa Program Studi S1 Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Materi yang dipaparkan disusun secara kontekstual dengan menyesuaikan kondisi Desa Ukirsari yang tidak terlepas dari aktivitas industri, pertambangan, serta tingginya kebiasaan merokok di berbagai kelompok usia.

“Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa paparan debu tambang, asap kendaraan berat, dan asap rokok dapat mengendap di paru-paru dan berdampak serius bagi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” ujar Ezra saat menyampaikan materi edukasi dilansir Jumat, 30 Januari 2026.

Ia menjelaskan bahwa kualitas udara di Desa Ukirsari menghadapi berbagai ancaman yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Paparan debu halus dari aktivitas tambang dan pabrik, asap kendaraan berat, serta asap rokok menjadi faktor utama yang berpotensi memicu gangguan kesehatan pernapasan.

Ezra juga memaparkan data kesehatan desa yang menunjukkan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menempati posisi kedua sebagai penyakit terbanyak di Desa Ukirsari, dengan jumlah 1.277 kasus atau sekitar 13 persen dari total penyakit yang tercatat.

“Data tersebut menunjukkan bahwa masalah pernapasan bukan hal sepele dan memerlukan perhatian serta penanganan bersama,” katanya.

Menurut Ezra, tingginya angka ISPA di Desa Ukirsari tidak hanya dipengaruhi oleh polusi lingkungan eksternal seperti debu dan asap industri, tetapi juga oleh paparan asap rokok di dalam rumah. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena paru-paru mereka masih dalam tahap perkembangan.

“Paru-paru anak masih dalam masa pertumbuhan. Jika terus terpapar asap rokok dan udara tercemar, risikonya bisa berupa infeksi berulang hingga penyakit pernapasan kronis di masa mendatang,” jelasnya.

Selain memaparkan dampak kesehatan, Ezra juga memberikan edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Di antaranya penggunaan masker saat berada di lingkungan berdebu, pembatasan aktivitas luar ruangan ketika tingkat polusi tinggi, penerapan rumah bebas asap rokok, serta menjaga asupan gizi melalui konsumsi buah dan sayuran.

“Langkah sederhana seperti memakai masker, tidak merokok di dalam rumah, dan menjaga pola makan sehat memiliki dampak besar bagi kesehatan paru-paru,” tutup Ezra.

Kegiatan edukasi ini mendapat sambutan positif dari masyarakat Desa Ukirsari yang mengikuti acara dengan antusias dan aktif berdiskusi. Melalui kegiatan tersebut, Kelompok 63 KKM Tematik Untirta berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan paru-paru serta mampu menerapkan pola hidup sehat guna menekan angka penyakit pernapasan di Desa Ukirsari.

Penulis: Ginda Nugraha S., Nazlah Amilatullah (KKM 63 Untirta). (*)

LAINNYA