Muhamad Hijar Ardiansah. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | TD — Ada masa ketika halaman kosong terasa seperti tembok tinggi. Kata-kata berkerumun di kepala, namun keraguan menahan tangan untuk mulai menulis. Dari titik itulah perjalanan penulis di dunia jurnalistik bermula—sebuah proses panjang yang perlahan membentuk cara berpikir, bersikap, dan memandang realitas sosial.
Selama lebih dari enam tahun, jurnalistik tidak dipahami penulis semata sebagai aktivitas menulis. Ia menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkan disiplin, ketelitian, empati, serta keberanian mengambil posisi secara bertanggung jawab. Setiap fase perjalanan—dari bangku SMA hingga ruang redaksi kampus—menghadirkan tantangan yang berbeda, sekaligus pelajaran yang bermakna.
Perjalanan tersebut dimulai ketika penulis bergabung dengan ekstrakurikuler Jurnalistik di SMA. Motivasi awal masih sangat sederhana, yakni keinginan untuk belajar menulis dan mengenal media sekolah. Pada masa itu, jurnalistik masih terasa asing dan belum sepenuhnya dipahami perannya dalam kehidupan sosial.
Langkah awal ini tidak lepas dari peran besar pelatih ekstrakurikuler Jurnalistik. Sosok pelatih menjadi figur yang konsisten mendorong penulis untuk mulai menulis. Dorongan tersebut kerap hadir dalam bentuk tuntutan sederhana namun berkelanjutan. Pada awalnya, keraguan dan kurangnya kepercayaan diri kerap muncul. Menghadapi halaman kosong terasa menantang, sementara ide yang dimiliki sering dianggap belum layak dituangkan ke dalam tulisan.
Seiring berjalannya waktu, dorongan yang terus diberikan perlahan membangun keberanian. Penulis mulai terbiasa menulis meski masih diliputi keraguan. Dari proses tersebut, penulis belajar melakukan riset sederhana, menyusun kerangka tulisan, serta memahami pentingnya akurasi dalam menyajikan informasi. Kesadaran pun tumbuh bahwa menulis bukan semata soal bakat, melainkan kebiasaan yang dibangun melalui latihan dan konsistensi.
Kepercayaan kemudian diberikan kepada penulis untuk mengemban amanah sebagai ketua ekstrakurikuler Jurnalistik SMA. Posisi ini membawa tanggung jawab yang lebih besar. Fokus tidak lagi semata pada pengembangan kemampuan pribadi, melainkan juga pada keberlangsungan organisasi dan perkembangan anggota lainnya.
Menjalani peran sebagai ketua mengajarkan banyak hal tentang kepemimpinan. Penulis belajar menghadapi perbedaan pendapat, mendampingi anggota yang masih ragu menulis, serta menjaga semangat kebersamaan. Tidak semua proses berjalan sesuai harapan, namun dari situ dipahami bahwa kepemimpinan menuntut kesabaran, komunikasi yang efektif, dan kemampuan mengambil keputusan secara adil.
Setelah lulus SMA, perjalanan jurnalistik berlanjut dengan kembali ke sekolah sebagai pendamping ekstrakurikuler Jurnalistik. Peran ini memberikan perspektif baru. Penulis tidak lagi berada pada posisi yang dibimbing, melainkan membimbing. Tanggung jawabnya terasa lebih sederhana, namun sarat makna karena berkaitan langsung dengan proses belajar anggota.
Sebagai pendamping, penulis berupaya menciptakan ruang yang nyaman bagi anggota untuk menyampaikan ide. Gagasan mereka didengarkan, masukan diberikan secara konstruktif, serta keberanian menulis terus didorong dengan tetap menghargai gaya masing-masing. Menyaksikan anggota yang awalnya ragu kemudian mampu menyusun tulisan dengan lebih percaya diri menjadi pengalaman yang berkesan.
Pengalaman tersebut menegaskan bahwa membimbing bukan sekadar menyampaikan materi atau teknik menulis. Proses ini juga berkaitan erat dengan upaya menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian. Dalam peran tersebut, pemahaman penulis terhadap esensi jurnalistik sebagai ruang belajar bersama semakin menguat.
Perjalanan kemudian berlanjut di dunia kampus ketika penulis bergabung dengan lembaga pers mahasiswa dan dipercaya sebagai News Editor. Tanggung jawab pada posisi ini terasa lebih kompleks karena berkaitan dengan pembaca yang lebih luas serta standar kerja yang lebih ketat.
Sebagai News Editor, penulis belajar mengedit berita dengan lebih teliti, bekerja di bawah tekanan tenggat waktu, serta menjaga konsistensi kualitas tulisan. Dari pengalaman ini, semakin disadari bahwa jurnalistik bukan hanya soal menulis berita, melainkan juga tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang.
Bekerja bersama tim redaksi lembaga pers mahasiswa memperluas sudut pandang tentang kerja jurnalistik. Diskusi redaksi, koordinasi antarbagian, hingga evaluasi tulisan menjadi proses penting yang membentuk sikap profesional. Dari sana, penulis belajar menghargai proses kolektif dan pentingnya kerja sama dalam menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.
Dari keseluruhan perjalanan selama lebih dari enam tahun tersebut, penulis menyimpulkan bahwa jurnalistik merupakan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Jurnalistik melatih berpikir kritis, bersikap disiplin, serta menjunjung tinggi etika dalam menyampaikan informasi.
Lebih dari sekadar kemampuan teknis, perjalanan ini turut membentuk karakter. Penulis belajar tentang tanggung jawab, kepemimpinan, empati, serta pentingnya memahami sudut pandang orang lain sebelum menuliskannya. Meski saat ini tidak lagi menjabat sebagai pendamping ekstrakurikuler maupun News Editor, nilai-nilai tersebut tetap melekat.
Bagi penulis, jurnalistik bukan hanya bagian dari perjalanan organisasi atau akademik. Jurnalistik menjadi sarana untuk memahami dunia sekaligus mengenali diri sendiri. Dorongan pelatih, pengalaman memimpin, serta proses belajar di lembaga pers mahasiswa menjadi bekal berharga yang akan terus dibawa dalam tahap kehidupan berikutnya.
Penulis : Muhamad Hijar Ardiansah, Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. (*)