Keisha Putri Endita. (Foto: Dok. Pribadi)OPINI | TD – Jika beberapa tahun lalu kata healing terdengar asing, kini ia hadir di mana-mana—di caption Instagram, video TikTok, sampai obrolan nongkrong. “Lagi healing dulu” menjadi kalimat andalan Gen Z ketika merasa penat. Gambarnya pun sudah hampir pasti bisa ditebak: pantai, ombak, langit sore, secangkir kopi estetik, atau perjalanan spontan ke tempat jauh.
Namun, pertanyaannya satu: benarkah healing selalu seseru itu? Atau bahkan, sesulit dan semahal itu?
Faktanya, bagi banyak anak muda, healing bukan tren asal ikut-ikutan. Ia muncul sebagai respons terhadap tekanan hidup yang terus menumpuk—dari tuntutan produktivitas, ekspektasi sosial yang kian tinggi, hingga derasnya arus informasi digital yang tidak pernah berhenti. Gen Z tumbuh dalam ritme hidup yang cepat, bising, dan menuntut. Di tengah semua itu, istirahat bukan lagi sekadar tidur atau liburan; ia berubah menjadi kebutuhan emosional.
Secara harfiah, healing berarti penyembuhan. Namun di media sosial, maknanya melebar menjadi gaya hidup lengkap dengan estetika tertentu: slow music, pemandangan natural, dan vibe tenang yang seolah sempurna. Konten-konten “healing vibes” memang menyenangkan, tapi sering kali tidak menunjukkan kenyataan di baliknya. Banyak anak muda mengalami kelelahan mental, overthinking, hingga digital burnout. Dan terkadang, yang benar-benar mereka butuhkan bukanlah pantai, melainkan jeda.
Menariknya, Gen Z justru mulai mendefinisikan ulang apa itu healing. Mereka sadar bahwa proses pulih tidak harus jauh, tidak harus mahal, dan tidak harus tampil cantik di media sosial. Healing bisa sesederhana:
Healing menjadi semakin personal dan membumi. Ia bukan pelarian, tetapi proses menyadari batas diri: kapan harus berhenti, kapan harus menarik napas, dan kapan harus memberi ruang pada hati untuk pulih.
Meski begitu, ada ironi yang sulit dihindari di era budaya konten. Banyak momen healing justru berubah menjadi bahan unggahan. Alih-alih menikmati prosesnya, sebagian orang sibuk memastikan foto liburannya estetik, cahayanya pas, atau caption-nya menyentuh. Padahal, penyembuhan tidak selalu indah. Tidak selalu visual. Tidak selalu dramatis. Kadang ia datang dari keheningan, hal-hal kecil, atau rutinitas yang nyaris tidak terlihat.
Dan di situlah letak kejujurannya.
Gen Z mengingatkan kita bahwa istirahat bukan tanda menyerah, melainkan keberanian. Keberanian untuk berhenti sejenak di tengah tekanan. Keberanian mengakui rasa lelah. Keberanian memulihkan diri dengan cara yang paling sesuai dengan diri sendiri.
Healing tidak harus ke pantai, ke kafe estetik, atau ke tempat jauh yang instagrammable. Terkadang, healing hadir lewat langkah kecil yang sederhana: menutup layar, menenangkan pikiran, dan berbisik pelan pada diri sendiri,
“Aku butuh istirahat.”
Penulis: Keisha Putri Endita, Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Fakultas Ilmu Komunikasi, Program Studi Ilmu Komunikasi. (*)