Dampak FOMO terhadap Pengabaian Kearifan Lokal dan Krisis Identitas Gen Z sebagai Anak Bangsa

waktu baca 5 minutes
Sabtu, 15 Nov 2025 19:26 0 Nazwa

OPINI | TD — Di era digital yang serba cepat, Fear of Missing Out (FOMO) telah menjadi fenomena psikologis yang sangat melekat pada Generasi Z (Gen Z). Dorongan untuk selalu mengikuti tren media sosial membuat banyak anak muda merasa harus terus update agar tidak tertinggal dari arus yang sedang viral. Tanpa disadari, kebiasaan ini perlahan menggeser perhatian mereka dari nilai-nilai lokal, warisan budaya, dan identitas kebangsaan.

Dalam upaya mendapat validasi online, Gen Z sering kali kehilangan arah—menyamakan nilai diri dengan tren, likes, atau pengakuan digital. Akibatnya, mereka lebih mudah terombang-ambing oleh perubahan budaya global, sementara akar budaya lokal justru terabaikan. Pada titik inilah Pancasila seharusnya kembali hadir sebagai kompas moral yang membimbing generasi muda agar tetap berpegang pada jati diri bangsa.

FOMO dan Pengabaian Kearifan Lokal: Akar Masalahnya

FOMO muncul di tengah tekanan media sosial yang terus memamerkan tren global. Setiap orang berlomba terlihat relevan, modern, dan “kekinian”. Namun dalam proses itu, banyak anak muda justru lebih memilih budaya luar, gaya hidup konsumtif, dan tren digital yang kerap tidak memiliki kaitan dengan konteks budaya Indonesia.

Terdapat tiga masalah utama yang muncul dari fenomena FOMO di kalangan Gen Z:

1. Gaya Hidup Konsumtif dan Individualisme Digital

Media sosial mendorong Gen Z melakukan follow the trend, sering kali demi membangun citra diri. Ketika suatu produk, gaya hidup, atau challenge sedang viral, mereka merasa cemas jika tidak ikut serta. FOMO ini menjadi pemicu perilaku konsumtif yang sulit dikendalikan.

Di sisi lain, fokus berlebihan pada pencitraan diri menciptakan sikap individualis. Interaksi sosial di dunia nyata kian berkurang, digantikan oleh dunia maya yang penuh kompetisi dan pamer pencapaian. Hal ini bertolak belakang dengan nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong, musyawarah, dan solidaritas.

2. Pengabaian Kearifan Lokal dan Westernisasi

Keterbukaan Gen Z terhadap budaya global memang membawa dampak positif, namun juga menimbulkan efek samping berupa westernization. Mereka semakin mudah mengadopsi gaya hidup, cara berbicara, atau selera Barat, sementara budaya lokal dianggap tidak relevan, kuno, atau tidak estetis di sosial media.

Padahal, kearifan lokal seperti sopan santun, budi pekerti, musyawarah, hingga adab dalam bertutur merupakan fondasi moral bangsa. Ketika nilai-nilai ini terabaikan, identitas budaya pun melemah, meninggalkan kekosongan nilai yang membuat anak muda rentan terhadap pengaruh negatif dunia digital.

3. Krisis Identitas di Tengah Dunia Digital

FOMO menciptakan tekanan psikis yang membuat Gen Z sulit membedakan siapa diri mereka sebenarnya dengan persona online yang mereka bangun. Validasi digital dipandang sebagai ukuran keberhasilan, sehingga mereka mengikuti ekspektasi sosial media alih-alih menggali potensi diri.

Krisis identitas ini berpengaruh pada:

  • Kebingungan menentukan tujuan hidup
  • Rendahnya kepercayaan diri
  • Kecemasan sosial
  • Rasa tidak puas yang terus-menerus

Dalam jangka panjang, ini bisa melemahkan rasa bangga terhadap nilai-nilai bangsa dan budaya sendiri.

Mengapa Pancasila Menjadi Solusi Penting?

Di tengah krisis identitas dan derasnya arus globalisasi, Pancasila menjadi nilai dasar yang perlu kembali dihidupkan. Sebagai ideologi bangsa, Pancasila memberikan panduan moral, arah berpikir, dan orientasi hidup agar generasi muda tidak kehilangan jati diri.

Pancasila bukan sekadar materi pelajaran, melainkan pedoman untuk menjaga keharmonisan sosial, menghargai perbedaan, dan meneguhkan rasa kebangsaan. Dengan memahami nilai-nilainya, Gen Z dapat tetap adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan akar budaya Indonesia.

Solusi Konkret Berdasarkan Nilai Pancasila

1. Menguatkan Moralitas (Sila Ke-1)

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa bisa menjadi fondasi spiritual untuk membangun ketahanan diri. Dengan memperkuat akhlak dan nilai moral, Gen Z tidak mudah bergantung pada validasi media sosial dan lebih bijak dalam menyaring konten.

2. Mengurangi Perbandingan Sosial (Sila Ke-2)

Sila Kemanusiaan menekankan pentingnya menghargai diri sendiri dan orang lain. Memahami bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh tren akan membantu Gen Z memutus lingkaran perbandingan sosial yang memicu FOMO.

3. Menghidupkan Kembali Kebersamaan (Sila Ke-3)

Dengan memperkuat rasa persatuan, lingkungan sosial dapat menjadi ruang yang inklusif dan suportif. Ketika merasa diterima di dunia nyata, anak muda tidak lagi mencari pengakuan semu dari dunia digital.

4. Mendorong Partisipasi dan Musyawarah (Sila Ke-4)

Gen Z perlu didorong untuk menggunakan media sosial sebagai sarana partisipasi konstruktif—menghasilkan konten edukatif, terlibat dalam musyawarah publik, dan memberikan kontribusi sosial.

5. Mengendalikan Konsumerisme (Sila Ke-5)

Pemahaman tentang keadilan sosial dapat mendorong gaya hidup sederhana dan berkelanjutan. Ini membantu Gen Z lebih bijak dalam mengelola finansial dan menghindari perilaku konsumtif akibat FOMO.

Kesimpulan

FOMO telah menjadi fenomena yang memengaruhi cara berpikir dan berperilaku Generasi Z di Indonesia. Ketakutan untuk tertinggal tren menyebabkan pengabaian terhadap kearifan lokal dan memicu krisis identitas sebagai anak bangsa. Jika tidak ditangani, hal ini dapat melemahkan fondasi budaya yang diwariskan oleh leluhur.

Pancasila hadir sebagai solusi untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan digital dan nilai-nilai kebangsaan. Dengan menanamkan Pancasila sebagai pola pikir, karakter, dan etika hidup, Gen Z dapat membangun identitas yang kuat, bangga terhadap budaya sendiri, sekaligus tetap adaptif dalam menghadapi dunia global.

Generasi Z bukanlah generasi yang tersesat—mereka hanya membutuhkan kompas yang tepat. Dengan Pancasila sebagai pedoman, mereka dapat tumbuh sebagai generasi yang inklusif, bijaksana, dan berakar kuat pada identitas bangsa.

Penulis: Amalia Rizky Arrosa, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. (*)

LAINNYA