Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) oleh penulis. KESEHATAN & PSIKOLOGI | TD — Kita semua pernah berada di posisi ini: tersenyum ramah pada rekan kerja, sabar menanggapi klien, menjaga tutur kata di depan orang lain. Tapi begitu sampai rumah, suasananya berbeda. Sedikit kesalahan anak atau komentar pasangan bisa langsung memicu emosi.
Fenomena ini sering dirangkum dalam ungkapan: “Ramah di luar, mudah marah di rumah.”
Kalimat sederhana ini sebenarnya cermin kepribadian modern yang lelah — di luar kita menahan, di rumah kita meluapkan. Tapi mengapa hal ini terjadi, dan apa dampaknya bagi diri serta keluarga?
Setelah seharian menahan diri di kantor, menghadapi target, dan menjaga profesionalitas, energi emosional kita terkuras. Begitu pulang, tubuh memang di rumah, tapi pikiran masih di tempat kerja.
Sebuah studi di Frontiers in Psychology (Abdou et al., 2024) menjelaskan fenomena spill-over effect — tekanan dari pekerjaan yang “menetes” ke kehidupan rumah tangga. Karena merasa aman di rumah, kita justru melampiaskan kelelahan itu pada orang terdekat.
Ironisnya, orang yang paling kita cintai justru menjadi korban dari stres yang tidak kita sadari.
Di rumah, kita merasa bebas — tapi sering kali kebebasan itu disalahartikan. Kita berpikir, “Ah, ini kan keluarga sendiri.” Akibatnya, kita bicara lebih keras, bereaksi lebih cepat, dan meluapkan emosi tanpa filter.
Padahal menurut penelitian Journal of Vocational Behavior (Huang et al., 2023), stres seseorang bisa menular ke pasangan melalui dinamika emosional yang disebut crossover effect. Jadi, ketika kita pulang dalam keadaan tegang, pasangan dan anak ikut “tertular” energi negatif itu.
Banyak orang tidak sadar kapan emosinya mulai menumpuk. Kita sibuk menekan rasa kecewa atau frustasi di luar, lalu tanpa disadari, amarah itu mencari “jalan keluar” di rumah.
Penelitian Journal of Contextual Behavioral Science (2023) menyebut bahwa kesulitan mengatur emosi berhubungan langsung dengan rusaknya fungsi keluarga. Ketika satu orang tidak mampu mengelola stres, atmosfer rumah ikut berubah — menjadi lebih panas dan tegang.
Regulasi emosi bukan sekadar “menahan marah”, tapi kemampuan memahami dan menenangkan diri sebelum bereaksi.
Kita bisa begitu sabar di luar karena ada “aturan sosial tak tertulis”: jangan kasar, jaga citra, tunjukkan profesionalitas. Tapi di rumah, aturan itu seolah hilang. Kita pikir, “di rumah nggak perlu pura-pura.”
Namun, penelitian Frontiers in Psychology (2021) justru menegaskan sebaliknya: pengendalian emosi paling penting justru dalam hubungan yang paling dekat. Karena di sanalah dampak emosional paling terasa.
1. Beri jeda sebelum pulang.
Luangkan 5–10 menit untuk menenangkan diri: dengarkan musik, tarik napas dalam, atau sekadar duduk diam di mobil. Ini cara sederhana agar stres kerja tidak “ikut masuk” ke rumah.
2. Kenali perasaanmu.
Tanyakan: “Apa yang sebenarnya saya rasakan?” Kesadaran diri adalah langkah pertama menuju keseimbangan emosional.
3. Gunakan bahasa lembut.
Daripada menyalahkan, gunakan kalimat berbasis “Saya”:
“Saya sedang lelah, boleh saya istirahat sebentar?”
Bahasa seperti ini menciptakan ruang empati, bukan pertengkaran.
4. Jadikan rumah zona pemulihan, bukan pelampiasan.
Rumah bukan tempat membuang amarah, tapi tempat mengembalikan ketenangan.
5. Bangun konsistensi karakter.
Keramahan sejati bukan tentang tempat, tapi tentang sikap yang utuh. Jika kita bisa sabar pada orang asing, mengapa tidak pada keluarga sendiri?
Menjadi pribadi yang menyenangkan di luar adalah hal hebat, tapi menjadi pribadi yang lembut di rumah — itulah yang benar-benar menunjukkan kedewasaan emosional.
Keluarga adalah cermin sejati diri kita.
Seperti kata pepatah modern, “Seseorang bisa berpura-pura di luar, tapi rumah selalu tahu siapa dirinya yang sebenarnya.”
Mari belajar menata ulang energi, menata ulang emosi, dan menata ulang cara kita mencintai.
Sebab kebahagiaan tidak dimulai dari luar, tapi dari dalam — dari rumah yang hangat dan hati yang tenang. (*)