Industri Manufaktur Didorong Capai Keberlanjutan Lewat Smart Industry 4.0

waktu baca 3 minutes
Kamis, 23 Okt 2025 17:56 0 Nazwa

JAKARTA | TD — Di tengah tuntutan global terhadap efisiensi, digitalisasi, dan pengurangan emisi karbon, sektor manufaktur Indonesia terus bertransformasi menuju industri yang cerdas dan berkelanjutan. Dorongan ini tak hanya menjadi kebutuhan adaptif, tetapi juga strategi untuk menjaga daya saing di pasar global yang semakin kompetitif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,60 persen (YoY) pada kuartal II 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,12 persen. Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga meningkat dari 16,72 persen pada kuartal II 2024 menjadi 16,92 persen di tahun ini. Angka tersebut memperkuat posisi industri manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Namun, di balik angka pertumbuhan yang menggembirakan, tantangan besar masih membayangi: bagaimana industri bisa tetap tumbuh tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Inilah yang menjadi latar belakang penguatan konsep Smart Industry 4.0, sebuah pendekatan yang memadukan teknologi digital, otomatisasi, dan efisiensi energi untuk menciptakan pabrik masa depan yang tangguh.

“Keberlanjutan menjadi kunci stabilitas industri. Dua aspek utamanya adalah penerapan teknologi dan inovasi yang mendukung efisiensi operasional pabrik,” ujar Ivan Ferdyan, Manager Factory Automation Sales PT Mitsubishi Electric Indonesia, di sela kegiatan seminar Driving Sustainable Stability by Enhancing Smart Industry 4.0 di Bandung, Selasa (21/10/2025).

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi tentang apakah industri perlu berubah, tetapi seberapa cepat dan efektif transformasi itu dapat dilakukan. Melalui penerapan Smart Industry 4.0, pelaku industri dapat mencapai keseimbangan antara produktivitas, efisiensi energi, dan tanggung jawab lingkungan — sekaligus mendukung target nasional Net Zero Emission (NZE) 2060.

Mitsubishi Electric Indonesia menyoroti dua aspek penting dalam strategi transformasi ini. Pertama, sustainability dan implementasinya di pabrik, yang meliputi riset dan pengembangan produk ramah lingkungan serta penghematan energi melalui sistem pemantauan cerdas (Energy Monitoring System). Kedua, peningkatan Smart Industry 4.0, dengan solusi seperti kerangka kerja Smart Manufacturing Kaizen Level (SMKL) dan konsep e-F@ctory, yang memadukan otomatisasi, analisis data, dan sistem kendali terintegrasi.

Seminar di Bandung dan Tangerang tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai sektor industri — otomotif, makanan & minuman, elektronik, kertas, plastik, farmasi, hingga tekstil. Selain berbagi pengalaman, kegiatan ini juga menjadi ajang kolaborasi antarindustri untuk memperkuat daya saing nasional.

“Transformasi digital bukan sekadar penggantian mesin dengan teknologi baru, tapi bagaimana menciptakan dampak nyata bagi bisnis dan lingkungan,” tambah Ivan.

Sebagai bagian dari roadshow nasional Mitsubishi Electric, kegiatan serupa akan digelar di berbagai kota industri lainnya. Program ini juga sejalan dengan agenda pemerintah Making Indonesia 4.0, yang menargetkan akselerasi manufaktur menuju digitalisasi penuh.

Dengan dukungan inovasi teknologi seperti Inverter D800 Series, PLC MX Series, Servo MR-J5 Series, Industrial Robot CRH Series, serta perangkat lunak digital MELSOFT Gemini, Vixio, MaiLab, dan SCADA GENESIS64, Mitsubishi Electric optimistis mampu menjadi mitra strategis industri Indonesia dalam mewujudkan pabrik cerdas dan hijau di masa depan. (*)

LAINNYA