7 Dekade SEMMI: Meneguhkan Khitah Ideologi dan Kedaulatan Ekonomi Organisasi

waktu baca 5 minutes
Rabu, 18 Mar 2026 13:39 0 Nazwa

OPINI | TD — Tujuh puluh tahun silam, tepatnya pada 2 April 1956 di Jakarta, sebuah obor perjuangan dinyalakan oleh para intelektual muda Muslim di bawah panji Syarikat Islam. Lahirnya Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) bukanlah kebetulan sejarah, melainkan jawaban atas kebutuhan zaman: hadirnya wadah kaderisasi yang mampu menyelaraskan iman, ilmu, dan amal dalam bingkai keindonesiaan.

Seiring perjalanan waktu, SEMMI menjelma menjadi kawah candradimuka—tempat ditempanya kader-kader yang tidak hanya tajam dalam nalar, tetapi juga kokoh dalam sikap dan keberpihakan. Ia bukan sekadar organisasi, melainkan ruang pembentukan karakter dan kesadaran ideologis.

Memasuki usia tujuh dekade, kita tidak boleh larut dalam romantisme masa lalu. Sejarah besar bukan untuk dikenang semata, tetapi untuk diterjemahkan menjadi energi baru dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.

Ajaran H.O.S. Tjokroaminoto tetap relevan hingga hari ini: setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, dan sepandai-pandai siasat adalah fondasi perjuangan. Nilai ini harus hidup dalam setiap denyut pengaderan—dari tingkat nasional hingga komisariat kampus.

Kekuatan organisasi tidak terletak pada gemerlap seremonial, tetapi pada ketajaman ideologi kadernya. Bung Karno pernah mengingatkan bahwa ideologi adalah senjata perjuangan—dan senjata yang tumpul hanya akan melemahkan gerakan.

Bagi SEMMI, ideologisasi bukan sekadar doktrin, melainkan proses penyadaran. Bahwa mahasiswa tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki keberpihakan yang jelas kepada kaum mustad’afin—mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Tanpa itu, gerakan mahasiswa hanya akan menjadi kerumunan tanpa arah.

Dalam lintasan sejarah, Arudji Kartawinata telah memberi teladan bahwa organisasi adalah alat perjuangan, bukan tujuan akhir. Kesahajaan beliau justru melahirkan visi yang melampaui zamannya.

Pelajaran ini menjadi sangat penting di tengah maraknya pragmatisme politik hari ini. Pengaderan SEMMI harus mampu melahirkan kader yang tangguh—tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat, dan tidak mudah dibeli oleh kenyamanan jangka pendek.

Namun, ideologi yang kokoh akan sulit berdiri tegak jika bertumpu pada fondasi ekonomi yang rapuh.

Di sinilah pentingnya kemandirian ekonomi organisasi dan kader. Mohammad Hatta telah menegaskan bahwa kemerdekaan sejati hanya dapat dicapai melalui kemandirian ekonomi. SEMMI hari ini harus berani keluar dari ketergantungan, terutama pada sumber daya eksternal yang sering kali membawa kepentingan tersembunyi.

Kemandirian ekonomi bukan sekadar kebutuhan teknis, tetapi benteng ideologis.

Sejarah Syarikat Islam yang berakar dari Syarikat Dagang Islam (SDI) menjadi bukti bahwa gerakan ini memiliki DNA kewirausahaan sejak awal. Sudah saatnya SEMMI menghidupkan kembali semangat itu dengan mendorong kader menjadi sociopreneur—pelaku usaha yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan dampak sosial.

Kader yang mandiri secara ekonomi tidak mudah diintervensi. Organisasi yang mandiri tidak mudah dibungkam.

Di Jakarta Raya sebagai episentrum pergerakan nasional, tantangan ini semakin nyata. Arus ekonomi global bergerak cepat dan kompetitif. Jika kita tidak mampu membangun ekosistem ekonomi internal, maka kita hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri.

Karena itu, penguatan UMKM kader, pembangunan jejaring bisnis alumni, serta optimalisasi aset organisasi harus menjadi bagian dari peta jalan menuju SEMMI yang berdaulat secara ekonomi.

Kita juga perlu belajar dari ketangguhan sejarah. Pada masa kebijakan NKK/BKK di era Orde Baru, ketika gerakan mahasiswa dibatasi, SEMMI tetap bertahan karena memiliki akar sosial yang kuat.

Hari ini, tantangan berubah bentuk: disrupsi digital. Maka pengaderan harus bertransformasi—tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi juga merambah ruang digital tanpa kehilangan ruh ideologinya.

Setiap kader SEMMI adalah calon pemimpin masa depan. Namun, pemimpin tanpa karakter adalah bencana bagi bangsa. Karakter hanya dapat dibentuk melalui proses pengaderan yang disiplin dan berjenjang.

Kita ingin melahirkan kader yang mampu berdialektika di ruang akademik dengan kedalaman analisis, sekaligus hadir di tengah masyarakat dengan kepekaan sosial. Perpaduan antara kecerdasan intelektual dan keberpihakan sosial adalah identitas yang harus terus dijaga.

Milad ke-70 SEMMI pada 2 April 2026 harus menjadi momentum refleksi sekaligus konsolidasi. Sebuah “audit ideologis” perlu dilakukan: sejauh mana nilai-nilai perjuangan telah dihidupkan? Sejauh mana kontribusi nyata telah diberikan kepada umat dan bangsa?

Jangan sampai usia 70 tahun hanya menjadi angka tanpa makna.

Buya Hamka pernah berkata bahwa tugas kita bukan untuk memastikan keberhasilan, melainkan untuk terus berikhtiar. Dalam ikhtiar itulah, peluang keberhasilan akan terbuka. Semangat ini harus menjadi napas dalam membangun kemandirian ekonomi organisasi.

Jangan takut gagal dalam merintis usaha. Jangan malu memulai dari bawah. Karena kedaulatan ekonomi adalah bentuk jihad kita hari ini.

Kemandirian juga berarti kebebasan berpikir. SEMMI tidak boleh menjadi pengikut arus, tetapi harus menjadi pelopor. Gerakan ini harus mampu menghadirkan gagasan-gagasan solutif terhadap berbagai persoalan bangsa—dari isu lingkungan, kebijakan publik, hingga tata kelola pemerintahan—dengan perspektif keadilan sosial.

Sebagai pimpinan wilayah di jantung Indonesia, SEMMI Jakarta Raya memiliki tanggung jawab strategis sebagai motor penggerak. Tata kelola organisasi yang modern harus dipadukan dengan nilai-nilai tradisional yang luhur.

Koordinasi yang solid dan komunikasi yang hidup menjadi kunci agar setiap program kerja tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan dampak nyata.

Akhirnya, mari kita sambut usia ke-70 SEMMI dengan penuh kesadaran dan keyakinan. Kita bukan sekadar pewaris sejarah, tetapi pelanjut perjuangan.

Tujuh dekade SEMMI adalah kisah tentang keteguhan, keberanian, dan pengabdian—dalam membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia demi terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.

Dengan semangat fastabiqul khairat, mari kita terus berlomba dalam kebaikan dan memberikan dedikasi terbaik bagi organisasi, umat, dan bangsa.

Penulis: YantoKetua PW SEMMI Jakarta Raya. (*)

LAINNYA